IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Pemuda, Aset Budaya dalam Globalisasi Januari 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 7:23 am

iuukp-ok.jpgGenerasi muda dipandang sebagai aset dalam melestarikan budaya Minangkabau. Sayang, secara perlahan dan tanpa disadari, berbagai intervensi negatif telah menysusup ke dalam sanubari generasi muda.
Pengaruh globalisasi bagaimanapun tidak bisa dipandang sebagai satu-satunya ancaman. Perlu disadari, globalisasi sebenarnya memberikan pengaruh dua sisi, positif dan negatif. Sayang, justru pengaruh negatiflah yang mendominasi para remaja sehingga bertentangan dengan kaidah agama dan norma masyarakat.

Dengan fenomena yang berlaku sekarang, remaja seolah membanggakan pengaruh negatif itu sebagai bentuk jati diri mereka. Harapannya agar tidak dikatakan ketinggalan jaman. Akibatnya, penampilan dan cara berpakaian pun tidak lagi menjunjung azas kesopanan. Selain itu perilaku dan sikap juga kadang melanggar norma kepatutan.

Beranjak pada budaya Minang dengan filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, generasi muda sepatutnya bisa membentengi diri. Nilai islami dalam budaya Minang tersebut tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Banyak unsur-unsur yang bersifat global justru serasi dan sejalan dengan alur dan jalur berfikir kebudayaan Minang. Baik itu seni, maupun budaya.

Menggiatkan kembali budaya Minang lewat kesenian tradisional yang diimplementasikan dalam bentuk pelajaran di sekolah adalah salah satu bukti kalau budaya Minang bisa mengikuti perkembangan zaman. Mata pelajaran BAM dan pelaksanaan kegiatan didikan subauh salah satunya. Tidak ada perbenturan dalam implementasinya. Outputnya, generasi muda yang menjadi aset bisa tetap memiliki bekal menghadapi arus globalisasi.

Pemilihan Uda Uni Kota Padang juga menjadi salah satu cara positif menggali minat dan melestarikan budaya Minang. Lewat eksistensi mereka selanjutnya akan tampak bahwa generasi muda tidak gampang terhanyut arus globalisasi yang berdampak negatif. Namun pemikiran dan karya mereka juga memberi nilai dalam melestarikan budaya.

By; Deded-IUUKP Jelas Beda!!

 

Minangkabau yang Tinggal Kabau-nya Januari 21, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 7:19 am

iuukp3.jpgMinangkabau hanya tinggal kabaunya saja, begitulah kata-kata yang banyak diungkapkan oleh beberapa budayawan di Minangkabau. Mereka berkata demikian bukan tanpa alasan, mereka melihat masyarakat Minang itu sendiri sudah jauh meninggalkan budaya asli dari Minangkabau, dan saya juga setuju dengan pendapat yang mereka sampaikan, karena memang budaya minangkabau hanya tinggal sebuah cerita yang sering dibangga-banggakan tapi tidak lagi ada didalam masyarakat Minang itu sendiri.
Salah satu bentuk telah hilangnya nilai-nilai budaya Minangkabau adalah banyak generasi muda sekarang yang tidak tahu lagi dengan kato nan ampek, mereka cenderung menyamaratakan antara sawah jo pamatang. Tidak lagi mengenal rambu-rambu yang membatasi bagaimana seseorang yang lebih kecil menghormati yang lebih besar, sebaliknya yang lebih besar tidak tahu bagaimana memperlakukan yang lebih kecil. Sedangkan kita ketahui yang akan meneruskan kebudayaan itu adalah generasi muda, tapi generasi muda itu sendiri tidak lagi tahu dan peduli dengan kebudayaannya, itulah yang akan menyebabkan hilangnya kebudayaan Minangkabau.

Kenyataan seperti di atas banyak kita temukan, terutama di kota-kota contohnya di kota Padang. Masyarakat kota Padang dewasa ini cenderung lebih bersifat individulistis, rasa kepedulian terhadap orang lain sudah cenderung berkurang. Pada hal kita mengetahui orang Minangkabau mempunyai rasa persaudaraan, kepedulian dan kebersamaan yang tinggi, seperti pepatah dibawah ini:

Sasakik sasanang, sahino samalu,
Nan ado samo dimakan, nan indak samo dicari,
Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang,
Ka bukik samo mandaki, ka lurah samo manurun,
Tatilantang samo minum ambun,
Tatilungkuik samo makan tanah
Laki-laki samalu, parampuan sarasan.

Masalah lain yang di hadapi Kota Padang adalah penyakit masyarakat (pekat) seperti togel, judi sabung ayam, miras, PSK. Sedangkan budaya Minangkabau dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, tetapi karena pengaruh perkembangan zaman masyarakat melupakan asal usulnya sebagai orang Minang yang beradat dan beragama.

Melihat kenyataan yang demikian sudah seharusnya semua kalangan di minangkabau ini peduli dan kembali membudayakan budaya minangkabau yang kita banggakan ini. Permasalahan ini tidak akan bisa ditangani oleh satu pihak saja pemerintah, budayawan, dan masyarakat itu sendiri harus bekerja sama, sehingga budaya Minangkabau dapat terus dilestarikan.

Dalam hal tersebut pemerintah kota Padang telah berusaha kembali membawa masyarakat kota Padang untuk kembali mengenal budaya Minangkabau, dengan adanya program kambali ka surau. Program ini akan dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi perkembangan budaya minangkabau, apabila semua program tersebut tidak hanya sekedar kata-kata. Tugas masyarakatlah untuk menerapkan program yang diberikan Pemerintah di dalam kehidupan.

by: Ivanna-IUKKP Jelas beda!!

 

Saring Budaya Januari 3, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 4:06 pm

iuukp2.jpgkita harus mampu mengantisipasi atau mampu menyaring budaya yang datang. Sebut budaya barat misalnya. Seperti halnya Budaya Minangkabau yang saat ini tengah berusaha untuk dapat memposisikan diri di saat masuknya budaya asing tanpa harus meninggalkan adat dan budaya Minangkabau itu sendiri.
Alih-alih begitu, justru budaya Minangkabau yang kental dengan agama Islamnya, yaitu adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah justru mulai berangsur-angsur hilang terbawa arus budaya asing. Banyak  yang bisa dimislakan dari fakta itu, halnya remaja di Minangkabau yang banyak melupakan budaya dan adat mereka sendiri. Lihatlah cara mereka berpakaian, berbicara, sikap mereka yang tidak mencerminkan orang minang itu sendiri, dengan alasan mengikuti trend. Bagi mereka trend adalah hal yang harus diikuti jika tidak mengikuti trend dianggap tidak gaul. Dan hal tersebut sangat memprihatinkan bagi orang minang.

Dalam menghadapi hal seperti itu pemerintah mencoba untuk mengembalikan adat dan budaya minangkabau dengan cara menggalakkan program kembali ke surau. Hal tersebut di laksanakan dengan cara mengajak anak-anak untuk melaksanakan wirid di mesjid dan melakukan kegiatan subuh. Namun sayangnya aktifitas ini tidak maksimal pula karena anak-anak tersebut tidak mengetahui makna dari kembali ke surau itu sendiri. Mereka hanya datang ke pengajian dan mendengarkan ceramah tanpa merespon maksud dari ceramah tersebut.

Menurut saya, anak-anak tersebut harus mengetahui makna dari kembali kesurau itu dengan cara bersilaturahmi yang baik. Di masa lalu anak-anak setelah menyelesaikan shalat mereka dilatih silat, yang mana gerak silat sebenarnya diaplikasikan dari ayat-ayat Al-Quran. Dan seorang pesilat harus tahu akan dirinya dan tahu apa yang akan dikerjakannya.

Dan dari cara berpakaian wanita minang saat ini, khususnya bagi remaja sangat menyedihkan, bagaimana tidak, seorang gadis berjilbab namun masih menggunakan celana panjang daripada rok. Dan sangat menyedihkan lagi mereka memakai celana panjang yang ketat, yang menunjukkan lekuk tubuh mereka. Dan itulah korban trend. Semua itu tanggung jawab kita bersama untuk mengembalikan alam minangkabau yang dahulu kembali ke masa sekarang dan menjadikannya sebagai ikon pariwisata yang Islami. By: Beni – IUUKP Jelas Beda!!

 

I’m Sorry Goodbye, Minangkabau… Januari 3, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 3:48 pm

iuukp1.jpgMungkin tajuk di atas kedengaran seperti sebuah lagu (yang dinyanyikan salah satu diva Indonesia,-red) bagi Anda. Tapi, ini adalah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh para leluhur Minangkabau. Lunturnya adat dan budaya Minangkabau yang berasaskan “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” ini dapat dianggap sebagai suatu kemunduran besar.

Pepatah tinggallah pepatah, Minangkabau pun kini hanya palamak carito. Berawal dari perkembangan industri pariwisata di bumi Indonesia, khususnya ranah minang, memang memberikan suatu kontribusi yang besar dan merupakan salah satu komoditi negara yang tidak akan habis dan bahkan bisa dieksplorasi terus menerus. Hal ini sangat menggembirakan, terutama jika kita melihat dari segi penghasilan dan pendapatan daerah. Tentunya perekonomian bangsa menjadi lebih hidup. 

 Namun di sisi lain, kita sebagai penyelenggara wisata, tidak sadar bahwa pariwisata juga perlahan-lahan mengikis adat dan budaya kita, Minangkabau. Westernisasi yang disebut-sebut oleh para budayawan bukan omong kosong belaka. Budaya asing ini berurat dan berakar dalam kehidupan kita sehingga menggeser nilai-nilai budaya Minangkabau. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan dalam bidang teknologi pun seperti pedang bermata dua. Dapat memberikan kemudahan-kemudahan sekaligus kemudharatan. Sistem transportasi yang lengkap merupakan akses bagi manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bermacam ragam tontonan pun disuguhkan baik dari lokal, maupun mancanegara.

 Dari melihat dan menonton ini muncul budaya meniru. Hal ini pun turut berperan dalam pengikisan adat dan budaya Minangkabau. Para generasi muda lebih cenderung bangga meniru budaya asing ketimbang melestarikan keaslian adat dan budaya yang ada di ranah minang ini. Banyak sekali adat dan budaya Minangkabau yang saat ini sudah mulai ditinggalkan. Generasi muda mungkin mengenal adat dan budaya Minangkabau sebatas prosesi pernikahan belaka. Prosesi pernikahan ala Minangkabaui saat ini pun banyak yang disederhanakan.

Perlahan-lahan kita lupa keaslian adat dan budaya ini. Begitu juga dengan adat dan budaya keseharian leluhur Minangkabau dahulu, tidak lagi menjadi perhatian dan tidak lagi diterapkan, bahkan mungkin kebanyakan dilanggar. Melihat fenomena ini, tentunya kemajuan di berbagai aspek kehidupan menjadi momok baru bagi kebudayaan Minangkabau. Perubahan- perubahan yang tidak dapat dielakkan ini seyogyanya menjadi buah pikiran bagi kita, generasi muda, untuk melestarikan keaslian budaya Minangkabau. Setiap kita hendaknya dibekali dengan pengetahuan dan rasa bangga terhadap budaya ini. Beranjak dari keingintahuan mengenai budaya Minangkabau, akan muncul suatu kecintaan terhadapnya. 

by: Indah Chitra-IUUKP Jelas Beda!!

 

Pengaruh Buruk Media Januari 3, 2008

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 3:32 pm

iuukp.jpgSebagai seorang pemuda Minang yang tinggal di padang, kita dapat melihat dengan jelas bahwa semakin lunturnya implementasi budaya dan adat Minangkabau dalam keseharian. Seperti penyakit, kondisi itu makin kronis.
Ini bukan sekedar cerita klise, namun semua kondisi memprihatinkan itu dapat dilihat dari sikap anak negeri yang cenderung menjunjung tinggi budaya-budaya luar atau asing. Akibatnya, budaya kita terabaikan. Namun kesalahan itu jangan semua ditumpahkan pada generasi mudanya dong. Dewasa ini, Banyak media cetak dan elektronik ikut menjadi pemicu degradasi adat dan budaya dengan menampilkan tontonan beracun yang merusak akhlak.

Akibatnya lagi, segala macam seni budaya dan adat, khususnya Minangkabau (dari perspektif seorang Uda Kota Padang), lebih condong menikmati budaya luar tanpa memfilternya. Tidak heran kalau budaya barat dianggap sebagai trend remaja masa kini, dan malu mengakui kelokalan mereka.

Dampak lainnya juga terasa dalam hubungan kekerabatan, yaitu peran para anak kemenakan, bundo kanduang dan tigo tungku sajarangan tidak lagi sinergis. Peran tigo tungku sajarangan cuma tinggal nama dan peran mereka nol.

Dari sekian gempuran degradasi moral, generasi muda juga perlu ada membentengi diri. Para remaja harus bersatu menggalang, mengajak dan menggali nilai adat Minang. Jangan sampai lupa “asa jo usua”. Remaja pun harus giat melakukan langsung kegiatan bersifat kebudayaan dan adat.

by: Andrew-IUUKP Jelas Beda!!