Berkunjung ke Negeri Asal para Tokoh Nasional

Sumatra Barat sangat terkenal dengan keindahan alam, seni dan budaya. Sehingga tak heran, Ranah Minang ini menjadi salah satu destinasi unggulan nasional. Sekarang Singgalang mengajak Anda untuk berwisata sejarah ke Agam, namun bukan mengunjungi Danau Maninjau atau Puncak Lawang yang sangat bagus untuk kegiatan paralayang.

 

Tak lain tak bukan, mengarungi wisata sejarah Agam, memiliki belasan tokoh nasional yang banyak berkiprah dalam merebut dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Pernahkah Anda mendengar nama Buya Hamka, Rasuna Said, M. Natsir, Isa Anshari, Abdul Karim Amurullah. Mereka itu berasal dari daerah Maninjau  dan berjuang hingga tingkat nasional.

 

Entah kenapa daerah ini menjadi penghasil tokoh-tokoh nasional. Mungkin saja, lantaran alam yang tenang, membuat mereka berfikir lebih jernih atau lantaran ikan rinuak yang terkenal mengandung banyak gizi. Wallahuwalam, hanya Tuhan yang tahu semua rahasia alam itu.

 

Bila kita berada di Pasar Maninjau, sekitar 50 meter terlihat rumah berwarna kuning dengan ornamen rumah adat di atapnya. Rumah ini cukup bagus, mungkin telah direnovasi. Itu adalah rumah M. Natsir seorang tokoh nasional. Meski secara formal belum dilegal­kan menjadi tokoh nasional, tetapi di hati rakyat dan bangsa Indonesia telah menjadi tokoh nasional.  Sebab begitu banyak jasa yang telah diberikan untuk bangsa dan

negara ini. Dia seorang ulama pendiri partai Islam Masyumi yang sekaligus menjadi Ketua. Lalu, pimpinan Dewan Dakwah Islam Indo­nesia (DDII). Dan juga pernah menjabat Perdana Mentri pada orde lama.

 

Tak jauh dari tempat itu, di jalan H. Oedin Rahman, Panyinggahan kita menemukan pula sebuah rumah tua berlantai dua. Sekarang, rumah itu telah beralih fungsi menjadi musala. Di tempat itulah  seorang tokoh nasional wanita, Rasuna Said lahir dan dibesarkan.

Dia seorang tokoh wanita yang terlahir pada tahun 1910 dan wafat  1965.

 

Rasuna said, sangat gigih berjuang dan juga memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Ia sangat menentang kebijakan-kebijakan politik Belanda melalui orasi dan pidatonya. Sehingga tak heran pada tahun 1932, dia ditangkap dan dipenjara. Meski demikian, tak membuatnya menjadi surut dalam berjuang, malah semakin gigih. Dia juga berkecimpung dalam pendidikan, pers dengan mendirikan maja­lah menara. Di masa karirnya pernah menjabat anggota DPR RIS dan Dewan Pertimbangan Agung hingga sang ajal datang.

 bapak-hamka.jpg

Penat di rumah Rasuna Said bisa kita melanjutkan perjalanan ke rumah Hamka. Kondisi rumah, sudah sangat bagus lantaran telah dipugar dan semakin dilengkapi dengan benda-benda yang dipakai oleh Hamka beserta karya-karyanya. Juga tak ketinggalan, banyak foto tentang dirinya. Semua informasi tersedia lengkap di sini. Musala sendiri juga dibangun oleh Hamka yang berjarak beberapa meter dari rumah. Ini menandakan, Hamka adalah seorang yang taat menjalankan ibadah. Wajar saja, dia menjadi seorang tokoh ulama nasional asal Sumbar. Namanya, tak hanya termasyhur di Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Malay­sia dan negara timur tengah. Dia bukan saja seorang ulama, tetapi juga seorang sastrawan.

 

Hamka  dilahirkan di Kampung Moelek pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1981 di Jakarta. Hamka adalah seorang ilmuwan yang otodidak dalam segala ilmu pengetahuan seperti sastra, filsafat, sejarah sosial dan politik.

 

Lalu ke Batu Gadang yang cukup jauh dari Rumah Hamka, terdapat rumah tua, tempat kelahiran dan dibesarkannya KH. Isa Anshari tokoh nasional dalam Partai Masyumi juga. Dia terkenal sebagai singa podium, lantaran pidatonya yang berapi-api membuat orang berse­mangat. Lalu, bila yang disinggung itu seorang tokoh bangsa seperti Bung Karno yang ketika itu tengah berkuasa, maka wajar saja mendapat hukuman penjara selama 4,5 tahun.

 

Meski demikian, kecintaannya kepada sang tokoh bangsa juga tak luntur. Itu terlihat dari foto besar Bung Karno yang dipajang di rumah tua tempat dia lahir dan dibesarkan tersebut. Dia terlahir pada tahun 1916 dan wafat 1969. Isa Anshari bukan saja sebagai seorang orator, tetapi juga politikus, penulis dan aktivis.

 

Dalam jangka waktu dekat, menurut cucunya Irvan akan dibangun semacam monumen dan museum yang mengumpulkan segala informasi tentang dia. Saat ini, telah terkumpul sekitar 60 persen koleksi dan sesuatu yang berkaitan dengan Isa Anshari.

 

Masih banyak tempat-tempat sejarah lain yang bisa dikunjungi wisatawan. Bisa saja wisata alam, dipadu dengan wisata sejarah. Bila berbicara tentang wisatawan yang banyak berkunjung ke daerah ini, mereka berasal dari Malaysia dan Timur Tengah yang menjadi murid Buya Hamka dan bapaknya Abdul Karim Amrullah (inyiak De Er).

 

Wisata sejarah bukan saja mengasyikan, biayanya pun cukup murah. Cocok sekali bagi yang hobi mempelajari tentang sejarah Indonesia, para ilmuwan, anak sekolah dan mahasiswa.

Narasi dan foto J.e Syawaldi CH-Singgalang Minggu

One Response to “Berkunjung ke Negeri Asal para Tokoh Nasional”

  1. saya sedang menulis buku tentang maninjau, saya sangat terbantu dengan artikel ini, yang beda dai artikel kebanyakan tentang maninjau.

Leave a Reply