Judul di atas mungkin mengingatkan kita pada salah satu film produksi anak bangsa yang isi ceritanya dapat dikatakan terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi generasi muda saat ini. Tapi mau tidak mau, sedikit banyak, skenario yang ada pada film tersebut memang berlaku di tengah masyarakat kita.
Kondisi demikian barangkali bisa pula dianalogikan dengan kondisi kebudayaan Minangkabau. Dulu kita mungkin bisa berbangga diri ketika memperkenalkan adat dan budaya kita pada pihak luar. Kita suku bangsa yang sangat kaya. Adat istiadat, bahasa, seni dan unsur-unsur intrinsik dari sebuah kebudayaan lainnya tercermin di dalam semua aspek kehidupan kita.
tapi itu dulu… Ketika semua masyarakat masih berpegang teguh pada ABS-SBK. Ketika surau masih didatangi remajanya. Berbalik seratus delapan puluh derajat (atau hampir deh..), surau hanya dihuni oleh kaum tua saja. Surau hanya menjadi tempat bagi para generasi di senior.
Sementara yang remaj lebih merasa nyaman ketika harus berdesak-desakan di dalam PUB yang dipenuhi asap rokok dan kerasnya musik. Mereka lebih memilih menabuh drum ketimbang menabuh bedug di surau.
Dulu jamak melihat remaja putri berbaju kurung basiba, dan canggung berada dekat pria yang bukan muhrimnya di tempat sepi. Sekarang sebaliknya. Baju terbuka, memeluk tanpa basa-basi. Seni tradisional pun tergantikan budaya repro dari entah negara mana.
Pergeseran ini tidak hanya dirasa oleh orang Minang sendiri, tapi orang di luar Minang. Dikhawatirkan lambat laun nilai-nilai budaya kita akan hilang. Kita harus mulai menyadari bahwa budaya warisan leluhur sangat tidak ternilai harganya. saat ini kita cuma punya dua pilihan. Berbenah diri dan menghidupkan kembali budaya kita atau membiarkannya hilang begitu saja dan hanya akan menjadi subjek penelitian nantinya.
by: Zainal-IUUKP Jelas beda!!