IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Sup Oriental Mei 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 5:59 am

Sup kembang tahu ini merupakan masakan bernuansa oriental atau masakan Cina. Paling enak sup disuguhkan pada saat makan malam, karena kadar lemaknya tidak terlalu tinggi. Jadi untuk menyantapnya, kita tidak perlu repot-repot memikirkan bakal gemuk atau tidak.

Sup kembang tahu terbuat dari aneka sayuran. Bahan-bahan pokok dari sup oriental ini adalah kembang tahu, kacang polong, tahu, kacang panjang, wortel, kentang, japan, jamur hitam, bakso, bawang putih, bawang merah, minyak goreng dan garam secukupnya.

Untuk mendapatkan bahan-bahan sup oriental ini, kita bisa cari di Pasar Pondok atau Pasar Raya Padang. Cara mengolah bahan di atas menjadi sup oriental ini cukup mudah. Aneka sayur tadi dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Bawang putih dan merah diiris tipis. Kemudian  Untuk tahu, dapat dipotong dadu. Sisihkan sayur-sayuran yang telah dipotong. Persiapkan minyak goreng, lalu dipanaskan. Begitu panas, tumis irisan bawang, kemudian siram gorengan tersebut dengan air mentah. Tunggu beberapa lama sampai air mendidih, baru potongan sayuran dimasukan. Lalu masak sampai matang. Setelah matang, hidangkan dan sajikan dengan nasi panas.

Sup oriental ini mengandung protein yang tinggi, karena sayuran yang dipakai untuk sup ini mengandung protein yang kita butuhkan bagi tubuh kita.

 

Ayam Kalasan April 9, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 4:27 am

Indonesia selain memiliki kekayaan alam yang indah, juga dibarengi dengan aneka masakan daerah. Salah satu dari masakan daerah tersebut adalah bernama ayam kalasan. Ayam kalasan merupakan salah satu masakan daerah Yogyakarta. Sesuai dengan namanya kalasan, masakan ini berasal dari Desa Kalasan di dekat kawasan Candi Prambanan.

Jika kita ingin mencicipi masakan bernama ayam kalasan, kita tidak perlu beli jauh-jauh pergi ke Yogyakarta. Di Kota Padang kita dapat temukan masakan ayam kalasan di warung bu Widardo, yang berlokasi di depan Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo, Ganting.

Menurut pemilik warung bu Widardo, Aris B saat disambangi di warungnya mengatakan, ayam kalasan sama halnya dengan ayam goreng biasa, namun ini dimasak dengan cara khas kalasan dan diberi bumbu.

Bagi remaja putri atau ibu-ibu yang doyan dengan masakan dan ingin mencoba memasak ayam kalasan tidak ada salahnya. Ayam kalasan sesuai dengan namanya terdiri dari bahan dasar ayam potong yang siap untuk digoreng.

Sebelum digoreng, kata Aris, ayam yang telah dipotong dan dimasak setengah matang itu diungkep atau yang lebih dikenal dikukus dengan bumbunya yang terdiri dari bawang putih, lengkuas, jahe dan garam secukupnya. Ayam potong tersebut diungkep sekitar lima belas menit, kemudian diangkat dan langsung di goreng.

Begitu ayam sudah digoreng, sajikan diatas piring lengkap dengan sambal terasi, dan aneka lalap. Maka jadilah ia masakan bernama ayam kalasan. Memakan ayam kalasan enaknya dengan nasi putih plus kerupuk merah. Ayam kalasan dapat dijadikan menu makan siang atau malam. Atau bagi yang suka gorengan ayam tanpa nasi juga dapat langsung dimakan.

Narasi dan foto Gusliyanti (Singgalang Minggu)

 

Nasi Sala, Penggugah Selera Februari 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 8:24 am

Berkunjung ke Nagari Piaman Laweh tentunya tak asing mencicipi yang namanya nasi sek di tepi Pantai Gandoriah Pariaman. Namun selain itu kota Pariaman juga menyuguhkan banyak hidangan lain penggugah selera, pengganjal perut tatkala keroncongan.

Ya, salah satunya yakni nasi sala. Orang menyebutnya nasi sala karena memang lauk yang digunakan dilumuri dengan adonan sala lauak yang merupakan penganan khas Kota Tabuik itu. Sekilas memang tak nampak beda dengan nasi sek, mengingat nasinya dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut seperti  pada nasi sek.

Namun jangan salah, kekhasannya terletak pada lauk yang dibaluri adonan sala tadi beserta sayur pucuak ubi (daun ketela muda) yang dengan kuah bening plus ditambah sambalado merah (cabe merah) dengan terasi sekaligus teri bakar. Wuihh, rasanya enak tenan.

Nasi sala ini biasa dijual pedagang sekitar Pantai Gandoriah di depan rel kereta api dekat stasiun kereta Pariaman. Anda bisa menikmati nasi sala ini pada pagi hari karena ikan yang digoreng sala merupakan ikan segar yang langsung diperoleh dari nelayan sekitar yang pulang melaut. Tak heran ikannya terasa begitu gurih dan segar. Dan pedagang biasa menggunakan ikan garigak karena teksturnya yang lembut dan tidak banyak tulang.

Seekor ikan sala garigak dijual dengan harga Rp5000, nasi Rp1000/bungkus dan sala lauak dijual Rp1000 untuk 4 buah. Selain itu di sini juga disediakan pergedel kentang yang dijual Rp1000/potong. Meski terkesan sederhana namun kenikmatannya sungguh luar biasa.

Adonan sala yang dibaluri pada ikan garigak tadi terbuat dari tepung beras yang dicampur berbagai rempah-rempah dan irisan daun kunyit, ditambah sedikit kapur sirih untuk membuatnya semakin renyah. Dan jika ingin dijadikan oleh-oleh lauak sala tadi cukup dipanasi saja dengan minyak panas.

Nah, mampir ke Pariaman jangan lupa mencicipi nasi sala yang murah namun sangat menggugah selera. Selain suasana sejuk karena dekat dengan pantai, suasana sarapan pagi semakin mengasikkan tatkala kereta api melintasi rel. Piaman Laweh memang terkenal dengan masakan sederhananya yang begitu menggugah selera. Meski berupa hidangan sayua pucuak ubi dan sambalado terasi namun racikannya terasa begitu istimewa.  

(Sagita Widuri – Singgalang Minggu)

   

 

Lotek, Bebas Kolesterol Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 4:47 am

lotek.jpg PENGANAN murah meriah, sekaligus sehat dan bebas kolesterol, salah satunya, agaknya, adalah lotek.Dikatakan murah meriah karena harganya yang  relatif terjangkau oleh kantong siapa saja. Sekitar Rp.2500,- sampai Rp. 5000,- seporsi lotek sudah bisa dibawa pulang. Disebut  sehat, karena bahan bakunya terdiri dari bermacam sayuran. Dikategorikan bebas kolesterol karena memang tak terdapat unsur lemak jenuh di dalamnya, selain hanya lemak nabati yang terdapat pada kacang tanah sebagai bahan kuahnya.
 
Belum diketahui secara pasti dari daerah mana penganan lotek ini berasal. Namun diduga  lotek berasal dari daerah pulau Jawa sana, karena bahannya mirip bahan pecal. Lotek dengan pecal memang  mirip. Perbedaannya  hanya  pada bahan sayurannya. Bahan pecal terdiri dari sayuran seperti, kangkung, lobak, kacang panjang, jantung pisang, adakalanya mie kuning,  dan lain lain. Sedangkan lotek terdiri dari mie kuning, lobak, ketimun, tahu, kentang, dan lain-lain.
 
Penjual  lotek banyak tersebar di mana-mana. Karena itu penganan ini mudah  dijumpai di mana saja. Di kota Padang, ada banyak penjual lotek yang cukup terkenal,  lantaran rasa dan aroma loteknya yang khas dan mengundang selera. Seperti lotek Depan Puskud di daerah Ulakkarang, misalnya. Terus, ada lagi Lotek 18 A di bilangan jalan raya Siteba, atau  lotek Keneang di daerah Pagang Luar, dan banyak lagi  tempat makan lotek enak lainnya.

Membuat penganan lotek taklah terlalu sukar. Anda cukup menyediakan beberapa macam bahan utama, seperti mie kuning, kentang, lobak, ketimun, tahu, kerupuk merah, dan  kacangtanah sebagai bahan kuahnya. Selain itu ada juga bahan lain, seperti  bawang putih, cabe rawit, asam kesturi dan  garam.

Cara membuatnya, cabe rawit, bawang putih, garam dihaluskan bersama   kacangtanah. Lalu diberi air secukupnya. Setelah dirasa pas, masukkan bahan utama tadi, ketimun, lobak, kentang, tahu, mi kuning yang sudah diiris/dipotong sesuai selera. Bahan utama lalu digelimangkan ke kuah kacang tadi. Setelah tercampur rata, lotek sudah siap disajikan dengan terlebih dahulu ditambahkan kerupuk merah dan bawang goreng. Lotek pun siap untuk disantap.

Narasi dan foto Charlie Ch. Legi (Koran Singgalang Minggu)
 
 

 

Bika Lintau Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 4:36 am

kue.jpgJIKA anda berkunjung ke kota Payakumbuh terutama pada hari Kamis dan Minggu yang merupakan hari balai (hari pasar), Anda akan menemukan aneka penganan, kue-mueh, yang dijual oleh para amai-amai, oncu-oncu dan ongah-ongah, bahkan juga para gadih-gadih kota itu. Ada gelamai, botiah, pinyaram, pias, bareh randang, ladu, dan aneka jenis penganan  khas Payakumbuh lainnya.

 Diantara penganan yang banyak itu, terdapat satu penganan yang bentuknya cukup menarik, berwarna merah jambu (pink) bercampur putih, dan ada juga yang berwarna coklat. Penganan ini ukurannya cukup besar dan ditaruh diatas daun pisang. Penganan ini bernama bika lintau.

 Sebenarnya bika lintau ini sejatinya  adalah sejenis kue apam juga. Akan tetapi karena bentuknya yang besar dan mirip dengan bika, akhirnya masyarakat setempat  menamai penganan ini dengan bika lintau. Mungkin dulunya penganan ini berasal atau dibuat oleh orang Lintau (Tanah Datar) mengingat kedua daerah ini cukup berdekatan
 Harga bika lintau cukup murah. Berkisar antara Rp.2000,- sampai Rp.3000,-.sebiji.  Relatif murah memang dibanding  ukurannya yang lumayan  besar, tak habis berdua sekali makan.

 Menurut  oncu-oncu penggalas  bika lintau yang ditemui di Pasar Payakumbuh, bahan baku penganan ini adalah tepung beras. Cara pembuatannya, tepung beras dicampur dengan ragi dan santan kelapa. Lalu dipangok (didiamkan) selama semalam. Setelah itu  adonan tadi dikukus. Jika ingin kue bika berwarna merah jambu dan putih, cukup tambahkan gincu merah dan gula. Sedangkan warna coklat cukup dengan menambahkan gulo saka (gula tebu).

 Nah, bila anda berkunjung ke Payakumbuh bersama keluarga atau si dia tercinta, jangan lupa mampir ke pasar Payakumbuh untuk membeli kue bika lintau yang rasanya sabona lomak itu. Narasi dan foto Charlie Ch. Legi (Koran Singgalang Minggu)