IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Nikmati Pesona Pantai Carocok Painan Februari 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 8:53 am

carocok1.jpgSebelum dijadikan kawasan wisata, Carocok merupakan daerah pemukiman penduduk. Bahkan penduduk setempat tidak jarang menyebut Pantai Carocok dengan sebutan “kandang jawi” atau dalam bahasa Indonesia-nya disebut “Kandang Sapi”. Hal ini disebabkan karena kawasan Pantai Carocok dijadikan oleh penduduk sebagai tempat menambatkan sapinya.

Namun sejak tahun 80-an kawasan Pantai Carocok mulai dikunjungi oleh masyarakat, terutama masyarakat Painan dan daerah-daerah di sekitar Painan. Masyarakat merasa tertarik untuk datang ke Pantai Carocok karena pantai ini memiliki pemandangan yang indah, apalagi dikala senja datang, penduduk dapat dengan nyaman dan jelas melihat matahari terbenam di ufuk barat.

Objek wisata Pantai Carocok Painan mempunyai dua kawasan. Kawasan dalam dan luar. Di kawasan luar yang dapat dinikmati adalah pemandangan laut. Di lokasi luar objek wisata Pantai Carocok ini tersedia beberapa fasilitas seperti warung-warung makanan dan minuman, fasilitas sanitasi (MCK) dan musala, tempat parkir. Untuk lokasi luar ini tidak dipungut bayaran, namun jika ingin ke lokasi dalam maka pengunjung di pungut bayaran.

Kawasan dalam Pantai Caroccok Painan merupakan pusat objek wisata. Pantai yang indah dengan latar Teluk Painan ditemukan di sini. Selain menikmati laut lepas, kawasan ini di lengkapi dengan gazebo tempat bersantai, jembatan apung yang dibangun di atas laut, pentas apung yang dimanfaatkan jika ada acara di sekitar Pantai Carocok.

Kawasan dalam Pantai Carocok Painan adalah tempat rekreasi pantai yang cukup lengkap. Pantai Carocok sangat cocok untuk kegiatan berenang, tempat bermain anak-anak, bersantai dan rekreasi keluarga.

Pantai Carocok terletak lebih kurang 1 km dari Kota Painan. Berbagai cara dapat ditempuh untuk dapat sampai ke objek wisata ini. Dapat ditempuh dengan kendaraan maupun berjalan kaki menyusuri bibir pantai. Bisa juga melalui kaki bukit yang landai.

Pantai Carocok juga dekat dengan dua pulau. Pulau Batu Kareta dan Pulau Cingkuak. Pulau Batu Kareta langsung dapat ditempuh tanpa menyeberang laut, hanya tinggal meniti jembatan yang melintas laut, kira-kira 100 meter dari bibir pantai. Di Batu Kereta ditawarkan nuansa keindahan batu-batu laut dan karang laut. Selain itu Batu Kareta merupakan tempat yang nyaman untuk bersantai.

Sementara 400 meter dari objek wisata pantai, terdapat Pulau Cingkuak dengan luas 4,5 Ha. Menyimpan berbagai bukti peninggalan sejarah kolonial di Pesisir Selatan yang pada zaman itu merupakan pusat perekonomian dan pelabuhan Pantai Barat Sumatra. Di Pulau Cingkuak dapat ditemukan benteng Portugis dan Prasasti Madam Van Kempen. Pulau ini sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama remaja yang melakukan kegiatan alam seperti hiking dan camping, dan juga merupakan objek kajian Balai Arkeologi setiap tahunnya.

Sarana pariwisata yang ada di Pantai Carocok Nagari Painan, cukup kompleks seperti hotel, wisma, restoran, kafe, rental perahu, toko cendramata, Masjid, gazebo, fasilitas MCK, serta area kemping, jembatan apung dan pentas apung. Sarana pariwisata itu secara umum disediakan oleh masyarakat Nagari Painan, khususnya masyarakat Kampung Painan Selatan dan Pemkab setempat. Ada juga orang-orang dari rantau yang menginvestasikan modalnya dan dikelola oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung.

Gazebo-gazebo dan jembatan apung merupakan sarana yang juga menambah daya pikat dari Pantai Carocok. Jembatan yang terbuat dari kayu yang pondasinya terbuat dari semen dilapisi dengan aspal beton. Memanjang dari tepi Pantai Carocok menjorok ke laut, ada yang sampai ke Pulau Batu Kereta. Di setiap persimpangan jembatan didirikan gazebo tempat bersantai, menikmati Pantai Carocok.

Begitu juga dengan fasilitas pendukung lain, sarana camping, disalah satu sudut di Pantai Carocok yang menjorok ke dalam atau ingin langsung ke Pulau Cingkuak. Pentas terapung yang bisa digunakan jika ada kegiatan kesenian atau Festival Band. Sewa perahu boat yang mana bisa mengantarkan kita untuk keliling Pulau Batu Kareta atau Pulau Cingkuak. Pilihlah hari yang baik untuk menikmati pesona Pantai Carocok Painan. Selamat Menikmati. (Yuka Fainka Putra-Singgalang Minggu)

 

Wisata Pantai di Tengah Kota Februari 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 8:49 am

KOTA Padang terletak di pinggir pantai Pulau Sumatera. Karena itu, meski berudara cukup panas, rata-rata antara 30 sampai 32 derajat celcius, toh tak membuat wisatawan enggan berjalan kaki menyusuri jalanan dalam kota.

Apalagi wisatawan asing, terutama yang berasal dari Belanda, gemar berjalan kaki menikmati objek-objek wisata di sekitar Pondok dan pelabuhan Muaro. Lantaran, gedung-gedung berupa bangunan tua yang terdapat di sekitar Pasa Mudiak, Pasa Gadang, Tanah Kongsi, sampai ke kawasan pelabuhan Muaro itu, rata-rata adalah peninggalan nenek moyang mereka yang pernah menjajah negeri ini berabad lampau.

Kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu pintu gerbang bagi tamu yang datang menggunakan jalur udara. Kota Padang memiliki banyak objek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Selain bangunan tua peninggalan Kompeni Belanda, wisata pantai kota Padang juga tak

kalah menariknya dibanding daerah lain. Seperti, Pantai Air Manis dengan lagenda Batu Malin Kundangnya, Pantai Taman Nirwana, Pantai Bungus, Pantai Pondok Carolina, pasir Jambak dan lain-lain. Sedangkan wisata lainnya juga ada, sebut saja misalnya Taman Siti Nurbaya, Taman Hutan Raya Bung Hatta (Tahura), Panorama Sitinjau Laut, dan sebagainya.

Sedangkan wisata pantai yang justru terletak di dalam kota Padang yang tak kalah menarik ialah Pantai Padang. Jika menikmati objek wisata pantai di Kota Padang, seperti pantai Air Manis dan pantai Carolina, kendaraan harus mendaki tanjakan yang terjal, menaiki perbukitan. Namun jika ingin mengunjungi objek wisata Pantai Padang sangatlah mudah. Karena terletak hanya beberapa meter saja dari pusat kota, maka akses ke pantai cukup dekat. Bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki beberapa menit saja. Pantai Padang yang memanjang dari utara ke selatan, memiliki hamparan laut nan biru dengan deburan ombak yang bergulung, sementara di kejauhan terlihat beberapa pulau dengan pasirnya yang menawan.

Keindahan dan deburan ombak Pantai Padang akan terasa lebih nikmat jika menyempatkan diri untuk singgah di kios atau warung penjual gorengan makanan laut yang memang banyak terdapat di sana. Begitu juga dengan panggang jagung muda dan pisang bakar yang banyak dijual orang di pinggir pantai. Dengan beberapa lembar uang ribuan, makanan tersebut sudah bisa dipesan dan dinikmati bersama orang terkasih atau bersama keluarga sambil duduk di kursi, dibawah tenda yang tersedia, sembari memandang ke lautan lepas Samudera Hindia.

Suasana Pantai Padang akan terasa lebih menarik kala hari mulai beranjak senja. Saat mentari mulai tenggelam dan menyisakan sunset yang menerangi langit di ufuk barat. Dan memang, kala senjalah saat yang paling ramai dikunjungi ketimbang pagi maupun siang hari. Sementara itu, iringan sepeda motor dan mobil yang dikendarai muda-mudi terlihat berseliweran hanya untuk menikmati indahnya sunset. Di tepi pantai, gerombolan anak muda bertelanjang dada terlihat asyik bermain bola pantai sambil menghabiskan waktu. Begitu juga dengan para penyuka parasailing dan selancar, terlihat asyik “menggauli” ketinggian ombak Pantai Padang.

Berbagai aktifitas anak muda tumpah pada saat senja menjelang. Pantai Padang ke arah muara, terlihat sekumpulan anak muda tengah asyik bermain basket dan bercengkrama sesamanya. Tak jauh dari sana, penjual telur asin dan talua katuang (telur penyu) disinggahi para pembeli yang ingin merasakan telur yang konon berkhasiat bagus untuk kesehatan itu. Arena taman bermain pun menjadi tempat wajib disinggahi oleh anak-anak yang sengaja datang bersama orangtuanya. Begitu juga halnya dengan kios-kios wisata kuliner yang khusus menyediakan aneka makanan laut dan rujak buah yang terletak tidak jauh dari pintu masuk pantai, selalu siap melayani pengunjung.

Tak Nyaman

Amat disayangkan, bahwa keindahan Pantai Padang akhir-akhir ini mulai dirusak oleh pemandangan yang kurang sedap ulah segelintir oknum masyarakat yang sengaja mengambil keuntungan secara tak beretika dari para pengunjung. Banyak pengamen jalanan yang tiba-tiba menghampiri pengunjung, meminta uang dengan paksa. Begitu juga ke arah utara Pantai Padang. Banyak oknum masyarakat yang terdiri para preman, menjual minuman botol, lantas seenaknya memaksa pengunjung untuk membeli minuman dengan harga yang ditetapkan hampir dua atau tiga kali lipat dari harga resmi.

Pemandangan seperti itu kini nampaknya semakin menjadi-jadi saja. Telah banyak yang jadi korban, namun segan melapor. Seperti dialami sepasang muda-mudi yang mengaku berasal dari luar Sumbar, sebut saja Romi dan Yuli. Pasangan ini diperas habis-habisan oleh oknum preman saat asyik duduk menikmati deburan ombak. “Hanya beberapa menit saja duduk di sini, sudah habis uang saya Rp 15.000,- hanya untuk membayar pengamen yang datang silih berganti, meminta uang dengan memaksa,” keluhnya waktu itu.

Banyaknya oknum masyarakat yang memanfaatkan situasi, memeras pengunjung, adalah sangat disayangkan. Karena Pantai Padang merupakan salah satu objek wisata yang sudah diplot masuk ke dalam agenda Visit Indonesia Year (VIY) 2008. Jika keindahan Pantai Padang tercemar oleh ulah oknum seperti itu, maka pengunjung pasti jera dan trauma, lantas enggan untuk datang lagi. Dampaknya, tentu saja akan berpengaruh terhadap pemasukan keuangan daerah.

Pada tahun kunjungan wisata, VIY 2008 ini, sangat diharapkan peran aktif dari pihak Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya bekerjasama dengan aparat keamanan untuk lebih menertibkan objek-objek wisata yang ada. Agaknya, sudah saatnya mengoptimalkan fungsi Polisi Wisata, yang kini sudah ada guna memelihara keamanan dan kenyamanan pengunjung, terutama dari gangguan para ‘orang-bagak’ yang gemar ‘memalak’ itu. Agar objek-objek wisata kita kian hari semakin ramai. Bukannya justru dijauhi. (Charlie Ch. Legi-Singgalang Minggu)

 

Nasi Sala, Penggugah Selera Februari 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 8:24 am

Berkunjung ke Nagari Piaman Laweh tentunya tak asing mencicipi yang namanya nasi sek di tepi Pantai Gandoriah Pariaman. Namun selain itu kota Pariaman juga menyuguhkan banyak hidangan lain penggugah selera, pengganjal perut tatkala keroncongan.

Ya, salah satunya yakni nasi sala. Orang menyebutnya nasi sala karena memang lauk yang digunakan dilumuri dengan adonan sala lauak yang merupakan penganan khas Kota Tabuik itu. Sekilas memang tak nampak beda dengan nasi sek, mengingat nasinya dibungkus dengan daun pisang berbentuk kerucut seperti  pada nasi sek.

Namun jangan salah, kekhasannya terletak pada lauk yang dibaluri adonan sala tadi beserta sayur pucuak ubi (daun ketela muda) yang dengan kuah bening plus ditambah sambalado merah (cabe merah) dengan terasi sekaligus teri bakar. Wuihh, rasanya enak tenan.

Nasi sala ini biasa dijual pedagang sekitar Pantai Gandoriah di depan rel kereta api dekat stasiun kereta Pariaman. Anda bisa menikmati nasi sala ini pada pagi hari karena ikan yang digoreng sala merupakan ikan segar yang langsung diperoleh dari nelayan sekitar yang pulang melaut. Tak heran ikannya terasa begitu gurih dan segar. Dan pedagang biasa menggunakan ikan garigak karena teksturnya yang lembut dan tidak banyak tulang.

Seekor ikan sala garigak dijual dengan harga Rp5000, nasi Rp1000/bungkus dan sala lauak dijual Rp1000 untuk 4 buah. Selain itu di sini juga disediakan pergedel kentang yang dijual Rp1000/potong. Meski terkesan sederhana namun kenikmatannya sungguh luar biasa.

Adonan sala yang dibaluri pada ikan garigak tadi terbuat dari tepung beras yang dicampur berbagai rempah-rempah dan irisan daun kunyit, ditambah sedikit kapur sirih untuk membuatnya semakin renyah. Dan jika ingin dijadikan oleh-oleh lauak sala tadi cukup dipanasi saja dengan minyak panas.

Nah, mampir ke Pariaman jangan lupa mencicipi nasi sala yang murah namun sangat menggugah selera. Selain suasana sejuk karena dekat dengan pantai, suasana sarapan pagi semakin mengasikkan tatkala kereta api melintasi rel. Piaman Laweh memang terkenal dengan masakan sederhananya yang begitu menggugah selera. Meski berupa hidangan sayua pucuak ubi dan sambalado terasi namun racikannya terasa begitu istimewa.  

(Sagita Widuri – Singgalang Minggu)

   

 

Polisi Wisata tak “Bergigi” Februari 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Wisata dalam Cerita — iuukp @ 8:20 am

DARI sekian banyak objek wisata di Sumatera Barat, ada beberapa diantaranya  yang terlihat kurang  terkelola dengan  baik.  Bahkan ada yang terkesan terabai begitu saja. Ini lain tidak lantaran pihak dinas terkait,  konon,  kekurangan tenaga pengelola. Padahal, peran tenaga pengelola, merupakan unsur yang tak kalah penting dalam mengemas paket pariwisata.

 

Sebagai akibat dari ‘kelemahan’ dinas terkait  itu, bermunculanlah oknum-oknum tertentu di kalangan masyarakat setempat yang merasa ‘peduli’,  untuk kemudian    ‘memanfatkan kesempatan dalam kesempitan’ itu. Hal inilah yang kini banyak terjadi di sejumlah objek wisata di daerah ini. Sebagaimana yang dapat disaksikan di objek wisata.

 

Pantai Air Manis, misalnya. Termasuk Pantai Padang.  Karena itu, tak heran bila objek-objek wisata, apalagi yang letaknya jauh, terlihat seakan ‘resmi’ dikelola  oleh oknum masyarakat  sekitar. Maka, ‘manfaat’ yang dirasakan berikutnya ialah:  Objek wisata berubah  menjadi lahan pemalakan oleh  oknum  terhadap para pengunjung. Mereka dengan seenaknya meminta uang dengan dalih macam-macam,  karcis  masuk yang melebihi tarif, uang parkir selangit, rental tikar yang memaksa, dan pungutan ini-itu lainnya yang tentu saja  ilegal. Dan, anehnya, hal ini bukannya tak diketahui dan disadari pihak Dinas Pariwisata. Hanya saja, ya itu tadi, jangkauan tangan mereka sayuik, sehingga terpaksa tutup mata.

           

Menyikapi keadaan ini, agaknya sudah saatnya  koordinasi Dinas Pariwisata,  Seni dan Budaya dengan polisi wisata, salah satunya yang mangkal di salah satu pojok kantor Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Padang ditingkatkan. Keberadaan polisi pariwisata sebenarnya diharapkan dapat meningkatkan terciptanya keamanan. Namun sayang, polisi pariwisata tak “bergigi” memberantas praktek-praktek  premanisasi  yang terjadi di objek-objek wisata di Sumatera Barat. Tentu saja personel polisi wisata yang direkrut harus dari pribadi-pribadi yang betul-betul teruji, agar tak menjelma pula menjadi ibarat bapitaruah atah ka mancik, alias pagar makan tanaman. 

Dengan berjalanya fungsi polisi wisata secara optimal, kita berharap para pengunjung aman dari aksi pemalakan dan pungutan liar.  Membuat wisatawan  tentram dan nyaman selama berada di Ranah Minang yang terkenal kuat memegang adat serta  menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Semoga.

(Charlie Ch. Legi-Singgalang Minggu)