Generasi muda dipandang sebagai aset dalam melestarikan budaya Minangkabau. Sayang, secara perlahan dan tanpa disadari, berbagai intervensi negatif telah menysusup ke dalam sanubari generasi muda.
Pengaruh globalisasi bagaimanapun tidak bisa dipandang sebagai satu-satunya ancaman. Perlu disadari, globalisasi sebenarnya memberikan pengaruh dua sisi, positif dan negatif. Sayang, justru pengaruh negatiflah yang mendominasi para remaja sehingga bertentangan dengan kaidah agama dan norma masyarakat.
Dengan fenomena yang berlaku sekarang, remaja seolah membanggakan pengaruh negatif itu sebagai bentuk jati diri mereka. Harapannya agar tidak dikatakan ketinggalan jaman. Akibatnya, penampilan dan cara berpakaian pun tidak lagi menjunjung azas kesopanan. Selain itu perilaku dan sikap juga kadang melanggar norma kepatutan.
Beranjak pada budaya Minang dengan filosofi “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, generasi muda sepatutnya bisa membentengi diri. Nilai islami dalam budaya Minang tersebut tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Banyak unsur-unsur yang bersifat global justru serasi dan sejalan dengan alur dan jalur berfikir kebudayaan Minang. Baik itu seni, maupun budaya.
Menggiatkan kembali budaya Minang lewat kesenian tradisional yang diimplementasikan dalam bentuk pelajaran di sekolah adalah salah satu bukti kalau budaya Minang bisa mengikuti perkembangan zaman. Mata pelajaran BAM dan pelaksanaan kegiatan didikan subauh salah satunya. Tidak ada perbenturan dalam implementasinya. Outputnya, generasi muda yang menjadi aset bisa tetap memiliki bekal menghadapi arus globalisasi.
Pemilihan Uda Uni Kota Padang juga menjadi salah satu cara positif menggali minat dan melestarikan budaya Minang. Lewat eksistensi mereka selanjutnya akan tampak bahwa generasi muda tidak gampang terhanyut arus globalisasi yang berdampak negatif. Namun pemikiran dan karya mereka juga memberi nilai dalam melestarikan budaya.
By; Deded-IUUKP Jelas Beda!!