Tidak dapat kita pungkiri, dulu adat sangat dibanggakan dan dipuji oleh masyarakat Minang. Keberhasilan urang awak selalu dihubungkan dengan filosofis adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Namun bagaimana dengan sekarang? Seiring dengan merosotnya peran dan kiprah orang Minang di tingkat nasional, maka mulai timbul keraguan dan kebimbangan terhadap adat minang, yang walaupun tetap diteriakkan adat nan tak lakang di paneh, nan tak lapuak di hujan.
Banyak faktor yang menyebabkan mundurnya nilai dan implementasi adat. Salah satu faktor yang tak bisa dipandangs ebelah mata adalah masuknya budaya lain. Sayang, menurut generasi muda, budaya ini justru lebih enak dan mudah diikuti.
Masalahnya, haruskan adat kita tersingkir oleh budaya yang belum jelas pangkal dan ujungnya itu? Tentu tidak boleh! Mengganti adat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adat Minangkabau milik bersama, mengubahnya pun harus dengan cara bersama. Namun perubahan itu tidak boleh menyimpang dan mencederai nilai dalam adat itu sendiri.
Kita harus ingat, adat itu hidup karena usang diperbaharui. Baju dipakai usang, adat dipakai baru. Artinya wajar kalau ada perubahan, namun untuk adat harus melalui proses dan tata cara sendiri. Yang pasti intinya, nilai-nilai dalam adat itu tidak dirusak oleh perubahan.
Melihat perkembangan generasi muda Minang sekarang ini, memang tampaknya sudah mulai menjauh dari nilai adat dan budaya lokal kita sendiri. Berbaju sempit, bercelana ketat, meniru busana yang tak jamak di dalam adat dan budaya kita menjadi kritisi jamak bagai remaja. Belum lagi perilaku yang jelas-jelas melanggar norma dan adat seperti halnya pergaulan bebas.
Sejauh itukah generasi muda minang terkontaminasi? Jawaban tentunya ada dalam diri kita, para generasi muda. Yang pasti, mencegah pengaruh negatif budaya global bisa dimulai dari diri sendiri. Menyadari nilai-nilai luhur dalam adat dan budaya sendiri.
Untuk para orang tua, ninik mamak dan pemerintah, menggalakan dan memberi penyuluhan tentang makna dan cara bermasyarakat menurut adat Minangkabau adalah salah satu langkah antisipatif yang bisa dilakukan. Pastinya, perilaku adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah itu pun harus ditunjukkan kalangan dewasa. Jangan sampai tungekk mambaok rabah.
Dengan mengimplementasikan adat Minang, kita bisa raih kembali kecemerlangan urang awak di tingkat global.
By: Irsyad-IUUKP Jelas Beda!!