IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Visit the Land of National Figures Maret 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Travel (English Version) — iuukp @ 7:06 am

Agam has a particular note in Indonesian history. It is a region where national figures were born and gave contribution to Indone­sian Independence. Popular figures like Buya Hamka, Rasuna Said, M. Natsir, Isa Anshari, Abdul Karim Amurullah are associated to Agam regency.

Starting first step from Maninjau Market. 50 Metres from that central trading stands a yellow old house with Rumah Gadang ornament on the roof. That house belonged to one of national leader M. Natsir.

Only few steps from that house on Jl. H. Oedin Rahman, Panyinggahan there is another two-floor old house. It is now functioned as a small mosque. In that house in 1910, Rasuna Said, a female national figure was born.

After having relaxed in Rasuna Said’s house, take the time to pay a visit to Hamka’s House. Hamka was one of national profile whose popularity reached international level. In his time he was known as an influential author producing phenomenal works.  Just like his legendary, his house is well maintained. Visitor could get the impression of Hamka by seeing his historical pictures and house designed.

 Fairly further from Hamka’s residence, in Batu Gadang there is also another old dwelling where KH. Isa Anshari- a national leader of Masyumi Party- was born. Due to his communication skill as orator, he was called “a lion of podium”. The way he delivered a speech could influence spectators’ spirit. Despite his critical thought to Soekarno, his love to Soekarno was timeless. At least it is shown by the picture of Soekarno picture in that house.

 According to Anshari’s grand child, Irvan, nearly a monument and a museum will be built. The building is aimed to enliven Anshari’s spirit and to keep historical assets. Today, more than 60 percent of Anshari’s stuffs have been collected.

 Visiting Agam, particularly Maninjau will widen our knowledge and soothe our mind. There we can experience priceless trip by enjoying the respectable combination of historical sites and beautiful sceneries.  Yuhendra

 

Berkunjung ke Negeri Asal para Tokoh Nasional Maret 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 7:04 am

Sumatra Barat sangat terkenal dengan keindahan alam, seni dan budaya. Sehingga tak heran, Ranah Minang ini menjadi salah satu destinasi unggulan nasional. Sekarang Singgalang mengajak Anda untuk berwisata sejarah ke Agam, namun bukan mengunjungi Danau Maninjau atau Puncak Lawang yang sangat bagus untuk kegiatan paralayang.

 

Tak lain tak bukan, mengarungi wisata sejarah Agam, memiliki belasan tokoh nasional yang banyak berkiprah dalam merebut dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Pernahkah Anda mendengar nama Buya Hamka, Rasuna Said, M. Natsir, Isa Anshari, Abdul Karim Amurullah. Mereka itu berasal dari daerah Maninjau  dan berjuang hingga tingkat nasional.

 

Entah kenapa daerah ini menjadi penghasil tokoh-tokoh nasional. Mungkin saja, lantaran alam yang tenang, membuat mereka berfikir lebih jernih atau lantaran ikan rinuak yang terkenal mengandung banyak gizi. Wallahuwalam, hanya Tuhan yang tahu semua rahasia alam itu.

 

Bila kita berada di Pasar Maninjau, sekitar 50 meter terlihat rumah berwarna kuning dengan ornamen rumah adat di atapnya. Rumah ini cukup bagus, mungkin telah direnovasi. Itu adalah rumah M. Natsir seorang tokoh nasional. Meski secara formal belum dilegal­kan menjadi tokoh nasional, tetapi di hati rakyat dan bangsa Indonesia telah menjadi tokoh nasional.  Sebab begitu banyak jasa yang telah diberikan untuk bangsa dan

negara ini. Dia seorang ulama pendiri partai Islam Masyumi yang sekaligus menjadi Ketua. Lalu, pimpinan Dewan Dakwah Islam Indo­nesia (DDII). Dan juga pernah menjabat Perdana Mentri pada orde lama.

 

Tak jauh dari tempat itu, di jalan H. Oedin Rahman, Panyinggahan kita menemukan pula sebuah rumah tua berlantai dua. Sekarang, rumah itu telah beralih fungsi menjadi musala. Di tempat itulah  seorang tokoh nasional wanita, Rasuna Said lahir dan dibesarkan.

Dia seorang tokoh wanita yang terlahir pada tahun 1910 dan wafat  1965.

 

Rasuna said, sangat gigih berjuang dan juga memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Ia sangat menentang kebijakan-kebijakan politik Belanda melalui orasi dan pidatonya. Sehingga tak heran pada tahun 1932, dia ditangkap dan dipenjara. Meski demikian, tak membuatnya menjadi surut dalam berjuang, malah semakin gigih. Dia juga berkecimpung dalam pendidikan, pers dengan mendirikan maja­lah menara. Di masa karirnya pernah menjabat anggota DPR RIS dan Dewan Pertimbangan Agung hingga sang ajal datang.

 bapak-hamka.jpg

Penat di rumah Rasuna Said bisa kita melanjutkan perjalanan ke rumah Hamka. Kondisi rumah, sudah sangat bagus lantaran telah dipugar dan semakin dilengkapi dengan benda-benda yang dipakai oleh Hamka beserta karya-karyanya. Juga tak ketinggalan, banyak foto tentang dirinya. Semua informasi tersedia lengkap di sini. Musala sendiri juga dibangun oleh Hamka yang berjarak beberapa meter dari rumah. Ini menandakan, Hamka adalah seorang yang taat menjalankan ibadah. Wajar saja, dia menjadi seorang tokoh ulama nasional asal Sumbar. Namanya, tak hanya termasyhur di Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Malay­sia dan negara timur tengah. Dia bukan saja seorang ulama, tetapi juga seorang sastrawan.

 

Hamka  dilahirkan di Kampung Moelek pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1981 di Jakarta. Hamka adalah seorang ilmuwan yang otodidak dalam segala ilmu pengetahuan seperti sastra, filsafat, sejarah sosial dan politik.

 

Lalu ke Batu Gadang yang cukup jauh dari Rumah Hamka, terdapat rumah tua, tempat kelahiran dan dibesarkannya KH. Isa Anshari tokoh nasional dalam Partai Masyumi juga. Dia terkenal sebagai singa podium, lantaran pidatonya yang berapi-api membuat orang berse­mangat. Lalu, bila yang disinggung itu seorang tokoh bangsa seperti Bung Karno yang ketika itu tengah berkuasa, maka wajar saja mendapat hukuman penjara selama 4,5 tahun.

 

Meski demikian, kecintaannya kepada sang tokoh bangsa juga tak luntur. Itu terlihat dari foto besar Bung Karno yang dipajang di rumah tua tempat dia lahir dan dibesarkan tersebut. Dia terlahir pada tahun 1916 dan wafat 1969. Isa Anshari bukan saja sebagai seorang orator, tetapi juga politikus, penulis dan aktivis.

 

Dalam jangka waktu dekat, menurut cucunya Irvan akan dibangun semacam monumen dan museum yang mengumpulkan segala informasi tentang dia. Saat ini, telah terkumpul sekitar 60 persen koleksi dan sesuatu yang berkaitan dengan Isa Anshari.

 

Masih banyak tempat-tempat sejarah lain yang bisa dikunjungi wisatawan. Bisa saja wisata alam, dipadu dengan wisata sejarah. Bila berbicara tentang wisatawan yang banyak berkunjung ke daerah ini, mereka berasal dari Malaysia dan Timur Tengah yang menjadi murid Buya Hamka dan bapaknya Abdul Karim Amrullah (inyiak De Er).

 

Wisata sejarah bukan saja mengasyikan, biayanya pun cukup murah. Cocok sekali bagi yang hobi mempelajari tentang sejarah Indonesia, para ilmuwan, anak sekolah dan mahasiswa.

Narasi dan foto J.e Syawaldi CH-Singgalang Minggu

 

Pilgrimage and Maritime Tourism in Ulakan Pariaman Maret 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Travel (English Version) — iuukp @ 6:42 am

 ulak2.jpg

Visiting Pariaman means seeing a lot of tourism sites. Being located by Samudera Hindia makes Pariaman famous of its wondrous beach. There is Pantai Gondoriah which is close to Pariaman City and well-known of its specific food, Nasi Sek.  Moving further 15 KM to northern side are locations of Pantai Kata, Lubuk Bonta, Tapian Puti dan various beautiful tourism objects.

            Besides those beaches, Pariaman has other worth seeing places; Pulau Piai and other religious tourism objects in Ulakan, Pariaman. Pulau Piai itself has fabulous natural resources with beautiful coral beneath.   No wonder many tourists enjoy diving there. Not much further, there is Ulakan located around 10 KM from central Pariaman. The 1 KM-length beach is precious and has white clean sand.

Ulakan is also famous of a grave of Syekh Burhanudin, a very popular Islamic preacher in his times. It is known that he was a great moslem leader who successfully spread Islam around Sumatera Barat. His dedication resulted many followers and increased Islam spreading. He died in  When he died, his burial took place in Ulakan.

            Up to present, his legendary makes people want to visit his grave. People come there both for pilgrimage which is known as Basafa, and sight-seeing.  Basafa procession is conducted annually based on Islamic calender, every Syafar.  

            Entering Syekh Burhanuddin’s grave  yard will be welcome by street vendors selling pilgrimage stuffs, souvenirs and local food. Even the number of vendors are many more on Basafa days to greet visitors and expect benefit from them.

            Those who come for Basyafa are usually from Syafei and Syatariah tuitions  followers. But, according to community living around Ulakan, those from Naksabandiyah and Sammaniyah tuitions sometimes do the same thing there.

            Visitors are normally 50 year-aged people.Their intention is not only  for pilgrimage but  to get their spiritual close to the Almighty.   

In Syafar month, people can even stay in Ulakan for 40 days. They do not need to worry about homestay since there are Surau to stay which are only open in Syafar for visitors.

            It is also known that some high rank officers came to Syekh Burhanuddin’s grave. There were Gus Dur, Wiranto, Taufik Kiemas, and many more. Uniquely, some local officers also pay a visit to the grave before a public election.

            Syekh Burhanuddin was a moslem who believe in Syafei teachings and Syattariah. He was named Pono when he was a child. He learned about Islam to Syekh Abdul Alif. When Syekh Abdul Alif got old, he suggested him to learn more about Islam in Aceh to Syekh Abdul Ra’uf. He returned home and started teaching what he got in his home town before continue across West Sumatera Barat.

            There are some historical stuffs he left and now become objects to see in Ulakan. Some of the sutuffs are clothes, belt, hat and Holly Quran which is assumed 200 year old. Those stuffs are safely kept in a cabinet of small surau. Visitor can only see them during Basyafa. Yuhendra

 

 

 

Berwisata Ziarah & Bahari ke Ulakan Pariaman Maret 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 6:29 am

  ulak.jpg                                            

BILA berkunjung ke  Pariaman, kita akan temui banyak  objek wisata yang menarik untuk dilancongi. Karena Pariaman berada persis di bibir pantai Samudera Hindia, maka wisata pantailah yang banyak mendominasi objek-objek wisata di sana.

            Mulai dari Taman Wisata Pantai Gondoriah, yang terletak di tengah kota Pariaman dan  terkenal dengan  hidangan nasi sek serta  masakan lautnya.  Sampai ke Pantai Arta,   sekitar 15 km arah utara, Pantai Kata, Lubuk Bonta, Tapian Puti dan aneka objek wisata lainnya yang terkenal rancak dan elok.

            Selain objek wisata tersebut, ada objek wisata lain yang tak kalah bagusnya. Yaitu objek wisata Pulau Piai dan objek wisata religi di daerah Ulakan, Pariaman.

Ulakan yang  letaknya lebih kurang 10 km dari Kota Pariaman ini, pantainya sangatlah indah dan menawan. Pantai Ulakan yang  panjangnya lebih kurang 1 km itu cukup bersih dan berpasir putih. Selain itu   terdapat pula sebuah pulau yang bernama Pulau Piai. Dari penyelidikan yang dilakukan, di pulau ini tersimpan kekayaan alam yang luar biasa. Terumbu karang yang terdapat di pulau ini termasuk terumbu karang yang terindah. Dan saat ini banyak para pelancong yang melakukan penyelaman di Pulau Piai, menikmati indahnya pesona bawah laut. 

Selain objek wisata pantai, di Ulakan juga terdapat objek wisata religi, yakni makam  Syekh Burhanudin, seorang   ulama agama Islam yang sangat terkenal dan telah berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Sumatera Barat. Syekh Burhanuddin adalah ulama besar yang pernah menuntut ilmu agama Islam  di negeri Serambi Mekah,  Aceh.

Sekembali dari Aceh, Burhanuddin  menyebarkan ajaran agama Islam di kampung halamannya, Ulakan, Pariaman. Lalu menyebarluaskan lagi ajaran tersebut melalui para pengikutnya sampai ke pelosok dan pedalaman Sumatera Barat. Setelah berhasil dan memiliki banyak murid dan pengikutnya,  ia   akhirnya wafat dan dikebumikan di Ulakan, Pariaman.

            Makam Syekh Burhanuddin hampir tiap saat  dikunjungi. Baik  oleh para penganut agama Islam yang ingin basafa, maupun oleh  para wisatawan lainnya untuk menikmati keindahan alam dan pantainya. Acara basafa biasanya dilakukan pada saat bulan Syafar. Saat itulah dimana makam Syekh Burhanuddin ramai dikunjungi oleh para peziarah.    

            Makam Syekh Burhanuddin terletak dalam sebuah kompleks pemakaman khusus. Sebelum memasuki kompleks pemakaman ini, ada banyak para  pedagang yang berjualan di sekitarnya. Seperti alat-alat/sesajen untuk melakukan ritual, cenderamata. Disampinhg itu juga ada penjual penganan laut seperti, ikan goreng, udang goreng, kepiting goreng, termasuk sipasan lauik goreng, dan sebagainya. Sipasan lauik dipercayai dapat mengobati anak yang suka ngompol di kasur malam hari.

Pada saat Basafa, biasanya jumlah para pedagang akan lebih banyak lagi. Umumnya pedagang tersebut tak hanya berasal dari seputaran makam, namun juga dari luar Ulakan, yang sengaja datang mencari untung di sana.

            Ramainya peziarah saat Basafa, akan sangat terasa ketika akan memasuki gerbang/gapura. Begitu juga saat memasuki makam Syekh yang dibangun bercungkup dengan jeruji besi di sekelilingnya.

            Peziarah yang melakukan kegiatan Basafa adalah dari kalangan penganut mazhab Syafei dan tarekat Syattariah. Karena Syekh Burhanuddin adalah seorang penganjur mazhab dan tarekat itu. Namun dari keterangan warga setempat, peziarah yang datang tak cuma dari kalangan tarekat Syattariah saja, melainkan  juga dari tarekat lainnya  seperti Naksabandiyah dan Sammaniyah.

            Para peziarah yang mengunjungi makam Syekh Burhanuddin umumnya terdiri dari para orangtua yang berumur lebih dari 50 tahun. Selain berziarah, mereka mendatangi makam Syekh Burhanuddin sekaligus juga sambil untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta,  mereka lakukan di makam Syekh Burhanuddin  karena lebih khusyuk.

            Para peziarah  jumlahnya mencapai puluhan ribu orang pada bulan Safar.  Mereka biasanya menetap di sana selama 40 hari. Mereka  tak terlalu memusingkan tempat untuk menginap. Karena di seputaran makam terdapat beberapa unit surau sebagai tempat menginap.  Surau ini, anehnya hanya buka pada saat bulan Syafar saja. Jadi bila anda datang berkunjung pada saat di luar bulan Syafar, jangan harap anda akan bisa menaiki surau untuk melakukan ibadah salat.

            Peziarah yang datang ke makam Syekh Burhanuddin tak saja dari kalangan orang biasa. Para pejabat penting pun pernah singgah dan melakukan ziarah ke sini.  Seperti Gus Dur, Wiranto, Taufik Kiemas, dan banyak para pejabat lainnya. Entah dengan maksud apa, yang pasti, pada saat menjelang pilkada, para calon kepala daerah biasanya sering  datang berkunjung ke makam Syekh Burhanuddin.

            Siapakah Syekh Burhanuddin?

            Syekh Burhanuddin adalah seorang penganut Islam, bermazhab Syafei dan tarekat Syattariah. Syekh Burhanuddin bernama asli Pono. Ia belajar agama kepada gurunya yang bernama Syekh Abdul Alif. Syekh Abdul Alif memberikan pendidikan agama Isalm kepada Pono, sampai sang guru mendekati uzur. Ketika telah uzur, sang guru  menganjurkan agar Pono melanjutkan pendidikan ilmu agamanya ke Aceh. Di Aceh, Pono belajar agama dengan guru barunya, Syekh Abdul Ra’uf. Setelah mendapat ilmu agama yang cukup banyak, ia lalu kembali ke daerah asalnya (Ulakan) untuk menyebarkan agama kepada masyarakat setempat. Ulakan-lah yang menjadi tempat pertama ia menyebarkan agama Islam di Minangkabau, dengan mendirikan sebuah surau di sana sebagai surau pertama.

            Banyak bukti peninggalan sejarah yang ditinggalkan oleh Syekh Burhanuddin, selain agama Islam. Bukti peninggalan lain ialah  berupa pakaian, celana panjang, jubah, topi, ikat pinggang, dan sebuah kitab suci Al-quran yang masih utuh dan diperkirakan berusia 200 tahun. Semua itu disimpan di sebuah surau yang dinamakan surau ketek. Benda-benda ini dahulunya selalu dipakai Syekh saat menyebarkan agama Islam di negeri ini.

            Semua peninggalan Syekh Burhanuddin disimpan di sebuah lemari dan dijaga oleh penghuni surau ketek itu. Untuk melihat benda peninggalan tersebut tak bisa sembarang waktu. Hanya pada saat musim basyafa kita bisa melihatnya. Narasi dan foto

Charlie Ch. Legi-Singgalang Minggu

           

 

Modern nan Berbudaya Maret 19, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 3:40 am

iuukp2.jpgZaman sekarang atau saat ini hidup berbudaya itu dianggap kuno dan cenderung bersifat kampungan. Pernyataan ini jugalah yang membuat generasi muda sekarang gampang terpengaruh budaya barat dan bertindak sembarangan terbukti dengan berkurangnya rasa hormat antara anak muda terhadap Orang Tua.

Minangkabau terkenal dengan “kato nan ampek” yaitu kato mandaki, kato malereng, kato mandata, dan kato manurun. Sekarang kato nan ampek itu nyaris hilang dan lenyap. Berbicara dengan orang tua yang seharusnya sopan dan hormat, sekarang menjadi kasar dan tidak sopan. Malahan ada yang berbicara dengan orang tuanya menggunakan kato mandata, yang ibaratnya berbicara dengan orang yang sama besar.

Belum lagi dengan cara berpakaian orang Minangkabau saat ini.
Bagi yang perempuan saat malah suka pakai baju terbuka. Dimana baju kuruang yang dulu dipakai oleh “Bundo Kanduang” kita dahulu…???

Padahal pada dasarnya baju kuruang itu adalah baju yang menjadi ciri khas serta cermin budaya orang Minangkabau, dan bila kita lihat, wanita yang memakainya akan kelihatan lebih cantik dan anggun jika memakai baju kuruang tersebut. Tidak hanya perempuan yang laki- laki pun ikut- ikutan pakai baju jangkis, yang sangat tidak bagus dipandang mata.

Tidak hanya generasi muda saja yang merusak citra budaya Minangkabau, para orang tuapun ternyata ikut terseret dengan arus modernisasi ini. Malahan bayak di antara orang tua yang memberikan contoh yang buruk pada anak-anak mereka. Kita bisa lihat kenyataan ini dalam kehidupan kita sehari-hari, contoh kecil saja banyak dan sering kita lihat bapak- napak berjudi di warung- warung atau paling tidak ngabisin waktu. Dimana adat istiadat yang telah ditanamkan oleh orang tua kita dahulu? Kemana hilangnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak patut untuk dipertanyakan, karena seharusnya kita sendiri sudah bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh kesadaran diri masing- masing. Semua ini terjadi, karena kita yang mudah terpengaruh budaya asing dan pengaruh-pengaruh buruk dari orang-orang yang melakukan penyimpangan sosial yang bertolak belakang dengan budaya kita sendiri. Lalu apakah ini yang kita sebut modernisasi?

Pertanyaan ini pun harusnya kita sama- sama tau, bahwa modernisasi ini bukan berarti kita melenyapkan nilai budaya kita sendiri, malahan modernisasi adalah merupakan inisiatif dan sistem yang membawa kita pada kemajuan teknologi yang tetap kaya dengan budayanya.
Haruskah ada pernyataan “Selamat tinggal Minangkabau atau rumor habis Minang tinggal kabaunya…?

Jawabannya tentu saja tidak. Maka dari itu, mari kita jadikan Budaya Minangkabau ini benar-benar mendarah daging dan terwujud melalui sikap dan tingkah laku kita sehari-hari, karena tanggung jawab kitalah untuk menjaga dan melestarikan ciri budaya bangsa, ciri budaya Minangkabau ini. Kita jadikan daerah kita Minangkabau ini menjadi daerah yang maju dan modern yang tetap kaya kan budaya dan adat istiadatnya.

Oleh Eli-IUUKP Jelas Beda!!

 

Pasar Tanah Kongsi, Shopping in Oriental Atmosphere Maret 14, 2008

Diarsipkan di bawah: Travel (English Version) — iuukp @ 7:27 am

pasar8.jpg

Morning has just broken. Like in every market in Padang, that morning Pasar Tanah Kongsi enliven by regular activities. While merchants arrange their stuffs, buyers come with investigating eyes selected vendors they are going to shop.

Unlike other markets, Pasar Tanah Kongsi has something different in atmosphere. Not because artificial sound of swallows from old houses around which are transformed into swallow nests, but sort stuffs being sold are pretty different from what we found in other ones.

Chinese food aroma from food vendors make it more distinguished. The aroma of Kwetiau, fried noodle, fride rice with oriental recipe get along with visitors. In addition to its oriental atmosphere, most of the buyers and the merchants are slanted-eyed people.

Going shopping to Pasar Tanah Kongsi can be easy by getting on public transport with route Gadut-Pasaraya which costs Rp1500 to  Rp2000. The location is not far from Jalan HOS Cokroaminoto, or Simpang Pulau Karam.

The market which is the same age with Padang Old City usualy starts the crowds in early morning. It ends its activities around 11.00-12.00. The busyness could be seen when we start step in to Kali Kecik, the entrance of the market. Along Kali Kecik we can see old buildings with colonialism touch. The name of Kali Kecik comes after the small drainage behind those buldings.

Shopping in Pasar Tanah Kongsi gives particular comfort. It is not as wet and dirty as other satelite markets. Vegetables merchants offer are fresh which mostly used for chinese food. Fruits are fresh and various and some of them are imported and so are fishes and meat. Since they are fresh and in good quality, it does make sense the price is little bit higher than normal.

Since the market is located in Chinese area, any stuffs for chinese ceremony are easily found in shops there. Those who loves to have chinese ornaments or like to cook chinese food can satisfy their passion there.

Despites its chinese majority and its oriental atmosphere, buyers and merchants are interacial. Yet, the exsistance of the market gives different color of social life and contributes particular value in tourism.Yuhendra