Di zaman teknologi canggih, peranan budaya dibantu perkembangannya kemajuan teknologi seperti internet, televisi, radio, majalah, dan surat kabar. Setiap orang tidak perlu pergi jauh untuk bisa melihat sesuatu yang berbeda dari budayanya.
Ambil saja contoh budaya Minangkabau. Orang di luar sana bisa langsung melihat pertunjukan budaya dan berbagai macam jenis kesenian yang ada didalam Minang Kabau lewat berbagai media di atas.
Minang Kabau adalah sebuah negeri yang kaya akan adat istiadat dan budaya yang terkenal sampai ke mancanegara. Cuma kemajuan di atas harus juga diiringi kemajuan sumber daya manusianya. Jangan sampai kemajuan teknologi akan menghasilkan apresiasi instan saja.
Kita ketahui, di Minangkabau orang berfilosofi pada “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.” Kalimat tersebut mengandung arti yang sangat dalam bahwa seorang anak Minang harus menjaga nama bundo kanduangnya yakni tanah Minang yang dicintai. Setiap tingkah laku perbuatan yang dilakukan haruslah berpedoman kepada hal di atas. Dalam hal ini, adat selalu memakai apa yang dikatakan oleh syarak yang berarti agama yang berpegang teguh kepada kitab Al Qur’an. “syarak mangato adat mamakai”. Ini juga salah satu kata orang tua dahulunya yang dimaksudkan diatas.
Sayang, hal-hal seperti di atas secara berangsur-angsur hilang terbawa arus kebudayaan dari negeri barat-westernisasi dan aplikasi teknologi secara negatif. Disinilah perannya sumber daya manusia anak negeri untuk bisa menyaring serbuan itu. Diakui memang sulit untuk bisa menyatakan bahwa hal ini akan cepat bisa diatasi. Tapi, secara berpikir positif kita harus berpikir ini bisa diatasi dengan mudah bila adanya peran serta dari orang tua yang mau menggiatkan dan membantu pemerintah dalam hal budaya khususnya. Segala sesuatu sifat dan karakter manusia itu ditentukan oleh dan dari siapa keluarganya, juga situasi lingkungan yang merupakan pengaruh sangat besar dalam perkembangan budaya Minang Kabau saat ini.
Pemerintah juga menggalakkan “baliak ka surau,” himbauan ini sangatlah kecil maknanya bagi orang yang tidak tahu apa arti kembali ke surau atau musala. Maksudnya kita harus mempondasikan hal seperti silaturahmi yang erat terlebih dahulu. Dengan adanya silaturahmi yang bagus tanpa adanya pemutusan tali persaudaraan, anak minang akan senang dan mudah untuk kembali ke surau diiringi dengan program yang menarik bagi para remaja.
Kalau cuma ceramah satu jam, mereka hanya duduk dan dengar tanpa adanya respon. Kita semua pun akan susah untuk bisa memahami apa sebenarnya yang dibicarakan. Di surau, anak diajari bagaimana bisa salat, mengaji dan membela dirinya dengan bela diri minang yakni Silat. Seorang anak Minang yang tau dengan silat, dia akan tau dengan dirinya. Karena arti hakiki dari silat bahwasanya seorang pesilat akan tau akan dirinya, tau akan kemana dia melangkah. Persisnya sama dengan rukun iman dalam agama Islam yang menyuruh kita percaya dan taat(takut) yakni menjalankan perintah Nya dan meninggalkan larangan Nya.
Akhirnya dengan bisa membudayakan diri kita sendiri dalam melakukan segala hal yang baik, kita dengan mudah untuk mempelajari dan memahami apa arti dan bagaimana perkembangan budaya Minang Kabau ini akan dibawa. Meski serbuan arus global dan teknologi datang menghadang.
by: Mikes-IUUKP Jelas Beda!!