IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Riak Halus Danau Maninjau Mei 16, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 5:09 am

Ketenangan Air Danau Maninjau, mampu membuat damai pikiran yang sedang bermasalah. Air yang sesekali beriak kecil, menjadi irama alam yang membius. Setiap mata yang menatap sampai ke ujung bukit, akan merasakan getar indah nyanyian alam.

Desauan lembut angin gunung, yang juga ditingkah oleh lompatan ikan bilih, menambah indah suasana alam. Apalagi dengan kejernihan air danau, menjadi jaminan akan kompaknya penduduk sekitar, menjaga kebersihan dan keindahan danau.

Jika anda masyarakat pantai yang sudah jenuh dengan suara riak ombak laut, maka Danau Maninjau bisa jadi pilihan untuk bersantai. Suasana yang jelas berbeda, akan menjadi irama tersendiri dalam masa kunjungan anda.

Seperti laut luas, di tengah Danau maninjau juga ada pulau kecil. Oleh penduduk setempat, Danau Maninjau adalah sumber penghasilan. Selain menangkap ikan bilih, mereka juga mengantungkan periuk nasinya dari langkitang dan lokan kecil bernama pensi.

Di sekitaran Danau Maninjau akan banyak ditemui nelayan lokal, yang menangkap ikan dengan cara tradisional. Selain itu, juga ada tambak ikan, yang sebagiannya berbentuk jala apung.

Agar lebih asyik selama berada di Danau Maninjau, baiknya menatap riak tenang Danau Maninjau sambil memakan pensi. Pensi yang merupakan kerang air tawar berukuran kecil, berkulit hitam atau agak kuning itu, sangat enak dijadikan cemilan.

Pensi Maninjau sudah terkenal kemana-mana. Jadi jika anda tidak makan pensi selama kunjungan ke Maninjau, berarti belum lengkap berkunjung ke danau yang juga jadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Maninjau.

Agar anda tidak usah dipusingkan dengan masalah harga, baiknya dibeli langsung sesuai keinginan hati anda. Misalkan saja dengan uang Rp1.000 sampai Rp2.000, anda sudah dijamin puas dengan rasa pensi.

Pensi di tempat ini, tidak seperti yang dijual di tempat lain. Cangkangnya sangat jarang yang terbuka, sehingga butuh usaha untuk makan dagingnya. Selain itu, juga ada taburan bawang goreng, agar rasanya lebih enak.

Jika sudah puas makan pensi, maka cobalah naik perahu boat, untuk mengelilingi Danau Maninjau. Harga satu kali naik, tergantung pada nego anda dengan yang empunya perahu. Soalnya, memang tak ada tarif yang dituliskan.

Anda akan langsung disambut ikan-ikan kecil yang melompat riang, juga oleh aktivitas para nelayan. Jika mau memancing, baiknya menyewa atau membawanya dari rumah.

Kalau sudah puas, pulangnya silahkan bawa palai rinuak. Palai jenis ini, merupakan salah satu masakan khas Maninjau, yang dibuat dari adonan kelapa bertabur ikan-ikan kecil.

Soal rasa, silahkan cicipi dan nilai sendiri. Bagi anda yang baru pertama menyicipi, mungkin masih akan terasa asing. Namun bagi yang sudah biasa makan palai, maka palai rinuak akan menjadi pilihan yang nikmat.

Jangan cemas, kalau anda tidak sempat membawa bekal makanan dari rumah. Penduduk setempat sangat memanfaatkan peluang ini, dengan membuka berbagai masakan selain pensi, langkitang dan palai rinuak. So… selamat menikmati kemolekan Danau Maninjau. Surya Kelana (Singgalang Minggu)

 

Singkarak Menjelang Malam Mei 8, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 1:31 pm

Bagi masyarakat Indonesia khususnya Sumatra Barat, tentunya nama Danau Singkarak sungguh tidak asing lagi. Mungkin tak terhitung entah sudah berapa kali danau terbesar  di Sumatra Barat ini dikunjungi, sekedar melintas ataupun dinikmati bersama keluarga untuk mengisi waktu liburan. Sebagian pengunjung mungkin beranggapan bahasan mengenai objek wisata ini cukup membosankan dan terdengar basi. Namun demikian masih suatu hal yang mungkin terabaikan oleh banyak orang yaitu pemandangan menjelang malam di pinggiran danau ini.

 

Banyak pengunjung mungkin sudah mulai mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang ketika matahari sudah condong ke arah barat karena mungkin berpikir suasana tidak cukup bagus lagi untuk dinikmati. Akan tetapi, itu artinya sama saja melewatkan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan di penghujung hari.

 

Anggapan populer bahwa pemandangan ketika matahari mulai terbenam menjelang malam hanya bisa didapatkan di puncak gunung ataupun pantai adalah salah. Pemandangan senja di Danau Singkarak sungguh tidak kalah indahnya dari pantai manapun yang menawarkan kehangatan cahaya matahari terbenam, bahkan beberapa momen tidak bisa didapatkan di lokasi lain. Hal itu didukung oleh posisi dan kondisi geografis lokasi ini yang terletak di dataran yang cukup tinggi dari permukaan laut. Adanya gugusan bukit barisan yang terdapat di sebelah barat kawasan danau ini juga membantu menciptakan sebuah kondisi yang sangat dramatis ketika sore mulai beranjak malam. Perbukitan tersebut seringkali ditutupi awan dan kabut pada sore hari sehingga ketika matahari mulai berada di horizon akan menciptakan warna-warni yang luar biasa pada langit senja. Kemudian, kondisi air danau yang cukup bersih akan memantulkan kembali cahaya tersebut dalam bentuk refleksi yang tak kalah indahnya. Pada saat tertentu (saya beruntung bisa mendapatkannya), awan sedikit tersibak dan cahaya matahari akan menembus bagian tersebut sehingga menciptakan sebuah garis cahaya yang menakjubkan.

 

Jika anda tertarik untuk turut menikmati pemandangan serupa, carilah waktu yang tepat. Suasana tersebut biasanya terjadi pada musim kemarau atau bulan April hingga September setiap tahunnya. Sedikit tips, lihatlah langit timur pada pukul 3 hingga 5 sore, jika bulan mulai muncul biasanya itu adalah sebuah pertanda akan adanya senja yang indah, meski demikian cuaca memang tidak bisa ditebak. Carilah tempat yang nyaman untuk menikmatinya di sisi timr danau ini. Siapa yang akan tahu kalau andalah yang mungkin beruntung bisa menikmatinya?

Narasi dan foto Muhammad Fadli

 

Sikuai dalam Viewfinder April 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 7:36 am

 

Berbicara perihal keindahan alam, Sumatra Barat memang seperti tidak pernah kehabisan bahan untuk yang satu ini. Hampir setiap objek wisata di provinsi ini selalu menawarkan pemandangan yang menyegarkan mata. Tidak hanya bagi pengunjung dari luar wilayah ini namun juga bagi warga Sumatra Barat sendiri. Namun demikian masih terdapat beberapa tempat yang masih cukup jarang didatangi pengunjung walaupun seringkali namanya terucap, seperti pulau Sikuai.

Pulau yang terletak di pesisir barat Sumatra ini terkenal dengan pantainya yang berpasir putih. Bermain di atas pasir putihnya sangat menyenangkan. Lokasinya  berjarak kira-kira 25 km dari pusat Kota Padang. Pulau ini dapat ditempuh dalam waktu hanya satu jam paling lama, setelah kapal motor mulai berlayar dari dermaga di pelabuhan Muaro di Sungai Batang Arau. Jika berangkat pada pagi hari, di sepanjang perjalanan menuju lokasi ini, pengunjung juga akan disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah dari pesisir Sumatra. Gugusan perbukitan di pesisir pulau Sumatra seakan terlihat seperti benteng alam yang membisu di bawah temaramnya cahaya pagi.

Tak lama berselang, kapalpun merapat di dermaga pulau, ikan-ikan karang dapat dilihat dengan mata telanjang diperairan sekitar dermaga ini, sementara itu di sisi lain pulau pohon kelapa seakan melambai-lambai karena tiupan angin. Selepas itu, pengunjung dapat memutuskan apakah akan beristirahat sejenak, karena memang terdapat sebuah hotel sekaligus sebagai penanggung-jawab tempat ini, atau langsung mengelilingi pulau ini karena memang tidak butuh waktu lama untuk berjalan menyusuri jalan melingkar di seputaran pulau.

Di sekeliling pulau, pengunjung akan mendapati hamparan pasir putih tak bertuan, dan batu-batu karang besar yang berdiri kokoh ikut melengkapi pesonanya. Jika cuaca cukup cerah, maka pada sore hari saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat adalah sebuah kondisi yang sangat mengagumkan untuk dinikmati. Khusus bagi pengunjung yang memiliki hobi fotografi pemandangan alam, tentunya mereka tidak akan melewatkannya untuk diabadikan. Beberapa pengunjung juga menemukan beberapa satwa liar yang cukup jarang ditemui secara langsung. Seperti elang laut, beberapa spesies burung lainnya dan biawak. Untuk biawak, pengunjung tidak perlu khawatir jika kebetulan bertemu di perjalanan saat menyusuri pulau. Karena biasanya fauna tersebut cenderung menghindari manusia.

Sekarang giliran anda, pembaca. Tidakkah anda tertarik untuk turut mencobanya atau mengulanginya lagi jika kebetulan sudah pernah mencicipi pesona pulau di Samudera Hindia ini? Bawa sertalah keluarga, orang terdekat dan juga….kamera.

Narasi dan foto Muhammad Fadli (Singgalang Minggu)

 

Jika ke “Darek”, Mampir Dulu di Lembah Anai April 3, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 3:01 pm

JIKA mengunjungi objek wisata di Sumatera Barat, yang paling menarik justru di daerah ‘darek’, seperti Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Padangpanjang, Limapuluhkota,  Payakumbuh, Solok, Sawahlunto, Sijunjung, Pasaman, dan sebagainya. Disamping berpemandangan indah, udara ‘darek’ pun cukup sejuk dan tak membuat gerah.

Dari Kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat, terletak di daerah pesisir yang biasa disebut ‘rantau’, tak membutuhkan waktu lama untuk  sampai ke ‘darek’, hanya sekitar 1,5 atau 2,5 jam saja jika naik bus atau travel.

Maka jika  ke  ‘darek’ jangan lupa  untuk singgah dulu di Lembah Anai. Ada apa di Lembah Anai? Di sekitar Lembah Anai cukup banyak objek menarik untuk dinikmati dan menjadi tempat berehat sementara setelah letih duduk di kendaraan.

Pertama kali mungkin bisa dimulai dari Malibou Anai atau Anai Resort yang terletak di ‘ikua darek kapalo rantau’, Kayutanam, Padang Pariaman. Di sini terdapat pemandangan hijaunya hutan belantara perawan di antara sungai-sungai yang mengalir jauh di bawah tebing. Di sini juga terdapat lapangan golf yang cukup luas dan dilengkapi sejumlah sarana dan prasarana yang memadai, seperti kolam pemandian, arena outbond, cottage dan lain-lain. Saking menariknya, lokasi yang terletak di kiri jalan raya Padang – Padangpanjang ini sering digunakan kelompok-kelompok Majelis Taklim  sebagai tempat wisata religius sambil menggelar ceramah dalam rangka menyirami rohani.

anai.jpg

Setelah dari sini jangan lupa menikmati keindahan alam di  Cagar Alam Lembah Anai yang terletak di kawasan  Kecamatan Sepuluh Koto, Tanah Datar. Lembah Anai merupakan kawasan hutan tropik dengan ragam jenis flora dan faunanya. Udara di sini pun sangat sejuk. Di tempta itu juga terdapat sebuah air terjun yang cukup tinggi, sekitar 40 meter.

Apalagi daerah sekitar Lembah Anai jalannya berkelok dan berliku serta banyak tanjakan. Di beberapa bagian sisi jalan juga banyak ditemui satwa seperti monyet yang bergerombol berharap untuk bisa diberi makanan. Di sekitar sini juga dijumpai lapak-lapak pedagang kagetan yang menjual aneka makanan dan minuman. Terutama di sekitar air terjun yang oleh masyarakat setempat biasa disebut air mancur.

Di sekitar Air Mancur, para pedagang menghuni beberapa kios. Begitu juga para ande-ande penjaja penganan, seperti bika, pinukuik, telur asin, nangka, buah manggis muda, pisang jantan, dan lain-lain, yang menjajakan dagangannya ke setiap kendaraan yang berhenti. Sebelumnya di salah satu bengkolan menjelang Air Mancur, sejumlah anak muda tanggung juga terlihat gesit menghampiri bahkan menaiki bus yang tengah melambat untuk kemudian menawarkan dagangannya kepada penumpang. Dagangan mereka biasanya adalah pinukuik, pergedel jagung, bika, air mineral dan lainnya.

Air Mancur yang terdapat di Lembah Anai, airnya sangat jernih, udara sejuk, membuat para pengunjung betah berlama-lama  menikmati air yang terjun dari Gunung Singgalang sambil mengabadikannya ke kamera dan alat dokumentasi lainnya.

Setelah melewati Air Mancur, dijumpai pula sebuah bekas pesanggerahan Mega Mendung yang dulunya selalu dikunjungi Wakil Presiden, Bapak Proklamator RI, Mohammad Hatta, yang sekarang benar-benar tak terawat lagi.      Tak jauh dari sini, di sebelah kanan, akan dijumpai pula suatu kawasan yang berada di tepi sungai yang airnya sangatlah jernih dan bersih. Bagian pinggir sungai ini merupakan tempat yang cocok bagi mereka yang gemar camping ataupun hiking.
Kawasan sekitar Air Mancur dan Lembah Anai merupakan kawasan yang banyak menyimpan aneka cerita dan peristiwa heroik para pahlawan kita masa lalu. Baik di zaman kolonial Belanda, Jepang, Perang Kemerdekaan, zaman agresi, dan lain-lain. Sampai kini masih dapat disaksikan bukti kepahlawanan para syuhada yang telah gugur berupa sebuah prasasti yang terdapat di sebuah bengkolan menjelang tanjakan Silaiang Kariang.

Setelah melewati panorama dan beberapa tanjakan tajam, antara lain yang bernama Silaiang Kariang, Anda akan sampai di kawasan Bukit Berbunga untuk selanjutnya mungkin singgah di Kompleks Minangkabau Village, Kota Padang Panjang. Minangkabau Village adalah sebuah visualisasi tentang gambaran perkampungan Minangkabau tempo doeloe.

Narasi dan foto  Charlie Ch. Legi -Singgalang Minggu

 

Berkunjung ke Negeri Asal para Tokoh Nasional Maret 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 7:04 am

Sumatra Barat sangat terkenal dengan keindahan alam, seni dan budaya. Sehingga tak heran, Ranah Minang ini menjadi salah satu destinasi unggulan nasional. Sekarang Singgalang mengajak Anda untuk berwisata sejarah ke Agam, namun bukan mengunjungi Danau Maninjau atau Puncak Lawang yang sangat bagus untuk kegiatan paralayang.

 

Tak lain tak bukan, mengarungi wisata sejarah Agam, memiliki belasan tokoh nasional yang banyak berkiprah dalam merebut dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Pernahkah Anda mendengar nama Buya Hamka, Rasuna Said, M. Natsir, Isa Anshari, Abdul Karim Amurullah. Mereka itu berasal dari daerah Maninjau  dan berjuang hingga tingkat nasional.

 

Entah kenapa daerah ini menjadi penghasil tokoh-tokoh nasional. Mungkin saja, lantaran alam yang tenang, membuat mereka berfikir lebih jernih atau lantaran ikan rinuak yang terkenal mengandung banyak gizi. Wallahuwalam, hanya Tuhan yang tahu semua rahasia alam itu.

 

Bila kita berada di Pasar Maninjau, sekitar 50 meter terlihat rumah berwarna kuning dengan ornamen rumah adat di atapnya. Rumah ini cukup bagus, mungkin telah direnovasi. Itu adalah rumah M. Natsir seorang tokoh nasional. Meski secara formal belum dilegal­kan menjadi tokoh nasional, tetapi di hati rakyat dan bangsa Indonesia telah menjadi tokoh nasional.  Sebab begitu banyak jasa yang telah diberikan untuk bangsa dan

negara ini. Dia seorang ulama pendiri partai Islam Masyumi yang sekaligus menjadi Ketua. Lalu, pimpinan Dewan Dakwah Islam Indo­nesia (DDII). Dan juga pernah menjabat Perdana Mentri pada orde lama.

 

Tak jauh dari tempat itu, di jalan H. Oedin Rahman, Panyinggahan kita menemukan pula sebuah rumah tua berlantai dua. Sekarang, rumah itu telah beralih fungsi menjadi musala. Di tempat itulah  seorang tokoh nasional wanita, Rasuna Said lahir dan dibesarkan.

Dia seorang tokoh wanita yang terlahir pada tahun 1910 dan wafat  1965.

 

Rasuna said, sangat gigih berjuang dan juga memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Ia sangat menentang kebijakan-kebijakan politik Belanda melalui orasi dan pidatonya. Sehingga tak heran pada tahun 1932, dia ditangkap dan dipenjara. Meski demikian, tak membuatnya menjadi surut dalam berjuang, malah semakin gigih. Dia juga berkecimpung dalam pendidikan, pers dengan mendirikan maja­lah menara. Di masa karirnya pernah menjabat anggota DPR RIS dan Dewan Pertimbangan Agung hingga sang ajal datang.

 bapak-hamka.jpg

Penat di rumah Rasuna Said bisa kita melanjutkan perjalanan ke rumah Hamka. Kondisi rumah, sudah sangat bagus lantaran telah dipugar dan semakin dilengkapi dengan benda-benda yang dipakai oleh Hamka beserta karya-karyanya. Juga tak ketinggalan, banyak foto tentang dirinya. Semua informasi tersedia lengkap di sini. Musala sendiri juga dibangun oleh Hamka yang berjarak beberapa meter dari rumah. Ini menandakan, Hamka adalah seorang yang taat menjalankan ibadah. Wajar saja, dia menjadi seorang tokoh ulama nasional asal Sumbar. Namanya, tak hanya termasyhur di Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Malay­sia dan negara timur tengah. Dia bukan saja seorang ulama, tetapi juga seorang sastrawan.

 

Hamka  dilahirkan di Kampung Moelek pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1981 di Jakarta. Hamka adalah seorang ilmuwan yang otodidak dalam segala ilmu pengetahuan seperti sastra, filsafat, sejarah sosial dan politik.

 

Lalu ke Batu Gadang yang cukup jauh dari Rumah Hamka, terdapat rumah tua, tempat kelahiran dan dibesarkannya KH. Isa Anshari tokoh nasional dalam Partai Masyumi juga. Dia terkenal sebagai singa podium, lantaran pidatonya yang berapi-api membuat orang berse­mangat. Lalu, bila yang disinggung itu seorang tokoh bangsa seperti Bung Karno yang ketika itu tengah berkuasa, maka wajar saja mendapat hukuman penjara selama 4,5 tahun.

 

Meski demikian, kecintaannya kepada sang tokoh bangsa juga tak luntur. Itu terlihat dari foto besar Bung Karno yang dipajang di rumah tua tempat dia lahir dan dibesarkan tersebut. Dia terlahir pada tahun 1916 dan wafat 1969. Isa Anshari bukan saja sebagai seorang orator, tetapi juga politikus, penulis dan aktivis.

 

Dalam jangka waktu dekat, menurut cucunya Irvan akan dibangun semacam monumen dan museum yang mengumpulkan segala informasi tentang dia. Saat ini, telah terkumpul sekitar 60 persen koleksi dan sesuatu yang berkaitan dengan Isa Anshari.

 

Masih banyak tempat-tempat sejarah lain yang bisa dikunjungi wisatawan. Bisa saja wisata alam, dipadu dengan wisata sejarah. Bila berbicara tentang wisatawan yang banyak berkunjung ke daerah ini, mereka berasal dari Malaysia dan Timur Tengah yang menjadi murid Buya Hamka dan bapaknya Abdul Karim Amrullah (inyiak De Er).

 

Wisata sejarah bukan saja mengasyikan, biayanya pun cukup murah. Cocok sekali bagi yang hobi mempelajari tentang sejarah Indonesia, para ilmuwan, anak sekolah dan mahasiswa.

Narasi dan foto J.e Syawaldi CH-Singgalang Minggu

 

Berwisata Ziarah & Bahari ke Ulakan Pariaman Maret 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 6:29 am

  ulak.jpg                                            

BILA berkunjung ke  Pariaman, kita akan temui banyak  objek wisata yang menarik untuk dilancongi. Karena Pariaman berada persis di bibir pantai Samudera Hindia, maka wisata pantailah yang banyak mendominasi objek-objek wisata di sana.

            Mulai dari Taman Wisata Pantai Gondoriah, yang terletak di tengah kota Pariaman dan  terkenal dengan  hidangan nasi sek serta  masakan lautnya.  Sampai ke Pantai Arta,   sekitar 15 km arah utara, Pantai Kata, Lubuk Bonta, Tapian Puti dan aneka objek wisata lainnya yang terkenal rancak dan elok.

            Selain objek wisata tersebut, ada objek wisata lain yang tak kalah bagusnya. Yaitu objek wisata Pulau Piai dan objek wisata religi di daerah Ulakan, Pariaman.

Ulakan yang  letaknya lebih kurang 10 km dari Kota Pariaman ini, pantainya sangatlah indah dan menawan. Pantai Ulakan yang  panjangnya lebih kurang 1 km itu cukup bersih dan berpasir putih. Selain itu   terdapat pula sebuah pulau yang bernama Pulau Piai. Dari penyelidikan yang dilakukan, di pulau ini tersimpan kekayaan alam yang luar biasa. Terumbu karang yang terdapat di pulau ini termasuk terumbu karang yang terindah. Dan saat ini banyak para pelancong yang melakukan penyelaman di Pulau Piai, menikmati indahnya pesona bawah laut. 

Selain objek wisata pantai, di Ulakan juga terdapat objek wisata religi, yakni makam  Syekh Burhanudin, seorang   ulama agama Islam yang sangat terkenal dan telah berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin adalah ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama Islam  di negeri Serambi Mekah,  Aceh.

Sekembali dari Aceh, Burhanuddin  menyebarkan ajaran agama Islam di kampung halamannya, Ulakan, Pariaman. Lalu menyebarluaskan lagi ajaran tersebut melalui para pengikutnya sampai ke pelosok dan pedalaman Sumatera Barat. Setelah berhasil dan memiliki banyak murid dan pengikutnya,  ia   akhirnya wafat dan dikebumikan di Ulakan, Pariaman.

            Makam Syekh Burhanuddin hampir tiap saat  dikunjungi. Baik  oleh para penganut agama Islam yang ingin basafa, maupun oleh  para wisatawan lainnya untuk menikmati keindahan alam dan pantainya. Acara basafa biasanya dilakukan pada saat bulan Syafar. Saat itulah dimana makam Syekh Burhanuddin ramai dikunjungi oleh para peziarah.    

            Makam Syekh Burhanuddin terletak dalam sebuah kompleks pemakaman khusus. Sebelum memasuki kompleks pemakaman ini, ada banyak para  pedagang yang berjualan di sekitarnya. Seperti alat-alat/sesajen untuk melakukan ritual, cenderamata. Disampinhg itu juga ada penjual penganan laut seperti, ikan goreng, udang goreng, kepiting goreng, termasuk sipasan lauik goreng, dan sebagainya. Sipasan lauik dipercayai dapat mengobati anak yang suka ngompol di kasur malam hari.

Pada saat Basafa, biasanya jumlah para pedagang akan lebih banyak lagi. Umumnya pedagang tersebut tak hanya berasal dari seputaran makam, namun juga dari luar Ulakan, yang sengaja datang mencari untung di sana.

            Ramainya peziarah saat Basafa, akan sangat terasa ketika akan memasuki gerbang/gapura. Begitu juga saat memasuki makam Syekh yang dibangun bercungkup dengan jeruji besi di sekelilingnya.

            Peziarah yang melakukan kegiatan Basafa adalah dari kalangan penganut mazhab Syafei dan tarekat Syattariah. Karena Syekh Burhanuddin adalah seorang penganjur mazhab dan tarekat itu. Namun dari keterangan warga setempat, peziarah yang datang tak cuma dari kalangan tarekat Syattariah saja, melainkan  juga dari tarekat lainnya  seperti Naksabandiyah dan Sammaniyah.

            Para peziarah yang mengunjungi makam Syekh Burhanuddin umumnya terdiri dari para orangtua yang berumur lebih dari 50 tahun. Selain berziarah, mereka mendatangi makam Syekh Burhanuddin sekaligus juga sambil untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta,  mereka lakukan di makam Syekh Burhanuddin  karena lebih khusyuk.

            Para peziarah  jumlahnya mencapai puluhan ribu orang pada bulan Safar.  Mereka biasanya menetap di sana selama 40 hari. Mereka  tak terlalu memusingkan tempat untuk menginap. Karena di seputaran makam terdapat beberapa unit surau sebagai tempat menginap.  Surau ini, anehnya hanya buka pada saat bulan Syafar saja. Jadi bila anda datang berkunjung pada saat di luar bulan Syafar, jangan harap anda akan bisa menaiki surau untuk melakukan ibadah salat.

            Peziarah yang datang ke makam Syekh Burhanuddin tak saja dari kalangan orang biasa. Para pejabat penting pun pernah singgah dan melakukan ziarah ke sini.  Seperti Gus Dur, Wiranto, Taufik Kiemas, dan banyak para pejabat lainnya. Entah dengan maksud apa, yang pasti, pada saat menjelang pilkada, para calon kepala daerah biasanya sering  datang berkunjung ke makam Syekh Burhanuddin.

            Siapakah Syekh Burhanuddin?

            Syekh Burhanuddin adalah seorang penganut Islam, bermazhab Syafei dan tarekat Syattariah. Syekh Burhanuddin bernama asli Pono. Ia belajar agama kepada gurunya yang bernama Syekh Abdul Alif. Syekh Abdul Alif memberikan pendidikan agama Isalm kepada Pono, sampai sang guru mendekati uzur. Ketika telah uzur, sang guru  menganjurkan agar Pono melanjutkan pendidikan ilmu agamanya ke Aceh. Di Aceh, Pono belajar agama dengan guru barunya, Syekh Abdul Ra’uf. Setelah mendapat ilmu agama yang cukup banyak, ia lalu kembali ke daerah asalnya (Ulakan) untuk menyebarkan agama kepada masyarakat setempat. Ulakan-lah yang menjadi tempat pertama ia menyebarkan agama Islam di Minangkabau, dengan mendirikan sebuah surau di sana sebagai surau pertama.

            Banyak bukti peninggalan sejarah yang ditinggalkan oleh Syekh Burhanuddin, selain agama Islam. Bukti peninggalan lain ialah  berupa pakaian, celana panjang, jubah, topi, ikat pinggang, dan sebuah kitab suci Al-quran yang masih utuh dan diperkirakan berusia 200 tahun. Semua itu disimpan di sebuah surau yang dinamakan surau ketek. Benda-benda ini dahulunya selalu dipakai Syekh saat menyebarkan agama Islam di negeri ini.

            Semua peninggalan Syekh Burhanuddin disimpan di sebuah lemari dan dijaga oleh penghuni surau ketek itu. Untuk melihat benda peninggalan tersebut tak bisa sembarang waktu. Hanya pada saat musim basyafa kita bisa melihatnya. Narasi dan foto

Charlie Ch. Legi-Singgalang Minggu