IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Djufri, LKAAM dan MUI: Menutup Jam Gadang Sudah Final Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Wisata dalam Cerita — iuukp @ 7:28 am

jam2.jpgKebijakan menutup Jam Gadang saat malam penyambutan tahun baru  oleh Pemko Bukittinggi, bukan sesuatu yang lucu. Tindakan itu dalam rangka menyelamatkan masyarakat, terutama dari hal yang berakibat negatif.

“Kebijakan itu sudah final dan melalui musyawarah. Jangan dinilai sebagai sesuatu yang lawak-lawak”, kata Masri Habib Dt. Pandak, Ketua Lembaga Kerapatan Alam Minangkabau (LKAAM) Bukittinggi, Kamis (14/2).

Datuak Pandak mengungkapkan hal tersebut, sekaitan pandangan miring yang diapungkan berbagai kalangan di tingkat provinsi, serta komentar yang ditulis Wisran Hadi, menyusul dikeluarkannya statemen Walikota Drs. H. Djufri, perihal rencana penutupan Jam Gadang pada malam tahun baru, sebagaimana diberitakan Singgalang, edisi Rabu 13 Pebruari 2008.

Menurut Datuak Pandak, ditutupnya Jam Gadang pada malam penyambutan tahun baru masehi itu, karena pada dasarnya pengunjung di pelataran Jam Gadang itu sangat berjubel. Mereka hanya ingin menikmati detik-detik menjelang berdempetnya jarum panjang dan jarum pendek Jam Gadang pukul 00.00 WIB.

“Adakah orang lain yang memikirkan nasib puluhan bahkan mungkin ratusan ribu yang nyaris dalam kondisi berdempet di seputaran Jam Gadang itu,” kata Datuk Pandak mempertanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, andai terjadi sedikit saja keributan, akibatnya sangat fatal. Bisa menimbulkan korban jiwa. Karena waktu itu tidak hanya orang dewasa yang berkumpul di sana, tetapi juga anak-anak, bahkan perempuan hamil. Semuanya itu berlangsung pada malam hari.

Persoalannya akan semakin rumit lagi, bila timbul korban jiwa dalam kondisi beramai-ramai itu. Contoh terakhir adalah konser musik di Bandung yang menelan 11 korban jiwa.
“Saya sudah berbicara langsung dengan Walikota Djufri, dia sempat menangis ketika mendengar berita orang meninggal dunia di Bandung, hanya karena menonton pagelaran musik. Potensi peristiwa seperti itu juga ada di Bukittinggi, terutama pada penyambutan tahun baru,” katanya.

Kata Datuk Pandak, kalau korban sudah terjadi, yang disalahkan siapa? Pasti Pemko pula yang jadi kambing hitamnya. Semua orang akan menuding tentang kelalaian Pemko, ketidak-beresan walikota, ketidak-mampuan aparat keamanan dan banyak lagi sumpah serapah yang muncul.

Menurutnya, sekarang Pemko tengah menyusun programnya agar kemungkinan terburuk itu tidak terjadi. Artinya, Pemko jauh hari sudah mencari sebelum hilang, memintas sebelum hanyut dan bakulimek sabalun abih atau lebih berhemat sebelum miskin. Datuak Pandak menambahkan, dalam nada guyon, “tak ada urusan tikus di sini, dan tidak ada pula lumbung yang mesti dibakar”.

Soal rencana kain penutupnya yang merupakan warna marawa atau panji-panji Minangkabau, agaknya memang belum banyak orang yang tahu, bahwa ketiga warna itu sudah merupakan kesepakatan tidak resmi digunakan untuk warna marawa, dan hal ini berlaku di Luak Nan Tigo. Entah kalau di luar ketiga luak itu. Kalau ketiga warna itu adalah warna bendera Jerman, itu kebetulan saja. Dan, tidak ada pula orang membantah bahwa warna hitam, merah dan kuning sebagai warna marawa Minangkabau.

Jangan sisi ekonomi saja
Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bukittinggi, DR. Zainuddin Tanjung, MA., menyebut kebijakan Pemko menutup Jam Gadang pada malam penyambutan tahun baru, jangan dilihat dari sisi ekonomi saja.

Adalah pemikiran yang sangat dangkal bila melihatnya dari segi untung rugi secara finansial. Justru Pemko Bukittinggi mengambil kebijakan itu berdasarkan kajian substansi yang sangat luas, terutama terhadap adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Ditinjau dari segi budaya, kata Zainuddin, jangan dilihat dari sudut yang sempit atau pengertian umum. Memperingati dan merayakan datangnya tahun baru Masehi bukanlah budaya Minangkabau dan islami.

“Agama Islam tidak mengajarkan memperingati tahun baru, termasuk tahun baru Islam sendiri yakni 1 Muharram. Bahkan lebih dipertegaskan, Islam tidak menggariskan baik dalam wajib maupun sunat untuk melaksanakan acara ritual,” tambah Zainuddin.

Menurutnya, kebetulan 1 Muharram dijadikan sebagai hari libur nasional. Mumpung memanfaatkan hari libur, pada 1 Muharram tersebut sangat pantas dilaksanakan kegiatan yang bernuansa agama, seperti wirid, tablig akbar dan lain-lainnya. Tapi konteksnya tidak lari dari upaya untuk mensyiarkan ajaran Islam.

Zainuddin juga mengggarisbawahi, apa yang diambil oleh Pemko ini, adalah sebuah kebijakan yang benar-benar menyentuh secara esensial nilai-nilai keagamaan di negeri ini. Patut didukung, karena tujuannya sangat mulia.

Ia mengingatkan, bila pada malam penyambutan tahun baru, ratusan ribu orang berkunjung ke Bukittinggi dan dominan terfokus ke kawasan Jam Gadang sampai larut malam. Menjelang Subuh mereka bersebar, entah kemana. Ingat, mereka itu tidak hanya satu keluarga, tetapi yang lebih banyak adalah kaum muda. Ia juga tidak tahu, karena berasal dari luar kota, apakah mereka itu suami isteri, atau hanya sekadar berpasangan dan memanfaatkan momentum tahun baru untuk memadu kasih ke Bukittinggi.

“Kalau itu memang benar terjadi, laknat Allah tentu akan turun. Kita tidak ingin hal itu terjadi,” ulasnya. Zainuddin menegaskan, apa pun resikonya, dan apapun yang bakal terjadi, MUI dan segenap ulama Bukittinggi mendukung program yang
dilaksanakan Pemko.

Tak bergeming
Bergemingkah Walikota Djufri? Ternyata tidak. Usai membaca Singgalang tentang munculnya tanggapan yang bernada miring terhadap kebijaksanaan Pemko Bukittinggi tersebut, Djufri terlihat tersenyum. Tidak sedikit pun terkesan di wajahnya rasa tidak senang.

Kendati demikian, Djufri mengemukakan, bahwa kebijakan menutup Jam Gadang menyambut pergantian tahun baru masehi itu adalah prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Ini sudah merupakan kesepakatan antara Pemko dengan Muspida serta masyarakat Bukittinggi sendiri.

“Malahan dalam konteks pengembangan kepariwisataan Bukittinggi, masyarakat sudah sepakat biarlah Bukittinggi sepi dari pengunjung daripada ramai tapi penuh maksiat. Itu sudah komitmen warga kota,” ulasnya.

Penutupan Jam Gadang hanya sekitar 13 jam, pada malam pergantian tahun Masehi. Bukan ditutup sepanjang masa. “Adalah sangat tidak pantas bila kebijakan ini dilihat hanya dari satu sudut saja,” kata Djufri.

Dalam lima tahun terakhir, Pemko sudah mengantisipasi agar keramaian di sekitar Jam Gadang berkurang dengan mengadakan pentas terbuka di Lapangan Kantin, dan kegiatan hiburan lainnya di berbagai tempat, termasuk di Ngarai Sianok.

Namun menjelang pukul 00.00 WIB  pada malam pergantian tahun, secara serentak orang menuju Jam Gadang. Tak bisa dihalangi, bahkan mengarahkannya saja tidak bisa. Maklum, ratusan ribu orang bergerak dengan satu tujuan, yakni melihat jarum Jam Gadang akan berdempet di pengujung tahun.

Diakui banyak yang diuntungkan bila pengunjung berjubel. Tapi dalam suasana yang sulit diduga karena ramainya orang, dan terjadi keributan sehingga menimbulkan korban jiwa. Djufri mengajak, agar jangan melihatnya dari segi bisnis saja, tetapi harus dikaji secara lebih mendalam dan jalan pikiran yang jernih. 

 

Kenapa Jam Gadang yang Ditutup …?? Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Wisata dalam Cerita — iuukp @ 7:13 am

jam1.jpgPenutupan Jam Gadang di malam pergantian tahun bisa berdampak pada dunia pariwisata Sumbar dan akan membuat Bukittinggi buruk di mata dunia. Pasalnya, selama ini jam tersebut merupakan simbol atau ikon Sumbar dan merupakan tempat tujuan wisata utama di daerah ini.

Seharusnya Pemerintah Kota Bukittinggi menurut Ketua ASITA Sumbar, Asnawi Bahar, kepada Singgalang, Kamis (14/2) di Padang, membuat kebijakan lebih baik dari hanya sekadar menutup jam tersebut.

“Kebijakannya harus dikaji secara konprehensif dan tidak merugikan masyarakat. Juga jangan mengambil kebijakan dalam kondisi emosi,” ujarnya.

Bila kebijakan itu dimaksudnya untuk menghindarkan kota wisata dari perbuatan maksiat, Asnawi tidak yakin. Karena, masih banyak tempat yang disinyalir bisa digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. “Tidak harus di bawah Jam Gadang dan di malam pergantian tahun. Berbuat maksiat dapat saja dilakukan orang-orang di mana pun dan kapan pun, tidak harus menunggu malam tahun baru,” sesalnya.

Terpenting, dalam pandangannya untuk menjaga kesucian di Jam Gadang dan sekitarnya dari perbuatan maksiat atau perbuatan tidak senonoh lainnya, Pemko Bukittinggi harus meningkatkan pengawasan. Agar, hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak lagi terjadi.

Pada dasarnya, perayaan pergantian tahun adalah sesuatu yang biasa. Hanya saja, gairah masyarakat untuk merayakan itulah yang membuatnya menjadi terkesan seperti luar biasa. Dan, Jam Gadang selama ini telah memberikan andil cukup besar dalam memberikan keindahan malam pergantian tahun. “Masa ini harus dirusak dengan rencana tersebut,” sesalnya lagi.

Tidak hanya itu, imej pariwisata yang terus dibangun dengan baik bisa pula rusak dengan hal tersebut. Pasalnya, Jam Gadang adalah ikon wisata Sumbar. Walaupun diakuinya, tidak banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana, tapi rata-rata wisatawan nusantara dan lokal banyak yang mendatangi bangunan di areal terbuka hijau Kota Bukittinggi tersebut.

“Apalagi, kalau malam tahun baru, banyak wisatawan nusantara dan lokal yang datang ke sana, begitu juga warga Bukittinggi, lalu di mana lagi tempat mereka merayakan pergantian tahun itu. Ibaratnya, jangan gara-gara tikus, lumbung yang dibakar,” sebutnya.

Pemko Bukittinggi juga dinilai terlalu cepat melahirkan kebijakan untuk menutup Jam Gadang. Karena, pergantian tahun masih cukup lama. Untuk sampai ke penghujung tahun 2008, akan banyak perubahan-perubahan yang bakal terjadi, sehingga kebijakan yang direncanakan bisa saja menjadi tidak relevan lagi.

Dari itu, dia berharap supaya Pemko Bukittinggi kembali mempertimbangkan kebijakan yang dilahirkannya. Supaya, masyarakat dan dunia wisata di daerah ini tidak dirugikan dengan lahirnya kebijakan tersebut.

(Harian Singgalang, 15/2/08)

 

Jam Gadang Ditutup !! Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Wisata dalam Cerita — iuukp @ 7:06 am

jam.jpgWisata Hening

Jam Gadang ditutup! Tak ada lagi dentang bunyinya. Tak ada jarum jam yang terlihat. Tak ada pesta, tak ada keramaian. Hening-hening saja. Diam!

Itu nanti, malam old and new pergantian tahun 2008 ke 2009 mendatang. Malam-malam penuh gemerlap di pelataran Jam Gadang pada tahun-tahun sebelumnya takkan terulang lagi.
Begitulah berdasarkan pengalaman pada acara menyambut tahun baru 1 Januari 2008 lalu, maka mulai malam 31 Desember 2008 dan menyambut tahun baru 1 Januari 2009, Jam Gadang ditutup dan kebijaksanaan itu sudah disetujui Muspida.

Djufri pun berkisah. Pada Senin malam (31/12) lalu, di taman Jam Gadang diadakan pentas terbuka, dengan acara puncak menyambut tahun baru. Ternyata di seluruh pelataran dipenuhi warga. Namun di tengah kerumunan warga itu, ada beberapa keluarga yang menggelar tikar dan mereka duduk di sana sekeluarga.

“Saya tidak dapat bayangkan, bagaimana bila terjadi keributan, tentunya keluarga yang juga mengikut-sertakan anak kecil ini bakal terinjak. Dan, bukan tidak mungkin bakal menimbulkan korban,” Djufri menguraikannya.

Justru itulah, tidak ada lagi acara penyambutan tahun baru di seputar Jam Gadang, meski orang-orang akan menikmati pergeseran tahun baru dengan berdempetnya jarum panjang dan jarum pendek pada Jam Gadang tersebut.

Sisi lain, berdasarkan laporan petugas kebersihan pagi hari, banyak ditemui ‘balon’, maksudnya kondom bekas. Ada apa ini? Nah, dari pada acara menyambut tahun baru berlanjut ke maksiat, Pemko Bukittinggi bersama Muspida sepakat akan menutup Jam Gadang dan tidak memberikan izin keramaian pementasan.

“Kuncinya adalah Bukittinggi harus bebas dari maksiat,” tegas Djufri.
Bentuk penutupan Jam Gadang itu direncanakan mempergunakan marawa Minangkabau dengan tiga warna, yakni hitam, merah dan kuning. Ketiga warna tersebut adalah warna kebesaran Minangkabau. Sorenya, 31 Desember sekitar pukul 17.00 WIB diadakan upacara penutupan Jam Gadang, dan esoknya, 1 Januari sekitar pukul 06.00 dibuka lagi, juga dalam sebuah upacara. Begitulah benarlah.

(Sumber: Harian Singgalang 13/2/08)

 

Lotek, Bebas Kolesterol Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 4:47 am

lotek.jpg PENGANAN murah meriah, sekaligus sehat dan bebas kolesterol, salah satunya, agaknya, adalah lotek.Dikatakan murah meriah karena harganya yang  relatif terjangkau oleh kantong siapa saja. Sekitar Rp.2500,- sampai Rp. 5000,- seporsi lotek sudah bisa dibawa pulang. Disebut  sehat, karena bahan bakunya terdiri dari bermacam sayuran. Dikategorikan bebas kolesterol karena memang tak terdapat unsur lemak jenuh di dalamnya, selain hanya lemak nabati yang terdapat pada kacang tanah sebagai bahan kuahnya.
 
Belum diketahui secara pasti dari daerah mana penganan lotek ini berasal. Namun diduga  lotek berasal dari daerah pulau Jawa sana, karena bahannya mirip bahan pecal. Lotek dengan pecal memang  mirip. Perbedaannya  hanya  pada bahan sayurannya. Bahan pecal terdiri dari sayuran seperti, kangkung, lobak, kacang panjang, jantung pisang, adakalanya mie kuning,  dan lain lain. Sedangkan lotek terdiri dari mie kuning, lobak, ketimun, tahu, kentang, dan lain-lain.
 
Penjual  lotek banyak tersebar di mana-mana. Karena itu penganan ini mudah  dijumpai di mana saja. Di kota Padang, ada banyak penjual lotek yang cukup terkenal,  lantaran rasa dan aroma loteknya yang khas dan mengundang selera. Seperti lotek Depan Puskud di daerah Ulakkarang, misalnya. Terus, ada lagi Lotek 18 A di bilangan jalan raya Siteba, atau  lotek Keneang di daerah Pagang Luar, dan banyak lagi  tempat makan lotek enak lainnya.

Membuat penganan lotek taklah terlalu sukar. Anda cukup menyediakan beberapa macam bahan utama, seperti mie kuning, kentang, lobak, ketimun, tahu, kerupuk merah, dan  kacangtanah sebagai bahan kuahnya. Selain itu ada juga bahan lain, seperti  bawang putih, cabe rawit, asam kesturi dan  garam.

Cara membuatnya, cabe rawit, bawang putih, garam dihaluskan bersama   kacangtanah. Lalu diberi air secukupnya. Setelah dirasa pas, masukkan bahan utama tadi, ketimun, lobak, kentang, tahu, mi kuning yang sudah diiris/dipotong sesuai selera. Bahan utama lalu digelimangkan ke kuah kacang tadi. Setelah tercampur rata, lotek sudah siap disajikan dengan terlebih dahulu ditambahkan kerupuk merah dan bawang goreng. Lotek pun siap untuk disantap.

Narasi dan foto Charlie Ch. Legi (Koran Singgalang Minggu)
 
 

 

Bika Lintau Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Icip-icip — iuukp @ 4:36 am

kue.jpgJIKA anda berkunjung ke kota Payakumbuh terutama pada hari Kamis dan Minggu yang merupakan hari balai (hari pasar), Anda akan menemukan aneka penganan, kue-mueh, yang dijual oleh para amai-amai, oncu-oncu dan ongah-ongah, bahkan juga para gadih-gadih kota itu. Ada gelamai, botiah, pinyaram, pias, bareh randang, ladu, dan aneka jenis penganan  khas Payakumbuh lainnya.

 Diantara penganan yang banyak itu, terdapat satu penganan yang bentuknya cukup menarik, berwarna merah jambu (pink) bercampur putih, dan ada juga yang berwarna coklat. Penganan ini ukurannya cukup besar dan ditaruh diatas daun pisang. Penganan ini bernama bika lintau.

 Sebenarnya bika lintau ini sejatinya  adalah sejenis kue apam juga. Akan tetapi karena bentuknya yang besar dan mirip dengan bika, akhirnya masyarakat setempat  menamai penganan ini dengan bika lintau. Mungkin dulunya penganan ini berasal atau dibuat oleh orang Lintau (Tanah Datar) mengingat kedua daerah ini cukup berdekatan
 Harga bika lintau cukup murah. Berkisar antara Rp.2000,- sampai Rp.3000,-.sebiji.  Relatif murah memang dibanding  ukurannya yang lumayan  besar, tak habis berdua sekali makan.

 Menurut  oncu-oncu penggalas  bika lintau yang ditemui di Pasar Payakumbuh, bahan baku penganan ini adalah tepung beras. Cara pembuatannya, tepung beras dicampur dengan ragi dan santan kelapa. Lalu dipangok (didiamkan) selama semalam. Setelah itu  adonan tadi dikukus. Jika ingin kue bika berwarna merah jambu dan putih, cukup tambahkan gincu merah dan gula. Sedangkan warna coklat cukup dengan menambahkan gulo saka (gula tebu).

 Nah, bila anda berkunjung ke Payakumbuh bersama keluarga atau si dia tercinta, jangan lupa mampir ke pasar Payakumbuh untuk membeli kue bika lintau yang rasanya sabona lomak itu. Narasi dan foto Charlie Ch. Legi (Koran Singgalang Minggu)

 

Kutunggu Kamu di Jam Gadang.. Februari 15, 2008

Diarsipkan di bawah: Jalan-jalan — iuukp @ 3:30 am

jam5.jpgBUKITTINGGI rasanya pantas dijuluki sebagai kota surga wisata. Julukan itu memang sangat beralasan, lantaran Bukittinggi tak kalah bagus dan indah dibanding  Bali, misalnya. Kendati dari beberapa segi memang perlu untuk dibenahi. Namun gambaran  tersebut tentunya akan terbukti bilamana  anda datang dan melancong di kota  wisata  Bukittinggi yang di era 1949 pernah menjadi ibukota negara RI.   

Bukittinggi memiliki daya tarik wisata bagi siapa saja yang telah pernah mengunjunginya. Bermacam objek wisata  menarik terdapat di daerah ini dengan julukan  kota  sanjai. Antara lain yang paling kesohor adalah Jam Gadang dan  Ngarai Sianok. Ngarai Sianok merupakan lembah atau ngarai yang hijau, dikelilingi tebing curam setinggi lebih kurang 100 meter. Keindahannya diibaratkan oleh pengunjung seperti Grand Canyon di Amerika Serikat sana.              

Di sekitar Ngarai Sianok, terdapat objek wisata Lubang Japang, sebuah lubang, bekas benteng pertahanan bala tentara Jepang  ketika Indonesia masih dibawah kekuasaan negara Tenno Heika, 1942 – 1945.  Lubang yang terdiri dari beberapa kamar dan lorong itu, doeloenya digunakan tentara Jepang sebagai bunker pertahanan dalam menghadapi musuh.           

Selain itu  banyak lagi objek wisata menarik lain yang patut untuk dikunjungi. Seperti,  Jam Gadang, bekas Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa, yang di dalam kompleksnya juga terdapat sebuah museum berarsitektur rumah adat Minangkabau. Taman Margasatwa ini yang telah berkali-kali berganti nama, oleh masyarakat sekitar biasa disebut ‘Kebun Binatang’.  Objek wisata lainnya  yang terbaru adalah Perpustakaan Bung Hatta, dan rumah kelahiran Proklamator RI, Bung Hatta yang persis terletak di tengah kota.           

Mengunjungi objek-objek wisata di Bukittinggi, anda tak perlu cemas dengan waktu. Karena di sudut mana pun anda berada dalam kota Bukittinggi, pasti akan tahu sekarang  pukul berapa. Sebab, Jam Gadang yang bangunannya tinggi menjulang akan terlihat dengan jelas.           

Tetapi, ternyata Jam Gadang  tak hanya sebagai pedoman atau penunjuk  waktu. Jam Gadang juga sebagai tempat rekreasi di pusat kota, karena di bawahnya terdapat taman terbuka hijau yang  cukup menarik dan romantis, terlebih bagi muda-mudi dan para kawula muda. “Tunggu aku di Jam Gadang ya?” begitu antara lain biasanya  yang terucap di kalangan muda-mudi yang mau janjian di kota itu.           

Bangunan Jam Gadang   berdiri menjulang di depan Pasar Bertingkat di  Pasar Ateh. Pada bagian atas bangunan setinggi 36 meter itu terdapat 4 unit  jam berukuran besar, lengkap dengan jarum penunjuk waktu.Terdapat sebuah keunikan  pada  angka yang terdapat di Jam Gadang. Angka empat romawi  biasanya  dituliskan dengan lambang IV. Tetapi pada Jam Gadang lambang angka empat romawi tidak ditulis demikian, melainkan dengan memakai empat buah angka I, sehingga terlihat seperti: IIII. Puncak bangunan jam gadang telah mengalami beberapa kali renovasi. Pada awal dibangun, puncak bangunan berbentuk bulat dan di atasnya bertengger patung  ayam jago. Di masa penjajahan Jepang puncak jam gadang diganti dengan bentuk trapesium, mirip rumah adat orang Jepang. Dan setelah  masa kemerdekaan  puncak Jam Gadang  berubah lagi menjadi  bagonjong, seperti bentuk atap rumah adat minangkabau.Jam Gadang  dibangun sekitar tahun 1824 atau 1827, di atas sebuah ketinggian bernama Bukik Kandang Kabau. Jam tersebut  hadiah Ratu Belanda, Wilhelmina, kepada Rookmaker,  Controleur (setingkat Sekretaris Kota) Bukittinggi kala itu. Arsitek bangunannya adalah  putra asli Bukittinggi, Yazid Soetan Gigi Ameh.

Uniknya bagunan ini tak menggunakan semen sebagai perekat batu bata seperti sekarang. Akan tetapi menggunakan  campuran dari batu kapur, pasir  dan putih telur. Mungkin lantaran  bahan campuran nya yang unik itulah yang membuat bangunan ini sampai sekarang masih kokoh berdiri,  kendati telah  berkali-kali  diguncang  gempa besar yang melanda Sumatera Barat. Gempa besar yang terjadi tahun 1926 memporakporandakan Kota Padangpanjang. Namun  Jam Gadang yang letaknya relatif dari pusat gempa ketika itu, luput bahkan tak mengalami sedikitpun kerusakan pada bangunannya. Begitu juga pada tahun 2007 kemarin, saat gempa tektonik melanda kawasan Sumatera Barat, lagi-lagi bangunan Jam Gadang masih tetap kokoh berdiri dengan angkuhnya, meski setelah gempa tersebut detak Jam Gadang sempat terhenti untuk beberapa hari.

Setelah dilakukan perbaikan, Jam Gadang kembali berdetak hingga sekarang. Bangunan jam gadang yang tinggi menjulang bisa terlihat dimanapun kita berdiri. Itulah lambang atau  land-mark Kota Wisata Bukittinggi, yang memang amat menawan. Bagi yang telah berkunjung ke Bukittinggi, pasti akan selalu berkeinginan  untuk mengunjunginya lagi. Karena, bak kata orang: Belumlah ke Sumatera Barat (Minangkabau) namanya jika belum mengunjungi Bukittinggi.Kawasan seputaran Jam Gadang yang paling ramai dikunjungi masyarakat adalah pada saat  malam pergantian tahun baru, sore hari menjelang berbuka pada bulan puasa, dan saat-saat lebaran Idul Fitri.Jika anda  ke Bukittinggi  berombongan tak perlu cemas bila  terpisah dari rombongan.

Setelah masing-masing puas menikmati dan mengelilingi kota serta berbelanja aneka souvenir dan penganan khas  kerupuk sanjai dan karak kaliang, janjianlah dengan anggota rombongan lain untuk  saling menunggu di bawah  Jam Gadang. “Kutunggu di Jam Gadang Ya?”.  

Narasi dan foto  Charlie Ch. Legi (Koran Singgalang Minggu)