IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Anjal juga Punya Hak Juli 2, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 4:05 am

Beberapa waktu lalu saya menonton berita di sebuah stasiun TV lokal Padang. Beritanya mengenai anak-anak jalanan yang ditangkap aparat karena meresahkan pengguna jalan raya. Lantas, ingatan saya terbang ketika dulu masih menjadi Uni Kota Padang tahun 2005 lalu. Waktu itu adik-adik jalanan (saya merasa dari segi usia mereka seusia dengan adik-adik sepupu saya) tersebut belum sebanyak sekarang, belum semengkhawatirkan sekarang dan belum seironis sekarang.

Menurut  saya, fenomena yang semakin merajalela ini memiliki penyebab yang multifaktorial. Sebagai orang tua, merupakan suatu kewajiban memberikan pendidikan bagi anak-anaknya sehingga nanti mereka punya bekal sebagai pribadi yang mandiri. Orang tua mempunyai kewajiban mempersiapkan anak-anaknya untuk bisa hidup dikemudian hari dan pendidikan adalah modal yang abadi. Idealnya anak-anak usia sekolah ya harus berada di sekolah. BUKAN DI JALANAN. Mereka kehilangan masa kanak-kanak karena harus membanting tulang menopang perekonomian keluarga atau mungkin dieksploitasi oleh orang tua mereka sendiri. Mereka kehilangan masa bermain karena harus berpacu untuk recehan. Sebagai orang tua, sekali lagi kita punya kewajiban memberikan hak hidup yang layak bagi anak-anak.

Di Minangkabau sendiri sudah melekat rasanya pribahasa “Kaluak paku kacang balimbiang, tampuruang lenggang-lenggokkan. Anak di pangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.” Mungkin pribahasa hanya tinggal kenangan, karena semakin hari semakin banyak anak kemenakan kita yang berjibaku di jalanan. Tak adil rasanya kalau harus menyalahkan keadaan, tapi memang itulah adanya. Mamak dan orang tua adik-adik jalanan itu sendiri tidak mempunyai pekerjaan tetap, karena tidak punya keahlian yang cukup atau tidak mendapatkan pendidikan yang memadai.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan juga punya andil di tengah hidup yang makin morat-marit. Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi warga negaranya, sehingga anak-anakpun jadi korban. Seperti berita di TV yang saya tonton, di jalananpun mereka ditangkap aparat, bikin surat perjanjian dan dijemput Mamak atau orang tua. Besok balik lagi ke area lampu merah, tangkap lagi, jemput lagi. Rasanya kita terlalu mengecilkan tugas Mamak atau orang tua kalau hanya sebatas surat perjanjian. Yang jauh lebih penting apa solusinya?. Mau diapakan adik-adik ini ke depannya?. Main kejar-tangkap terus….??.

Sebagai orang Minang yang tau jo malu, lebih baik jadi orang miskin daripada jadi orang bodoh, karena itu tadi kebodohan dekat dengan kemiskinan. Oleh karena itu, berikan hak anak-anak untuk bersekolah. Menyediakan dan mencari lapangan pekerjaan tentu dapat memperbaiki ekonomi keluarga lantas anak-anak bisa bersekolah. Pendidikan, pendidikan dan pendidikan. Dengan dididik baik, kita semua berusaha dan berdoa mereka bisa mengubah nasib, tidak hanya menengadahkan tangan di bawah, tapi menjadi tangan yang di atas. Dengan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional, bangkitlah anak-anak bangsa! Bangun Bangsa ini!

Oleh :  Vanny- IUUKP Jelas Beda!!

 

Matrilineal itu Saling Menghargai April 24, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 4:09 pm

Masalah kawin cerai sudah menjadi masalah biasa di negri kita walaupun bercerai itu adalah suatu hal yang dibenci oleh Allah S.W.T tapi masih diizinkan namun tetap dilakukan oleh pasangan suami istri di Indonesia. Fenomena itulah yang kerap ditayangkan di infotainment tanah air yang tiada habisnya membahas masalah kawin cerai di kalangan selebritis kita.
Perceraian pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan baru, beberapa diantaranya adalah hak pengasuhan anak yang bahkan melibatkan komisi perlindungan anak. Selain itu perceraian juga akan mempengaruhi mental serta kepribadian sang anak di masa depannya kelak.

Sebenarnya berkaca kepada hal itu, sungguh beruntung kita yang tinggal di Ranah Minangkabau dengan budaya “Adat Basabdi syarak,Syarak Basandi Kitabullah” menggunakan sistem kekerabatan Matrilineal. Sistem perkawinan Matrilineal ini bersifat Eksogami yaitu suami tidak mengikuti suku istri dan begitu sebaliknya istri juga tidak mengikuti suku suaminya. Dalam perkawinan bersifat eksogami ini status seorang istri sama dengan status suaminya terlepas dari status suami sebagai imam dan kepala keluarga yang mengakibatkan seorang istri tidak selalu bergantung kepada suaminya. Seorang suami bukanlah pemegang kuasa atas anak dan istrinya.
Urusan ekualitas antara laki-laki dan perempuan sebenarnya tidak cuma diwujudkan dalam perkawinan saja. Dalam pergaulan pun, kita dituntut bisa saling menghargai tanpa memandang gender.

Khusus bagi para cowok, justru rasa respek terhadap kaum hawa bersifat mutlak. Paling tidak dalam keseharian kita bisa mewujudkan rasa kepatutan itu pada ibu. Bukankah dalam agama Islampun sebuah kisah Rasulullah nabi besar muhammad S.A.W,seorang sahabat pernah bertanya kepada rasul,”Siapakah yang lebih aku sayangi di antara kedua orang tuaku wahai Rasulullah”, Rasulullah menjawab “Ibumu” sampai 3x, barulah setelah itu rasul menjawab”Ayahmu” pada pertanyaan yang sama keempat kalinya.
Begitu juga dengan penguasaan terhadap harta dalam sistem kekerabatan Matrilineal. Harta benda di Minangkabau berada di bawah penguasaan kaum Ibu karena secara fisik laki-laki memiliki tubuh yang kuat dibandingkan dengan kaum ibu.
Kendati demikian, untuk menjaga harmonisasi hubungan antara pria dan wanita, keduanya harus saling menghormati. Tidak ada yang boleh merasa berkuasa atas satu sama lainnya.
Semestinya kita bersyukur dan berbangga hidup sebagai masyarakat Minangkabau dengan”Adat Basandi Syarak,Syarak Basandi Kitabullah”. Dengan sistem kekerabatan matrilineal yang kita miliki, kita bisa saling menghargai apalagi  falsafah itu merupakan perpaduan yang saling melengkapi antara agama dengan adat yang bersinergi dalam kehidupan manusia sebagai pedoman dan ajaran dalam menjalani hidup. (Dari berbagai Sumber)

Oleh Rolly-IUUKP Jelas Beda!!

 

Peranan “Public Speaking” dalam Pariwisata April 11, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 4:04 am

Saat ini dunia pariwisata telah menjadi salah satu penghasil income yang besar terhadap sebuah daerah. Semua daerah membuat program-program yang menunjang pariwisatanya. Daerah yang telah dikaruniai alam yang indah, membuat program promosi dan pemeliharaan aset pariwisatanya. Sedangkan daerah yang tidak mempunyai banyak pilihan tempat dengan pemandangan yang indah sebagai aset pariwisatanya, berusaha mencari alternatif pariwisata yang lain atau membuat sebuah objek kunjungan wisata.

Hanya saja, pertanyaan yang selama ini mengganggu penulis adalah, apakah aset-aset pariwisata itu sudah dikomunikasikan dengan baik? Kelihatannya belum. Untuk mengkomunikasikan pariwisata kepada customer-nya ( penikmat jasa wisata ), seorang pelaku pariwisata ( pemilik asset wisata ) harus memiliki kemampuan public speaking yang bagus. Karena, ini bukan hanya menyangkut promosi dengan sistem personal approach, namun menyangkut kejelasan informasi dalam promosi terhadap publik. Publik bukanlah sesuatu yang mudah dipengaruhi. Publik adalah gabungan dari sekian banyak pemikiran lengkap dengan pertanyaan dan kesimpulan masing-masing. Sebagai seorang pelaku pariwisata, baik itu pemilik objek wisata, pemerintah daerah, duta wisata, harus bisa memberikan keterangan yang tepat agar customer tertarik terhadap wisata yang ditawarkan. Kemampuan sebagai seorang pembicara publik ini diperlukan karena pilihan yang sangat banyak dalam hal pariwisata. Semua negara di dunia saat ini menyusun strategi yang bagus dengan kemasan dan slogan yang menarik, sehingga mencerminkan daerah mereka pantas menjadi pilihan kunjungan wisata terbaik.
Disinilah public speaking berperan besar. Teknik dan kemampuan dalam berbicara, baik itu didepan publik, di media massa, dan sarana-saran promosi lainnya, akan sangat menentukan seberapa besar kemampuan membuat daya tarik wisatanya. Pelaku pariwisata yang memiliki kemampuan public speaking yang baik, akan dapat menyampaikan nilai tambah pariwisata yang ditawarkannya. Dengan begitu, walaupun pariwisata termasuk kategori pariwisata menengah, publik ( pendengar informasi ) bisa saja tertarik karena kemasan penyajian informasi deskrtiptif pariwisata tersebut sangat menarik. Public speaking di bidang manapun, memang berkaitan erat dengan promosi. Bagaimana suatu produk ( dalam hal ini pariwisata ) dapat di-marketing-kan dengan baik memang harus membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik. Public speaking juga berkaitan dengan teknik persuasif terhadap audiens untuk memancing ketertarikan mereka terhadap apa yang disampaikan.

Alangkah baiknya, para pelaku promosi pariwisata, membekali dirinya dengan kemampuan public speaking dalam berpromosi. Kemampuan ini bisa diperoleh dengan mengikuti seminar yang berkaitan dengan public speaking, selalu berlatih berbicara di depan publik, belajar kepada ahli public speaking, karena semua orang memang diharapkan menjadi public speaker yang baik. Semoga, setelah semua pelaku pariwisata khususnya di kota Padang menjadi seorang public speaker yang handal, pariwisata di daerah ini dapat lebih menggembirakan dan lebih baik dari sebelumnya, karena pariwisata mempunyai segi positif yang begitu banyak terhadap daerah yang menjadi kunjungan wisata.

Oleh : A. Dody Setiawan-IUUKP Jelas Beda!!

 

Butuh Promosi April 3, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 2:55 pm

iuukp.jpg

Untuk menyambut Pemilihan Uda Uni Kota Padang, berbagai hal harus disiapkan dengan sebaik-baiknya. Salah satu langkah awal untuk persiapan tersebut dimulai dari pembuatan proposal. Dengan berbagai macam perencanaan matang yang tertera dalam proposal tersebut, ternyata ada satu hal yang cukup membuat bingung para pengurus IUUKP yang juga berperan sebagai panitia pemilihan ini. Hal tersebut tidak lain adalah mencari latar sampul proposal tersebut.

Mungkin terkesan sepele, tetapi agar berkesan profesional dan elegan, proposal tersebut perlu didesain sampul yang menarik di mata. Bukannya tidak ada stok gambar objek wisata Kota Padang pada komputer panitia, namun yang diharapkan saat itu adalah gambar terbaru tentang objek wisata Kota Padang. Setelah melalui sedikit perundingan, akhirnya diputuskan untuk memotret sendiri pemandangan yang dianggap mewakili Kota Padang.

Agar gambar yang diperoleh sangat bagus, maka pada jam 11.00 WIB Saya berangkat menggunakan sepeda motor ke Pantai Padang, saat matahari bersinar dengan terangnya. Pemandangan yang indah menggoda hati Saya untuk segera mengabadikan tempat tersebut dengan sebuah kamera. Setelah puas memotret, perjalanan dilanjutkan ke Jembatan Siti Nurbaya, Museum Adityawarman, dan Mesjid Raya Ganting yang konon disebut sebagai mesjid pertama di Kota Padang – mesjid ini merupkan salah satu objek wisata religi di Sumatera Barat.

Tulisan ini tidak bertujuan bagaimana cara mengambil gambar yang baik. Yang ingin ditekankan adalah bagaimana efek dari gambar-gambar tersebut terhadap promosi pariwisata dan tidak hanya bisa dilihat oleh masyarakat Padang, namun sampai ke seluruh dunia.

Padang tidak hanya memiliki jembatan Siti Nurbaya saja, karena selain itu ada Pantai Nirwana, Pulau Sikuai, bahkan Sungai Pisang yang juga bisa ditampilkan dengan sangat elok.

Promosi wisata merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk menarik wisatawan berkunjung ke daerah kita. Berbagai penghargaan di peroleh dalam kegiatan promosi pariwisata di Indonesia. Namun usaha tidaklah bijak jika hanya sebatas promosi tanpa adanya usaha memperbaiki apa yang dipromosikan itu sendiri. Promosi yang besar-besaran memberi efek yang sangat besar, tapi di saat yang bersamaan menjadi sebuah bumerang bagi kita semua jika tak mampu menampilkan kenyataan sebagaimana yang kita promosikan.

Padang memiliki banyak generasi muda yang potensial untuk pengembangan wisata. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata. Banyak remaja Padang yang bisa berkesenian, fotografi dan mengadakan berbagai iven, namun mereka masih jalan-jalan sendiri. Jika potensi ini dikumpulkan dalam suatu wadah, dan mendapat perhatian serius dari pemerintah, maka promosi wisata Padang bukan tidak mungkin akan ikut terangkat.

IUUKP selama ini telah membuktikan di berbagai kegiatan, meski masih bersifat swadaya tanpa didukung dana tetap. Namun sebagai ikatan yang Jelas Beda!! IUUKP akan terus berupaya membuktikan eksistensinya. Bagi generasi muda, silakan gabung dengan IUUKP lewat Pemilihan Uda Uni Kota Padang nanti.
Oleh Edmi-IUUKP Jelas Beda!!

 

Modern nan Berbudaya Maret 19, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 3:40 am

iuukp2.jpgZaman sekarang atau saat ini hidup berbudaya itu dianggap kuno dan cenderung bersifat kampungan. Pernyataan ini jugalah yang membuat generasi muda sekarang gampang terpengaruh budaya barat dan bertindak sembarangan terbukti dengan berkurangnya rasa hormat antara anak muda terhadap Orang Tua.

Minangkabau terkenal dengan “kato nan ampek” yaitu kato mandaki, kato malereng, kato mandata, dan kato manurun. Sekarang kato nan ampek itu nyaris hilang dan lenyap. Berbicara dengan orang tua yang seharusnya sopan dan hormat, sekarang menjadi kasar dan tidak sopan. Malahan ada yang berbicara dengan orang tuanya menggunakan kato mandata, yang ibaratnya berbicara dengan orang yang sama besar.

Belum lagi dengan cara berpakaian orang Minangkabau saat ini.
Bagi yang perempuan saat malah suka pakai baju terbuka. Dimana baju kuruang yang dulu dipakai oleh “Bundo Kanduang” kita dahulu…???

Padahal pada dasarnya baju kuruang itu adalah baju yang menjadi ciri khas serta cermin budaya orang Minangkabau, dan bila kita lihat, wanita yang memakainya akan kelihatan lebih cantik dan anggun jika memakai baju kuruang tersebut. Tidak hanya perempuan yang laki- laki pun ikut- ikutan pakai baju jangkis, yang sangat tidak bagus dipandang mata.

Tidak hanya generasi muda saja yang merusak citra budaya Minangkabau, para orang tuapun ternyata ikut terseret dengan arus modernisasi ini. Malahan bayak di antara orang tua yang memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka. Kita bisa lihat kenyataan ini dalam kehidupan kita sehari-hari, contoh kecil saja banyak dan sering kita lihat bapak- napak berjudi di warung- warung atau paling tidak ngabisin waktu. Dimana adat istiadat yang telah ditanamkan oleh orang tua kita dahulu? Kemana hilangnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak patut untuk dipertanyakan, karena seharusnya kita sendiri sudah bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh kesadaran diri masing- masing. Semua ini terjadi, karena kita yang mudah terpengaruh budaya asing dan pengaruh-pengaruh buruk dari orang-orang yang melakukan penyimpangan sosial yang bertolak belakang dengan budaya kita sendiri. Lalu apakah ini yang kita sebut modernisasi?

Pertanyaan ini pun harusnya kita sama- sama tau, bahwa modernisasi ini bukan berarti kita melenyapkan nilai budaya kita sendiri, malahan modernisasi adalah merupakan inisiatif dan sistem yang membawa kita pada kemajuan teknologi yang tetap kaya dengan budayanya.
Haruskah ada pernyataan “Selamat tinggal Minangkabau atau rumor habis Minang tinggal kabaunya…?

Jawabannya tentu saja tidak. Maka dari itu, mari kita jadikan Budaya Minangkabau ini benar-benar mendarah daging dan terwujud melalui sikap dan tingkah laku kita sehari-hari, karena tanggung jawab kitalah untuk menjaga dan melestarikan ciri budaya bangsa, ciri budaya Minangkabau ini. Kita jadikan daerah kita Minangkabau ini menjadi daerah yang maju dan modern yang tetap kaya kan budaya dan adat istiadatnya.

Oleh Eli-IUUKP Jelas Beda!!

 

Menjaga Budaya dengan Rasa Malu Maret 14, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 2:22 am

iuukp1.jpg

Padang merupakan kota yang kaya akan adat istiadat dan budayanya, yaitu Minangkabau. Dalam hal ini minangkabau tidak hanya meliputi Padang saja, tetapi juga wilayah Sumatera Barat secara keseluruhan. Masyarakat minangkabau berkeyakinan bahwa: adat basandi syara’, syara’ basandi kittabullah, yaitu Al Quran. Dengan jelas tersirat bahwa masyarakat Minang merupakan masyarakat yang beradat dan berbudaya yang baik berdasarkan nilai – nilai agama.

Namun seiring dengan berjalannya waktu banyak perubahan dan pergeseran budaya yang terjadi di dalam masyarakat Minang, terutama dikalangan anak muda. Banyak remaja Minang yang tidak lagi mengenal adat istiadat dan budaya mereka. Sebagai contoh: pada era sekarang ini, banyak anak muda yang tidak lagi memperhatikan cara berbicara dan kepada siapa berbicara. Padahal dalam adat Minang telah diajarkan bahwa dalam berbicara kita memiliki rambu – rambu tersendiri yang disebut kato nan ampek.

Sangat miris ketika kita lihat banyak anak muda yang menyamaratakan lawan bicaranya tanpa mempertimbangkan hal – hal yang tabu atau yang wajar. Tidak ada lagi terasa budaya menyegani yang dituakan dan menyayangi yang kecil. Dalam kehidupan sekarang vane kecil sering kurang ajar dengan yang dituakan. Begitu juga sebaliknya, yang dituakan tidak menyayangi yang kecil.

Cara berbusana pun demikian. Hampir semua anak muda yang ada di ranah Minang tidak mengerti cara berbusana yang benar sebagai gadis Minang atau bujang Minang. Mereka cenderung mengimitasi budaya asing dalam hal ini mengikuti trend berbusana saja. jangan heran kalau kita dengar sindiran “indak dapek barangok anak samuik lewat lai”, menyiratkan bahwa begitu sempit dan ketatnya busana seseorang. Padahal, Minang memiliki pakaian yang diberi nama baju kuruang yang merupakan kebanggan adat kita. Dahulu anak muda Minang sangat bangga memakai busana ini. Namun saat sekarang ini banyak anak muda yang tidak memiliki satu stel baju kurung pun dalam koleksi busana mereka untuk menjadi kebanggaan mereka.

Dalam hal kepatutan berhubungan dengan lawan jenis pun banyak yang dilanggar. Di sepanjang Pantai Padang misalnya, sejauh mata memandang di situ terlihat pasangan bujang dan gadis yang bermesraan. Lirih memang, objek wisata yang seharusnya memberikan gamabaran mengenai Minangkabau dirusak dengan keberadaan mereka yang sama sekali tidak mewakili budaya minang sedikitpun.

Sebenarnya persolan ini berawal dari lingkungan keluarga. Jika kelurganya beradat maka beradatlah semua anggota keluarganya. Dan itu bisa terlihat dari cara berbicara, berbusana, mereka. Jadi jika seseorang berbusana yang tidak pantas maka yang dipertanyakan orang bukan individu itu melainkan siapa keluarganya. Mengenai sikap muda – mudi. Seharusnya mereka memiliki rasa malu dan segan dalam melakukan hal apapun. Namun rasa malu dan segan itulah yang mulai memudar di kalangan anak muda sekarang. Inilah tugas berat untuk menumbuhkan kembali rasa malu agar semua dapat berjalan di koridornya masing – masing dengan teratur.

oleh Ita-IUUKP Jelas Beda!!