IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Teknologi, Budaya Minang, SDM November 30, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 2:13 am

okokok.jpgDi zaman teknologi canggih, peranan budaya dibantu perkembangannya kemajuan teknologi seperti internet, televisi, radio, majalah, dan surat kabar. Setiap orang tidak perlu pergi jauh untuk bisa melihat sesuatu yang berbeda dari budayanya.
Ambil saja contoh budaya Minangkabau. Orang di luar sana bisa langsung melihat pertunjukan budaya dan berbagai macam jenis kesenian yang ada didalam Minang Kabau lewat berbagai media di atas.
Minang Kabau adalah sebuah negeri yang kaya akan adat istiadat dan budaya yang terkenal sampai ke mancanegara. Cuma kemajuan di atas harus juga diiringi kemajuan sumber daya manusianya. Jangan sampai kemajuan teknologi akan menghasilkan apresiasi instan saja.
Kita ketahui, di Minangkabau orang berfilosofi pada “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Kalimat tersebut mengandung arti yang sangat dalam bahwa seorang anak Minang  harus menjaga nama bundo kanduangnya yakni tanah Minang yang dicintai. Setiap tingkah laku perbuatan yang dilakukan haruslah berpedoman kepada hal di atas. Dalam hal ini, adat selalu memakai apa yang dikatakan oleh syarak yang berarti agama yang berpegang teguh kepada kitab Al Qur’an. “syarak mangato adat mamakai”. Ini juga salah satu kata orang tua dahulunya yang dimaksudkan diatas.
Sayang, hal-hal seperti di atas secara berangsur-angsur hilang terbawa arus kebudayaan dari negeri barat-westernisasi dan aplikasi teknologi secara negatif. Disinilah perannya sumber daya manusia anak negeri untuk bisa menyaring serbuan itu. Diakui memang sulit untuk bisa menyatakan bahwa hal ini akan cepat bisa diatasi. Tapi, secara berpikir positif kita harus  berpikir ini bisa diatasi dengan mudah bila adanya peran serta dari orang tua yang mau menggiatkan dan membantu pemerintah dalam hal budaya khususnya. Segala sesuatu sifat dan karakter manusia itu ditentukan oleh dan dari siapa keluarganya, juga situasi lingkungan yang merupakan pengaruh sangat besar dalam perkembangan budaya Minang Kabau saat ini.
Pemerintah juga menggalakkan “baliak ka surau,” himbauan ini sangatlah kecil maknanya bagi orang yang tidak tahu apa arti kembali ke surau atau musala. Maksudnya kita harus mempondasikan hal seperti silaturahmi yang erat terlebih dahulu. Dengan adanya silaturahmi yang bagus tanpa adanya pemutusan tali persaudaraan, anak minang akan senang dan mudah untuk kembali ke surau diiringi dengan program yang menarik bagi para remaja.
Kalau cuma ceramah satu jam, mereka hanya duduk dan dengar tanpa adanya respon. Kita semua pun akan susah untuk bisa memahami apa sebenarnya yang dibicarakan. Di surau, anak diajari bagaimana bisa salat, mengaji dan membela dirinya dengan bela diri minang yakni Silat. Seorang anak Minang yang tau dengan silat, dia akan tau dengan dirinya. Karena arti hakiki dari silat bahwasanya seorang pesilat akan tau akan dirinya, tau akan kemana dia melangkah. Persisnya sama dengan rukun iman dalam agama Islam yang menyuruh kita percaya dan taat(takut) yakni menjalankan perintah Nya dan meninggalkan larangan Nya.
Akhirnya dengan bisa membudayakan diri kita sendiri dalam melakukan segala hal yang baik, kita dengan mudah untuk mempelajari dan memahami apa arti dan bagaimana perkembangan budaya Minang Kabau ini akan dibawa. Meski serbuan arus global dan teknologi datang menghadang.

by: Mikes-IUUKP Jelas Beda!!

 

Jangan Tinggalkan Budaya Minangkabau November 23, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 8:15 am

iuukp3.jpgSegala perubahan zaman telah ikut mengikis peradaban manusia yang beretika. Dan saya sangat tidak setuju dengan modernisasi yang menghapus budaya Minangkabau.

Adat Minangkabau merupakan salah satu adat timur yang kental dengan syariat agamanya, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Artinya, jika remaja tidak mempunyai lagi rasa cinta terhadap budaya di ranah Minang, maka kita, para remaja adalah generasi yang tidak berbudaya. So, kita harus mempertahankan budaya Minangkabau sebagai acuan bernagari.

Ada beberapa langkah aplikatif yang bisa dilakukan untuk melestarikan budaya Minang. Langkah yang sudah jalan seperti menyosialisasikan kebudayaan Minangkabau ke sekolah-sekolah dengan cara memasukkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah (muatan lokal) perlu terus dikembangkan. Cara ini akan membuat generasi muda paham dengan budayanya, setidaknya dalam pengertian teori.

Mulai dari diri sendiri mengimplementasikan nilai budaya Minang. Misalnya, saya sendiri, saya akan mengimplementasikan budaya Minang dalam keluarga, pergaluan  sesama teman hingga ke skop yang lebih besar.

Di level remaja, kreativitas mereka harus ditunjukkan dengan mengadakan berbagai iven yang bersentuhan dengan budaya Minang. Perlombaan yang memancing partisipasi remaja semisal lomba lagu Minang, busana daerah atau Pemilihan Uda Uni Kota Padang. Langkah-langkah itu setidaknya bisa mempertahankan budaya Minang di generasi muda.

Essy-IUUKP Jelas Beda!!

 

Baliak ka Nagari jo ka Surau November 23, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 8:09 am

franko.jpgSungguh buruk realita kehidupan masyarakat di Minangkabau. Realita yang tergambar dari keseharian di mana seorang kemenakan tidak lagi hormat pada mamaknya, sebaliknya mamak yang tidak lagi membimbing kemenakannya. Mamak yang berlaku sebagai mamak Lapiak Buruak” atau mamak “Kacang Miang” yang justru mengadu domba di tengah masyarakat hanya karena berebut harta pusaka.
Sementara remajanya pun secara bebas tanpa rasa bersalah sedikitpun berpacaran di muka umum, beradegan yang tidak pantas di ruang publik, berciuman, berpelukan dengan orang yang bukan muhrimnya. Seolah perzinaan sudah dianggap jamak saja.
Didikan dan pembekalan ajaran agama oleh orang tua maupun mamak kepada anak dan kemenakan mulai berkurang. Surau-surau sepi di waktu salat. Para pria pun kalau datang ke surau hanya untuk melepas hutang, datang sekali seminggu  untuk Jum’at-an.
Di tingkat sosial, pemuda lebih bersifat individualis. Fungsi surau dahulu di mana terjadi interaksi sosial antara pemuda tidak terwujud.
Di tengah realita itu perlu ada solusi berbasis adat. Segenap masyarakat Minang dengan kesadaran penuh perlu menelusuri lagi akar budaya Minangkabau. Dengan merujuk pada falsafah dasar; Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai. Sehingga antara adat dan agama tidak lagi terpisahkan. Keduanya berjalan beriringan. Adat mengatur bagaimana tugas dari Tigo tungku sajarangan; Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai.
Substansi dari kembali ke nagari adalah memberdaya-gunakan kembali nilai-nilai agama dan adat yang berlaku di minangkabau. Tigo Tungku Sajarangan haruslah difungsikan lagi. Dengan berperannya Tigo Tungku Sajarangan, maka remaja pun akan tahu berlaku baik dan paham dengan kato nan ampek dan tahu beradat.
Sedangkan subsatnsi kembali ke surau adalah memberdayakan lagi fungsi sarana ibadah seperti masjid, mushala, dan surau. Surau tidak hanya sebagai tempat salat namun juga menjadi fasilitas untuk menimba ilmu dan interaksi sosial berbasis agama Islam. Di sini, remaja akan bisa berinteraksi dan  bisa menjauhkan sifat individualis yang ada.
Begitu banyak wacana dengan berbagai solusi. Namun kita harus konsisten dengan pengimplementasian solusi itu. Intinya, balik ka surau jo ka nagari tidak hanya sekedar di bibir saja!
By: Franko-IUUKP Jelas Beda!!

 

IUUKP Takes the Challenge November 13, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 2:59 am

Gak dipungkiri, banyak pihak yang mengkritisi eksistensi uda uni selama ini. Mulai dari stigma kalo uda uni adalah kompetisi fisik dan kecantikan, hingga mempertanyakan output positif dari malam grand final pemilihan uda uni yang menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah itu.

Kalo pun ada ekspos di media cetak tentang sepak terjang mereka, umumnya berkisar soal tugas sambut-menyambut tamu dan ketemu bapak dan ibu pejabat. Badan dibalut salempang, berdiri bak pajangan, disertai ibu pejabat narsis yang ikut mangamek di samping mereka. Ironisnya malah ada “tudingan” di sebuah media, kalo uda uni adalah salah satu penyebab bencana di Sumatra Barat ini.

Ikatan Uda Uni Kota Padang (IUUKP) yang notabene anggotanya adalah jebolan dari Pemilihan Uda Uni Kota Padang pun merasa tertantang. Sejak setahun belakangan dengan dibentuknya kepengurusan IUUKP, berbagai wacana pun digulirkan. Salah satunya membentuk kepengurusan yang jelas. Ikatan bukan hanya milik ketua dan
atau senior saja. Tidak ada istilah cuma ketua yang bisa dekat dengan pejabat dan penasehat.

Jelas di dalam, maka langkah ke luar pun makin dipertegas. Eksistensi pun tidak hanya sebatas tugas menyambut tamu dari Pemko Padang. Para anggota dengan label IUUKP mencari celah untuk bisa unjuk diri di tiap bidang yang mereka kuasai. Beberapa tulisan
buah pemikiran mereka pun dipublikasika n ke berbagai media, menunjukan kalau mereka adalah uda uni yang bernas.

Di bidang sosial, mereka tidak mau turun ke jalan mengandalkan salempang dan meminta sumbangan. Terakhir, mereka malah jual pabukoan di jalan dan mengadakan acara di pusat pertokoan. Hasilnya bukan sekedar bantuan yang melebihi target namun juga ikut melambungkan brand IUUKP sebagai ikatan uda uni yang jelas beda!!

Faktanya tidak semua bisa menerima. Konsep Jelas Beda!! mereka dipertanya kan malah dicibir dan disiriki. Malah, situs friendster mereka untuk menjaring koneksi yang luas pun di-hack.

Tak pantang surut, di penghujung tahun ini, IUUKP mengambil langkah baru lagi. Para anggota produktiv sepakat menuangkan pemikiran mereka tentang remaja dan budaya lokal dalam bentuk tulisan. Secara bergantian mereka bakal mengisi kolom di media cetak
Singgalang Minggu setiap pekan.

IUUKP merasa bangga sejauh ini banyak gebrakan positif mereka mulai diikuti. IUUKP sadar menyandang predikat “uda dan uni” berarti memikul moral yang tidak ringan.

Ikut ajang itu bukan hanya sebagai langkah mencari popularitas dan gelar. Mereka IUUKP telah melangkah ke depan dan menunjukkan kalau mereka bukan uda uni biasa.

IUUKP  jelas beda!! Untuk membuktikan nya, simak tulisan mereka di kolom khusus “IUUKP about Teens” setiap minggu di Singgalang Minggu. IUUKP Jelas Beda!!

Oya, bagi kamu yang pengen ninggalin komentar di FS mereka, silahkan add aja di:
ikatan_udauni_padang@yahoo.com. Komen juga bakal ditongolin di kolom
ini.
 

 

3 Hal Fundamental November 13, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 2:57 am

puspa.jpgAda korelasi antara 3 hal yang fundamental bagi kemajuan bangsa; pedoman, arah dan adat. Pedoman adalah segala petunjuk bagi
seseorang dalam bertindak. Arah adalah suatu titik fokus menuju tujuan, sedangkan adat adalah segala sesuatu hasil penuangan fikiran manusia berupa peraturan dan pola hidup.

Di Minang, sebagai muslim, pedoman kita adalah Al Quran dan hadis dengan arah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Adat yang kita pakai tentunya Minangkabau; adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Mengenai kemajuan bangsa berarti mengenai pemuda, sebagai bibit unggul untuk meneruskan kepemimpinan dan peran yang ada saat ini. Cuma, keberadaan tiga hal fundamental itu terhadap perkembangan generasi muda juga ada masalah yang penting untuk diselesaikan. Masalahnya, sebagian pemuda saat ini memiliki sedikit pemahaman terhadap tiga hal penting di atas.

Fenomena yang mendukung pernyataan itu diantaranya:
1. Budaya Minang dianggap tak lebih hebat dari budaya lain.
2. Remaja cenderung meniru budaya lain.
3. Kurangnya kebanggan sebagai generasi Minang.

Pangkal dari persoalan itu yaitu ketidak-pahaman para pemuda terhadap budaya sendiri. Untuk itu, ada beberapa solusi yang kiranya bisa membantu mengatasi persoalan tersebut.
1. Fokus terhadap pendidikan agama dan adat. Di masa ketidaklabilan remaja, mereka senantiasa dibimbing dan diajarkan tentang agama dan adat. Dengan demikian mereka tidak hanya cerdas tapi juga memiliki imtaq berkualitas dalam menghadapi tantangan global.
2. Mengadakan kegiatan seni dan adat secara berkala, sehingga menimbulkan kecintaan bagi siapa saja.

Dalam hal ini diharapkan peran serta para stake holder; pemerintah, alim ulama, pendidik, swasta dan orang tua untuk menggiatkan solusi tersebut.

Dalam hal ini bukan Minangkabau yang dikatakan punah, melainkan masyarakat yang cenderung lengah. Adat tidak pernah punah dimakan zaman, cuma adat harus selalu berdiri kokoh sebagai citra yang memiliki nilai di tengah masyarakat. Agama dan adat bisa dijadikan sebagai benteng menghadapi perkembangan dan perubahan zaman.

By: Puspa-IUUKP Jelas Beda!!

 

Kenali kembali Budaya Minang November 8, 2007

Diarsipkan di bawah: IUUKP About Teens — iuukp @ 12:37 pm

iuukp2.jpgTidak dapat kita pungkiri, dulu adat sangat dibanggakan dan dipuji oleh masyarakat Minang. Keberhasilan urang awak selalu dihubungkan dengan filosofis adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Namun bagaimana dengan sekarang? Seiring dengan merosotnya peran dan kiprah orang Minang di tingkat nasional, maka mulai timbul keraguan dan kebimbangan terhadap adat minang, yang walaupun tetap diteriakkan adat nan tak lakang di paneh, nan tak lapuak di hujan.

Banyak faktor yang menyebabkan mundurnya nilai dan implementasi adat. Salah satu faktor yang tak bisa dipandangs ebelah mata adalah masuknya budaya lain. Sayang, menurut generasi muda, budaya ini justru lebih enak dan mudah diikuti.

Masalahnya, haruskan adat kita tersingkir oleh budaya yang belum jelas pangkal dan ujungnya itu? Tentu tidak boleh! Mengganti adat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adat Minangkabau milik bersama, mengubahnya pun harus dengan cara bersama. Namun perubahan itu tidak boleh menyimpang dan mencederai nilai dalam adat itu sendiri.

Kita harus ingat, adat itu hidup karena usang diperbaharui. Baju dipakai usang, adat dipakai baru. Artinya wajar kalau ada perubahan, namun untuk adat harus melalui proses dan tata cara sendiri. Yang pasti intinya, nilai-nilai dalam adat itu tidak dirusak oleh perubahan.

Melihat perkembangan generasi muda Minang sekarang ini, memang tampaknya sudah mulai menjauh dari nilai adat dan budaya lokal kita sendiri. Berbaju sempit, bercelana ketat, meniru busana yang tak jamak di dalam adat dan budaya kita menjadi kritisi jamak bagai remaja. Belum lagi perilaku yang jelas-jelas melanggar norma dan adat seperti halnya pergaulan bebas.

Sejauh itukah generasi muda minang terkontaminasi? Jawaban tentunya ada dalam diri kita, para generasi muda.  Yang pasti, mencegah pengaruh negatif budaya global bisa dimulai dari diri sendiri. Menyadari nilai-nilai luhur dalam adat dan budaya sendiri.

Untuk para orang tua, ninik mamak dan pemerintah, menggalakan dan memberi penyuluhan tentang makna dan cara bermasyarakat menurut adat Minangkabau adalah salah satu langkah antisipatif yang bisa dilakukan. Pastinya, perilaku adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah itu pun harus ditunjukkan kalangan dewasa. Jangan sampai tungekk mambaok rabah.

Dengan mengimplementasikan adat Minang, kita bisa raih kembali kecemerlangan urang awak di tingkat global.

By: Irsyad-IUUKP Jelas Beda!!