IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

BUKITTINGGI, DESTINASI POSITIF SUMATERA BARAT. Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 1:49 pm

Kota Bukittinggi sebagai  tujuan  wisata utama di Sumatera Barat, menurut  Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik masih lebih baik dibandingkan beberapa tujuan  wisata utama lainnya di Indonesia.

“Kalau Bali, Destinasi Wisata paling positif, sementara Bukittinggi positif, Borobudur kurang positif satu dan Prambanan, kurang positif dua.” Kata Jero Wacik, kepada wartawan yang hadir dalam jumpa pers  usai membuka Sumatera Internasional Travel Fair, SITF di Hotel Bumi Minang Padang (31 Mei 2008 ).

Bali mendapat penghargaan sebagai  Destinasi Paling positif, karena  Wisatawan yang datang berkunjung ke Pulau Deawata tersebut  umumnya memberikan tanggapan positif terutama menyangkut pelayanan yang didapat.

“Setiap orang , siapapun dia kalau ditawarkan untuk berkunjung ke Bali pasti bersemangat. Anak Saya , kalau mendengar saya akan ke Bali , langsung ingin ikut. Tidak pernah bosan. Kalau di ajak ke kunjungan ke daerah lain, termasuk Sumatera , masih belum mau, “ ujar Jero.

Sudah Seharusnya daerah lain , terutama  daerah-daerah yang sudah ditetapkan sebagai destinasi unggulan untuk menirunya. Jangan Menjadi Destinasi Nol, turis datang, ketika pulang tidak membawa kenangan apa-apa sehingga tidak tertarik untuk kembali lagi.

Atau menjadi destinasi negative. Turis tidak mau lagi kembali ke destinasi yang dikunjunginya karena kecewa, sudah pelayanan buruk,  ditipu pula oleh pelaku wisata dan masyarakatnya.

“ Mentang-mentang turis, harga kelapa muda jadi naik, atau ketika belanja souvenir, harga sudah disepakati 5 dollar, barang yang dibeli diganti ketika di bungkus. Ini jangan terjadi lagi, tegas Jero Wacik.

 Pada kesempatan ini Jero Wacik meminta kalangan pers untuk membantu menwujudkan semua destinasi wisata menjadi  destinasi positif. ( Anita )

 

BERWISATA HERITAGE DI KOTA BEKAS TAMBANG, SAWAHLUNTO. Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 1:48 pm

Sawahlunto memang layak diperhitungkan sebagai salah satu daerah tujuan  wisata utama di Sumatera Barat. Ketika  kabupaten dan kota lainnya di Ranah Minang terlena dengan hanya mengandalkan potensi alamnya  sebagai daya tarik wisata, Sawahlunto justru lebih menfokuskan pada heritagenya.

Dalam jamuan makan malam  dengan peserta Sumatera  Internasional Travel Fair, SITF 2008, ( Sabtu, 31 Mei 2008 ) Walikota Sawahlunto, Amran Nur  menyatakan banyak  sekali bangunan-bangunan bersejarah terutama yang berkaitan dengan warisan pertambangan batu bara, yang layak untuk dikunjungi

Beberapa diantaranya, : Rumah  Walikota, The Mayor House , dibangun tahun 1920 sebagai  Rumah Asisten Residen  dan sekarang dijadikan  sebagai Rumah Dinas Walikota Sawahlunto .

Mesjid Agung Nurul  Islam, Agung  Nurul Islam Mosque,  Bangunan  ini dahulunya  merupakan  Sentral Listrik ( PLTU )  yang dibangun pada  tahun 1894. Namun pada  tahun 1924 bangunan ini tidak lagi menjadi PLTU  karena PLTU tersebut  di pindahkan ke Salak. Dibawah bangunan ini terdapat  bungker yang dipergunakan  oleh para  pejuang kemerdekaan  sebagai gudang senjata seperti  granat dan senjata lainnya. Pada tahun 1930-an barulah bangunan  ini dijadikan sebagai sebuah  mesjid dengan nama Mesjid  Agung Nurul  Islam.

Mes Bujangan ( W-I ), dibangun tahun 1915 sebagai Mess untuk  pegawai  tambang  batubara asal  Belanda yang masih bujangan.

Bank BRI, Bangunan ini dulunya merupakan Gedung Komedi  yang didirikan  pada tahun 1917 dan juga pernah digunakan  sebagai kantor Pajak dan Pengadaian . Museum dan sekarang menjadi  Bank BRI Kota sawahlunto.

Museum Kereta Api, Bangunan ini dulunya sampai sekarang bernama  Rumah Pek Sin Kek yang dibangun tahun  1906 dan pernah digunakan  sebagai Gedung Teater, Tempat Perhimpunan  Masyarakat Melayu dan sebagai  Pabrik Es. Sekarang rumah ini berfungsi sebagai  Souvenir Shop.

Gedung Pusat Kebudayaan, Gedung ini  dibangun  Tahun 1910 dengan nama Gluck Auf, sebagai Gedung Pertemuan atau tempat Pejabat Kolonial Berkumpul,  Minum, Berdansa  dan Bernyanyi. Bangunan ini juga pernah  menjadi rumah Bola yang dipergunakan  sebagai tempat bermain bola bowling, dan gedung Societies tempat Pejabat Kolonial mengadakan pertemuan. Setelah  kemerdekaan  menjadi  Gedung Pertemuan Buruh, dan  pernah juga menjadi  Bank Dagang  Negara (BDN ). Pada tanggal 1 Desember  2006 Gedung ini diresmikan  sebagai  Gedung  Pusat  Kebudayaan.

Wisma Ombilin, Bangunan ini dibangun  tahun 1918 dengan  nama Hotel Ombilin, pernah mengalami  perubahan  fungsi  antara lain :

-          Tahun 1945-1949 sebagai asrama tentara  Belanda.

-          Tahun  1970-an sebagai  Kantor  Polisi Militer  Kotamadya Sawahlunto.

-          Sekarang sebagai  Wisma Ombilin, tempat menginap  tamu-tamu yang datang ke Sawahlunto.

Sekolah Santa Lucia, dibangun tahun 1920-an, sebagai Sekolah  Dasar  Santa Lucia. Bangunan  ini juga  pernah dipergunakan sebagai  Asrama  Tentara,  Sekolah Islam dan kantor Agama.

 

Koperasi PT. BA-UPO, Bangunan  ini dibangun  tahun 1920 dengan nama “ Koperasi Ons  Belang “ sebagai koperasi  tempat memenuhi kebutuhan  orang-orang Eropa dan Indo-Eropa. Gedung  ini juga pernah berfungsi  sebagai  Asrama  dan Kantor BEKA ( Badan Ekonomi Kota Arang ).

Kantor PT. BA-UPO,  Dibangun  Tahun 1916 dengan nama “ Ombilin  Meinen “ berfungsi  sebagai Kantor Pertambangan  PT. BA-UPO.

Museum Goedang Ransoem, Bangunan Museum  Goedang  Ransoem ini didirikan  pada tahun 1918 dan berfungsi  sebagai  dapaur umum tempat  memasak  makanan dan memenuhi  kebutuhan  makanan bagi pekerja  tambang dan RSU Sawahlunto yang berjumlah ribuan. Namun setelah kemerdekaan  bangunan ini  mengalami beberapa  peralihan fungsi antara lain : ( 1945-1950 ), sebagai  tempat memasak makanan  bagi tentara ( TKRI ), ( 1950-1960) Sebagai  tempat penyelenggaraan  administrasi bagi kepentingan  Perusahaan tambang Batu Bara, ( 1960-1970) sebagai tempat pendidikan formal  setingkat  Sekolah Menengah Pertama  ( SMP  Ombilin ) , ( 1970-1980 ) berfungsi sebagai tempat hunian karyawan Tambang Batubara Ombilin , ( 1980-1984 )  Berfungsi sebagai  tempat hunian karyawan Tambang batu bara  Ombilin dan juga masyarakat  Kota Sawahlunto dan juga masyarakat  Kota Sawahlunto, ( 2004-2005), Bangunan ini direvitalisasi dan pada  tanggal 17 Desember 2005 diresmikan  sebagai Museum Goedang Ransoem.

Rumah Potong, dibangun pada  tahun 1918 sebagai  tempat memotong hewan untuk memenuhi  kebutuhan daging di Dapur Umum.

Kawasan Saringan, Didirikan pada tahun 1900-an. Di Kawasan inilah  batubara diproses sebelum dibawa ke Teluk Bayur dengan menggunakan  gerbong kereta api.

Kantor Polisi, Bangunan ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1920 sebagai kantor Polisi dan rumah tahanan untuk menampung para pekerja tambang  batubara yang divonis dengan hukuman kurung, dan sekarang berfungsi  sebagai  Kantor Kapolsek Kota Sawahlunto.

Lobang Tambang Mbah Soero, mulai digali tahun 1898. Dikerjakan oleh Orang Rantai  dengan Mandor Mbah Soero. Merupakan  lubang tambang batubara pertama di patahan Soegar. Ditutup  sebelum tahun 1930 karena tingginya  rembesan air. Lubang ini dibuka kembali  tahun 2007 dan dijadkan  sebagai objek wisata  dengan nama “ Lobang  Tambang Mbah Soero.”   

( Anita )

 

MENBUDPAR BUKA SUMATERA INTERNATIONAL TRAVEL FAIR DAN KONGRES I TOUR GUIDE SE ASIA TENGGARA DI PADANG Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 1:47 pm

Mentri kebudayaan dan Pariwisata ( Menbudpar) Jero Wacik pagi ini membuka Sumatera International Travel fair 2008 (SITF) berlangsung mulai 30 mei hingga 1 Juni di hotel Bumi Minang Padang  Sumatera Barat.Pada kesempatan ini menbudpar juga akan membuka kongres pertama asosiasi Pramuwisata se- Asia tenggara ( The 1 st Congress of Sout East Tour Guide Association / SEATGA ).

SITF yang merupakan subregional event dari hasil kerjasama Negara kawasan segitiga pertumbuhan : Indonesia, Malaysia , dan Thailand (IMT-GT) ini akan diikuti oleh 44 buyers dari 9 negara ( belgia, Czech republic, Perancis, Belanda,Slovenia,Jerman,India,China, dan Indonesia ) serta 19 sellers dari 4 negara ( Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia ).

Kegiatan SITF sebagai upaya untuk mempromosikan pariwisata nasional, khusunya sumatera, sekaligus dalam mendukunug suksesnya Visit Indonesia Year 2008 yang mentargetkan 7 juta kunjungan wisata mancanegara. Penyelenggara event ini merupakan hasil kerjasama Depbudpar, Dinas Budpar Provinsi Sumbar, dan Badan pariwisata Sumatera Utara.

Penyelenggara SITF yang mengambil tema “Adventure” itu diharapkan akan mendorong pergerakan wisatawan antar-regional khusunya wisman di kawasan segitiga pertumbuhan IMT-GT. Event ini juga menjadi ajang promosi sekaligus mengangkat citra Indonesia termasuk pariwisata sumatera sebagai destinasi adventure kelas dunia.

Menbudpar Jero Wacik mengatakan kegiatan SITF 2008 dan SEATGA di Padang ini merupakan  bagian dari MICE ( Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition ) yang mempunyai multiflier effect besar terutama bagi daerah dalam rangka mensejahterakan masyarakat melalui kegiatan pariwisata, pemerintah akan terus mendorong kegiatan MICE di berbagai daerah ditanah air, untuk ini harus ada dukungan dari pemerintah daerah, industri pariwisata, dan masyarakat ,”katanya”

 

SIARAN PERS SITF 2008 Padang Sumatera Barat 30 Juni 2008 Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 1:46 pm

Sebagai salah satu upaya mempromosikan kepariwisataan Indonesia pada umumnya, khususnya Sumatera dan menyuseskan “Visit Indonesia Year 2008”, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata secara bersama-sama Propinsi Sumatera Barat dan Badan Pariwisata Daerah Sumatera Utara menyelenggarakan Sumatera International Travel Fair yang akan berlangsung pada tanggal 30 Mei s.d 1 Juni 2008 bertempat di Hotel Bumi Minang, Padang, Sumatera Barat.

 

Sumatera International Travel Fair (SITF) merupakan subregional event yang berkembang dari hasil kerjasama antara negara-negara IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand – Growth Triangle) untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari kawasan regional dan internasional.  Tujuan penyelenggaraan event ini adalah:

 

1.    Mendorong pergerakan wisatawan antar regional;

2.    Menjaga dan mempromosikan citra Sumatera sebagai destinasi “adventure”;

3.    Mempromosikan Sumatera sebagai daerah yang aman, nyaman dan menarik

4.    Meningkatkan citra pariwisata Sumatera khususnya dan Indonesia pada umumnya

 

Perkembangan pariwisata Indonesia menunjukkan gejala menggembirakan, melihat kenyataan bahwa jumlah wisatawan yang melakukan perjalanan dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan.  Memasuki era baru pemerintah yang demokratis, dan sejalan dengan harapan pasar serta para stakeholders pariwisata, pemerintah pada tahun 2008 telah menetapkan program “Visit Indonesia Year 2008”. Program yang menciptakan dan  mengakomodir serta mempromosikan lebih dari 100 event yang tersebar di 30 propinsi di Indonesia ini diharapkan mampu mendongkrak pencapaian target 7 juta wisman. Indikasi tersebut mulai terlihat dari data perkembangan jumlah wisatawan ke Indonesia Januari sampai dengan bulan Maret 2008 melalui 15 pintu masuk dan pintu lainnya yang mengalami kenaikan sebesar 15,68% dibanding dengan periode yang sama tahun 2007, sebagaimana data terlampir.

 

Sumatera International Travel Fair 2008 dengan mengangkat tema “adventure”   diikuti oleh 44 buyers dari 9 negara yaitu, Belgia, Czech Republik, Perancis, Netherlands, Slovakia, Jerman, India, China, Indonesia dan 19 sellers dari 4 negara yaitu, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Adapun kegiatan SITF meliputi : pembukaan, konferensi pres, seminar pariwisata, table top, Mitha’s gathering, pameran dan pertunjukan kesenian.  Dalam penyelenggaraan kegiatan ini ditargetkan akan dikunjungi oleh 500 orang dan terjadi kontak maupun kontrak bisnis antara buyers dan selers.

Melalui penyelenggaraan Sumatera International Travel Fair 2008 diharapkan memberikan dampak yang bermanfaat dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Sumatera Barat khususnya dan Sumatera pada umumnya.  

 

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan dalam perolehan devisa, mempunyai multiflier effect yang cukup besar bagi sektor formal maupun informal, yang dapat secara optimal menyejahterakan rakyat. Hal ini tentunya memberikan peluang dan sekaligus tantangan bagi  seluruh stakeholder yang terkait dengan sektor pariwisata untuk berperan serta dalam pembangunan kepariwisataan nasional melalui penciptaan lapangan kerja, kesempatan berusaha dan mensejahterakan masyarakat luas.

 

MENBUDPAR OPTIMIS TARGET 7 JUTA WISATAWAN ASING TEREALISASI DALAM VISIT INDONESIA YEAR 2008 Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 1:35 pm

Menteri Kebuadayaan dan Pariwisata RI, Jero  Wacik meminta seluruh pihak mendukung Visit Indonesia Year 2008.

 “Asal keamanan stabil, tidak ada Bom atau gangguan Pilkada, saya optimis target 7 juta wisatawan asing akan terealisasikan sampai akhir tahun. Dimusim paceklik, Januari sampai dengan Maret lalu saja, rata-rata kenaikan 15 % dibandingkan periode yang sama  tahun lalu.” Jelas Jero Wacik kepada wartawan dalam jumpa pers usai membuka Sumatera Internasional Travel Fair 2008 di Hotel Bumi Minang Padang ( 31 Mei 2008 ).

Masih menurut Jero Wacik, jika kenaikan rata-rata 15 % ini dapat dipertahankan, artinya pada akhir tahun 2008 nanti, wisatawan asing yang dating ke Indonesia 6,6 juta orang. Sisa 400.000 wisatawan lainnya akan direalisasikan melalui berbagai iven yang digelar.

“Dari SITF 2008, saya optimis akan terjadi penambahan wisman yang berkunjung, begitu juga dari beberapa iven lainnya “ kata Jero Wacik.

Pencabutan Travel Warning ke Indoensia   oleh Pemerintah  Amerika Serikat, 23 Mei 2008 lalu diharapkan juga akan membawa dampak positif.

“ Akibat Travel Warning, tidak ada satupun perusahaan – perusahaan besar Amerika seperti Exxon Oil  dll, yang mengelar kegiatan di Indonesia.Dengan pencabutan ini, akan banyak iven  perusahaan besar Negara adidaya tersebut yang digelar. Begitu  juga dengan , Negara-negara lain yang masih ragu dengan kondisi keamanan Indonesia, akan berubah sikap” ujar Jero Wacik.

Terkait masih adanya larangan bagi penerbangan Indonesia oleh Negara-negara di Eropa, menurut Jero Wacik, pihaknya telah mendesak Menteri terkait untuk segera memperjuangkan  pencabutan larangan tersebut.

“ Saya sudah uber-uber Menteri Perhubungan untuk memperbaiki penerbangan kita, terutama menyangkut masalah keamanannya. Saya Juga sudah minta Menteri Perhubungan untuk  membuka Rute-rute baru  dari luar negeri, terutama dari Negara Timur tengah.    ( Anita )

 

SITF 2008 Mei 31, 2008

Diarsipkan di bawah: Tulisan Lepas — iuukp @ 9:15 am

SITF 2008

Rhenald Kasali: Pariwisata Kita

Perlu Perubahan

Tidak seperti sangkaan banyak orang, pariwisata itu bukan hanya memanfaatkan warisan leluhur dana apa yang ada saja. Marketing itu sama dengan perubahan. Dan untuk Indonesia, sektor pariwisatanya butuh perubahan mendasar dari level yang paling bawah.

Demikian disampaikan Rhenald Kasali, motivator yang ikut menjadi pembicara pada Tourism Forum, rangkaian acara Sumatera International Travel Fair, Sabtu (31/5). “Harus disadari, kalau sektor pariwisata memiliki dampak yang sangat bagus. Keuntungannya bisa dirasakan orang banyak. Makanya penanganannya pun harus lebih baik dan dikemas dengan baik pula,” kata Rhenald.

Kesalahan selama ini, pariwisata dianggap sebagai warisan alam saja. Padahal sekarang ini, pariwisata perlu dikemas dan dicari hal-hal yang baru. Belajar dari Malaysia, sektor pariwisatanya maju karena mereka selalu menemukan inovasi-inovasi dalam menarik kunjungan wisatawan.  Rumah sakit misalnya, banyak orang Indonesia yang berobat ke Malaysia karena mereka dengan kemasan yang bagus.

Untuk kawasan Sumatera ada banyak potensi wisata yang bisa dijual. Sepanjang pulau dari utara ke selatan punya potensi eco-tourism. “Banyak paket yang bisa dijual di sini. Wisatawan manca negara itu sudah biasa melihat gedung-gedung tingi, maka kita jual keindahan alam dan interaksi mereka dengan masyarakat lokal. Beri mereka kesempatan  untuk  merasakan asiknya memetik daun the, dan merasakan langsung wanginya daun the itu. Segala kegiatan lokal bisa saja kita manfaatkan,” jelas Rhenald.

Untuk memulai perubahan itu, Rhenald mengatakan harus diawali dengan pengemasan produk dengan bagus. Jangan jual keindahan alam dengan apa adanya. Suguhkan mereka dengan paket-paket menarik di tiap objel wisata. Kemudian, yang harus diubah adalah pikiran manusia di dalamnya.

Penyelesaian wisata itu butuh sinergi dan komunikasi yang erat dari berbagai pihak. Melepaskan diri dari persoalan pariwisata yang ibarat benang kusut harus disikapi dengan menggali ide dari bawah atau bottom up.

“Untuk promosi itu dilakukan secara nasional. Untuk mengemas produknya itu dimulai dari tingkat kabupaten hingga kelurahan. Di tingkat kabupaten dan kelurahan itu juga perlu dilakukan pelatihan bagi masyarakat sehingga masyarakat jadi paham apa yang seemstinya mereka lakukan,” saran Rhenald.(hen)