Sawahlunto memang layak diperhitungkan sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Sumatera Barat. Ketika kabupaten dan kota lainnya di Ranah Minang terlena dengan hanya mengandalkan potensi alamnya sebagai daya tarik wisata, Sawahlunto justru lebih menfokuskan pada heritagenya.
Dalam jamuan makan malam dengan peserta Sumatera Internasional Travel Fair, SITF 2008, ( Sabtu, 31 Mei 2008 ) Walikota Sawahlunto, Amran Nur menyatakan banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah terutama yang berkaitan dengan warisan pertambangan batu bara, yang layak untuk dikunjungi
Beberapa diantaranya, : Rumah Walikota, The Mayor House , dibangun tahun 1920 sebagai Rumah Asisten Residen dan sekarang dijadikan sebagai Rumah Dinas Walikota Sawahlunto .
Mesjid Agung Nurul Islam, Agung Nurul Islam Mosque, Bangunan ini dahulunya merupakan Sentral Listrik ( PLTU ) yang dibangun pada tahun 1894. Namun pada tahun 1924 bangunan ini tidak lagi menjadi PLTU karena PLTU tersebut di pindahkan ke Salak. Dibawah bangunan ini terdapat bungker yang dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai gudang senjata seperti granat dan senjata lainnya. Pada tahun 1930-an barulah bangunan ini dijadikan sebagai sebuah mesjid dengan nama Mesjid Agung Nurul Islam.
Mes Bujangan ( W-I ), dibangun tahun 1915 sebagai Mess untuk pegawai tambang batubara asal Belanda yang masih bujangan.
Bank BRI, Bangunan ini dulunya merupakan Gedung Komedi yang didirikan pada tahun 1917 dan juga pernah digunakan sebagai kantor Pajak dan Pengadaian . Museum dan sekarang menjadi Bank BRI Kota sawahlunto.
Museum Kereta Api, Bangunan ini dulunya sampai sekarang bernama Rumah Pek Sin Kek yang dibangun tahun 1906 dan pernah digunakan sebagai Gedung Teater, Tempat Perhimpunan Masyarakat Melayu dan sebagai Pabrik Es. Sekarang rumah ini berfungsi sebagai Souvenir Shop.
Gedung Pusat Kebudayaan, Gedung ini dibangun Tahun 1910 dengan nama Gluck Auf, sebagai Gedung Pertemuan atau tempat Pejabat Kolonial Berkumpul, Minum, Berdansa dan Bernyanyi. Bangunan ini juga pernah menjadi rumah Bola yang dipergunakan sebagai tempat bermain bola bowling, dan gedung Societies tempat Pejabat Kolonial mengadakan pertemuan. Setelah kemerdekaan menjadi Gedung Pertemuan Buruh, dan pernah juga menjadi Bank Dagang Negara (BDN ). Pada tanggal 1 Desember 2006 Gedung ini diresmikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan.
Wisma Ombilin, Bangunan ini dibangun tahun 1918 dengan nama Hotel Ombilin, pernah mengalami perubahan fungsi antara lain :
- Tahun 1945-1949 sebagai asrama tentara Belanda.
- Tahun 1970-an sebagai Kantor Polisi Militer Kotamadya Sawahlunto.
- Sekarang sebagai Wisma Ombilin, tempat menginap tamu-tamu yang datang ke Sawahlunto.
Sekolah Santa Lucia, dibangun tahun 1920-an, sebagai Sekolah Dasar Santa Lucia. Bangunan ini juga pernah dipergunakan sebagai Asrama Tentara, Sekolah Islam dan kantor Agama.
Koperasi PT. BA-UPO, Bangunan ini dibangun tahun 1920 dengan nama “ Koperasi Ons Belang “ sebagai koperasi tempat memenuhi kebutuhan orang-orang Eropa dan Indo-Eropa. Gedung ini juga pernah berfungsi sebagai Asrama dan Kantor BEKA ( Badan Ekonomi Kota Arang ).
Kantor PT. BA-UPO, Dibangun Tahun 1916 dengan nama “ Ombilin Meinen “ berfungsi sebagai Kantor Pertambangan PT. BA-UPO.
Museum Goedang Ransoem, Bangunan Museum Goedang Ransoem ini didirikan pada tahun 1918 dan berfungsi sebagai dapaur umum tempat memasak makanan dan memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang dan RSU Sawahlunto yang berjumlah ribuan. Namun setelah kemerdekaan bangunan ini mengalami beberapa peralihan fungsi antara lain : ( 1945-1950 ), sebagai tempat memasak makanan bagi tentara ( TKRI ), ( 1950-1960) Sebagai tempat penyelenggaraan administrasi bagi kepentingan Perusahaan tambang Batu Bara, ( 1960-1970) sebagai tempat pendidikan formal setingkat Sekolah Menengah Pertama ( SMP Ombilin ) , ( 1970-1980 ) berfungsi sebagai tempat hunian karyawan Tambang Batubara Ombilin , ( 1980-1984 ) Berfungsi sebagai tempat hunian karyawan Tambang batu bara Ombilin dan juga masyarakat Kota Sawahlunto dan juga masyarakat Kota Sawahlunto, ( 2004-2005), Bangunan ini direvitalisasi dan pada tanggal 17 Desember 2005 diresmikan sebagai Museum Goedang Ransoem.
Rumah Potong, dibangun pada tahun 1918 sebagai tempat memotong hewan untuk memenuhi kebutuhan daging di Dapur Umum.
Kawasan Saringan, Didirikan pada tahun 1900-an. Di Kawasan inilah batubara diproses sebelum dibawa ke Teluk Bayur dengan menggunakan gerbong kereta api.
Kantor Polisi, Bangunan ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1920 sebagai kantor Polisi dan rumah tahanan untuk menampung para pekerja tambang batubara yang divonis dengan hukuman kurung, dan sekarang berfungsi sebagai Kantor Kapolsek Kota Sawahlunto.
Lobang Tambang Mbah Soero, mulai digali tahun 1898. Dikerjakan oleh Orang Rantai dengan Mandor Mbah Soero. Merupakan lubang tambang batubara pertama di patahan Soegar. Ditutup sebelum tahun 1930 karena tingginya rembesan air. Lubang ini dibuka kembali tahun 2007 dan dijadkan sebagai objek wisata dengan nama “ Lobang Tambang Mbah Soero.”
( Anita )
Komentar Terakhir