IUUKP, Jelas Beda!!

Just another window of Uda Uni

Kunjungan IUUKP, Ceria Bersama Anak-anak Paska Gempa Desember 1, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 2:31 pm

Padang, 20 November 2009, Ikatan Uda Uni Kota Padang melakukan kunjungan dan silaturahmi ke SD Negeri 11 Karang Gantiang Ampang Padang yang runtuh akibat gempa yang melanda Kota Padang dan Pariaman di akhir September kemarin. Kunjungan ini ditujukan untuk bercengkrama dengan anak-anak Sekolah Dasar dan memotivasi mereka untuk tetap percaya pada mimpi dan cita-cita mereka.

 

Acara berlangsung dengan lancar dan menggembirakan, terutama ketika melihat anak-anak yang antusias saat bercengkrama dengan Uda Uni Kota Padang yang pada saat itu terlihat kompak dalam seragam hitam IUUKP. Pada kesempatan itu, Uda Uni yang sebelumnya menggalang dana dari Duta Wisata dan Duta Bahasa daerah lain, seperti Duta Wisata Sumatera Selatan, Duta Bahasa Kalimantan Timur, dan lain sebagainya membagikan perlengkapan alat tulis yang akan berguna bagi murid-murid dalam belajar nantinya. Mereka terlihat sangat senang, apalagi ketika diberitahu oleh Kepala Sekolah SD Negeri 11 Karang Gantiang Ampang, Ibu Asniroyan, bahwa mereka baru saja dibagikan rapor tengah semester. Tentunya kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang juga merupakan hadiah dari hasil belajar mereka selama setengah semester.

 

Keakraban tidak hanya terasa saat bercengkrama, puncaknya ketika murid-murid diminta untuk bernyanyi bersama dengan Uda Uni yang hadir. Mereka menyanyikan lagu Kasih Ibu dengan penuh semangat dan khidmat. Sehingga semua yang ada terharu, apalagi ketika mendengar bahwa mereka tetap semangat untuk bersekolah walaupun dalam kondisi kelas darurat yang sengaja dibuat dengan kayu dan triplek. Bahkan anak kelas lima masih sekolah di dalam tenda darurat karna tidak cukupnya daya tampung di kelas yang telah disediakan.

 

Anak-anak adalah asset bangsa. Dan inilah yang disadari penuh oleh Uda Uni Kota Padang, sehingga ikut serta terjun dalam memberikan semangat dan harapan pada mereka untuk belajar. Tentunya kegiatan dan sepak terjang Ikatan Uda Uni Kota Padang tidak hanya sampai di sini. Ke depan IUUKP tetap berkomitmen untuk melestarikan budaya dan pariwisata Kota Padang serta peka terhadap isu social dan masyarakat. Dan tentunya diperlukan keikutsertaan dari para generasi muda dan organisasi lainnya untuk bersatu padu dalam membangun kembali Kota Padang Tercinta.

 

Juni 19, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 1:22 pm

Penyelenggaraan pemilihan duta wisata uda uni kota padang tahun 2009 hanya tinggal beberapa hari lagi.Tepat pada tanggal 22 prosesi pertama pun dimulai,yakni pengambilan lot dan atribut pemilihan.Beranjak dari tanggal tersebut, prosesi kompleks dalam menjaring peserta terbaik untuk dinobatkan menjadi duta wisata uda uni kota padang 2009.Tentunya, proses tersebut akan menghasilkan pemuncak-pemuncak baru dalam lingkup duta wisata yang akan mempromosikan kebudayaan dan pariwisata kota padang dengan kompetensi dan standar yang jelas sehingga mereka yang akan tergabung dalam lingkup IUUKP pun semakin mengokohkan IUUKP sebagai oraniganisasi para duta wisata kota padang yang jelas beda dari yang lainnya. Bravo IUUKP!!

 

Mei 9, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 1:15 am

Assalamualaikum …!
Ini saatnya kamu yg muda untuk menggali potensi diri dan mengukir prestasi!
Kembali sebuah ajang spektakuler digelar sebagai wujud apresiasi & penghargaan bagi generasi muda Kota Padang yg peduli terhadap budaya, adat istiadat & pariwisata Kota Padang..

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang bersama Ikatan Uda Uni Kota Padang (IUUKP) menyelenggarakan :

PEMILIHAN DUTA WISATA UDA UNI KOTA PADANG 2009
^^23 JUNI S/D 4 JULI 2009^^

Sekretariat: Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kota Padang

Jl. Samudera No. 1 Pantai Padang Telp. (0751) 34186 Padang

REBUT HADIAH: UANG TUNAI, PIALA, BINGKISAN, VOUCHER, DLL

PENDAFTARAN DIBUKA TANGGAL 20 MEI S/D 20 JUNI 2009

PERSYARATAN:
- Terbuka untuk umum
- Mengisi Formulir yang telah disediakan
- Pendidikan Minimal SLTA/Sederajat
- Surat Izin Orang Tua
- Usia 18 s/d 25 Tahun dan belum menikah
- Tinggi Badan: Cowok: Min 165 Cm & Cewek: Min 160 Cm
- Foto Close Up (1 Lembar), Seluruh Badan (1 lembar)
- Foto Copy KTP
- Foto Copy Ijazah Terakhir
- Warga Negara Indonesia
- Menguasai Bahasa Inggris/Bahasa Asing Lainnya
- Membayar Uang Pendaftaran sebesar Rp 100.000,-

Contact Person:
1. Okta 081363414230
2. Agustina, SH 08126626043

Jadi,mengapa harus menunggu dan berfikir panjang jika sebuah momen datang memberikan kesempatan untuk menggali potensi diri dan mengukir prestasi………..Dan merupakan sebuah investasi masa depan bagi anak muda yang melihat setiap peluang untuk terus mengembangkan diri dan Leadership dalam dirinya…

are you the one??
IUUKP with a great warm and pleasure to have been waiting for you……!!!!

IUUKPly yours,

 

Mencintai dan Bangga dengan Bahasa dan Musik Desember 7, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — iuukp @ 6:39 pm

Oleh: Sparta (from his comments)

Suatu kesempatan dalam minggu ketiga Nopember 2008, saya mendapat tugas sebagai assessor dalam proses pemberian sertifikasi profesi bagi direktur Bank Perkreditan Rakyat. Tugas ini telah penulis lakoni sudah hampir tiga tahun sejak bergabung dengan salah satu lembaga pendidikan perbankan di Jakarta. Selesai tugas, saya pulang kerumah dengan mobil tumpangan staf dari bank sentral. Saya baru kenal dengan staf ini karena sama-sama terlibat dalam proses ini dengan tugas yang berbeda. Sambil menikmati perjalanan pulang dari Jl. Thamrin ke Stasiun Kebayoran Lama, kami bercerita tentang banyak hal. Hal yang biasa dilakukan bila kita ikut mobil tumpangan, kita selalu berupaya untuk mengobrol lebih banyak dengan sipemilik kendaraan.

Sampailah pada suatu cerita, beliau menanyakan saya berasal dari mana. Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya berasal dari Minang. “oh.. kalau begitu saya mau cerita tentang kesan saya selama di Padang” ujar beliau dengan suara agak setengah kaget. Rupanya ia mempunyai kesan yang tidak pernah dilupakannya selama bertugas di Padang. Ia sudah dua kali bertugas di Padang. Tugas teakhir di Padang yang ia jalani terjadi dalam tahun 2004. Ia ingin berdiskusi dengan saya tentang kesannya itu. “Ada dua hal yang saya tidak habis mengerti mengenai Kota Padang dan Sumbar pada umumnya” ia berujar dengan mimik wajah agak berkerut. “Pertama. Sebagai propinsi yang merupakan daerah tujuan wisata ia tidak habis mengerti kenapa restoran-restoran terkenal di Padang tidak memutar lagu-lagu khas Minang Kabau. Hal ini ia bandingkan dengan restoran-restoran di daerah tujuan wisata lainnya seperti Bandung, Yogja dan daerah lainnya. Biasanya mereka selalu memutar lagu asli daerah setempat seperti lagu sunda dan lagu gending jawa atau keroncong di Yogja. Suasana restoran dengan mengumandangkan lagu-lagu asli daerah setempat memberikan kesan unik tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara yang berkunjung ke restoran tersebut. Ia sebenarnya menginginkan suasana lain yang akan didapatinya di restoran Padang tersebut. Tetapi saat ia masuk dan selama menikmati hidangan masakan Padang tak sedikitpun terdengar lagu-lagu kas minang. Hal yang sama ia dapati juga saat makan di restoran besar lainnya di kota Padang dan Bukittinggi. Musik yang diputar di restoran-rstoran tersebut kebanyak lagu-lagu pop Indonesia dan barat serta dangdut. Menurut beliau, alangkah nikmatnya makan masakan padang sambil mendengarkan lagu-lagu asli minangakabau, sehingga nuansa alam dan citra rasa minang sangat terasa…” saya cukup kaget mendengar kesannya ini. Setahu saya, selama sekolah di Padang tahun 70-an sampai saya lulus kuliah 1989 dan berangkat meninggalkan Padang tahun 1991 saya sering mendengar lagu-lagu asli minang berkumandang di restoran-restoran menengah ke bawah. Tetapi untuk restoran menengah ke atas, memang sedikit agak jarang saya mendengar lagu-lagu asli minang. Waktu itu saya tidak terpikir bagaimana pentingnya lagu-lagu asli minang perlu diperdengarkan di restoran-restoran tersebut bagi wisatawan lokal dan mungkin juga bagi wisatawan asing. Tidak terpikir juga bahwa antara musik dan makanan ada hubungannya. Seperti masakan sunda akan lebih nikmat dinikmati apabila di iringi dengan musik khas sunda. Rasanya agak lain citra rasa masakan sunda bila saat menikmati masakan tersebut diiringi dengan lagu batak misalnya Kesan sunda tidak muncul bila musik dan makanan tidak matching.

Saya tidak tahu persis apakah kondisi yang diceritakan teman saya di atas memang betul-betul terjadi atau masih terjadi saat ini. Hampir setiap tahun saya pulang dan beberapa kali saya makan di restoran di kota Padang dan di daerah lainnya seperti Pariaman, Padang Panjang, Bukit Tinggi dan Solok memang agak jarang saya mendengar lagu-lagu minang dikumdangkan dalam rstoran tersebut. Saya pikir karena hampir semua pengunjungnya orang minang, maka musik minang dianggap sudah biasa sehingga mereka kurang berminat lagi untuk mendengarkannya. Tapi munkin analisa saya ini tidak benar. Di tempat-tempat rekreasi, saya sering mendengar lagu-lagu minang dan group-group band dengan penyanyi asli Minang membawakan lagu-lagu minang. Tetapi maaf, yang menonton dan mendengar lagu minang tersebut kebanyakan dari golongan menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari penampilan mereka yang dapat ditebak mereka bukan golongan menengah ke atas. Apakah kondisi ini dapat penulis simpulkan bahwa lagu-lagu minang hanya digemari oleh orang minang yang berasal dari kelompok menengah ke bawah saja?. Mudah-mudahan penulis salah. Kalau benar hal itu terjadi maka dapat disimpulkan juga bahwa restoran-restoran besar yang ada di Padang dan Bukittinggi yang sebagian besar pengunjungnya berasal dari kelompok menengah ke atas adalah tidak begitu suka menghidupkan lagu-lagu khas minang. Mereka lebih suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia dan Barat sesuai selera pengunjungnya. Hal ini kalu kita bandingkan dengan Jakarta dan kotakota di pulau Jawa tentu berbeda sekali. Dikota ini, restoran-restoran besar selalu memberikan fasilitas hiburan musik khas asli daerah asal masakan tesrebut.

Kesan ia yang kedua, ini terkait dengan nilai kehidupan di Ranah Minang yang kita ketahui selama ini. Nilai kehidupan tersebut selalu bernuansa islami. Namun bayangan itu agak sedikit menjadi tanda tanya bagi teman saya ini pada saat ia dikejutkan dengan kondisi diluar dugaan dia. Saya juga merasa heran kok bisa terjadi seperti itu. Ceritanya begini, masih dalam tugas di Padang tahun 2004, pada saat selesai makan malam ia berencana mau pergi jalan-jalan kearah pantai Padang dari tempat penginapannya yang berada di seberang SMP 2 Padang. (saya tidak tahu untuk apa ia jalan-jalan ke Pantai Padang, mungkin melihat suasana pantai Padang yang terkenal itu) Begitu keluar gerbang hotel ia menyetop sebuah taxi untuk menuju kea rah pantai Padang. Tetapi alangkah kagetnya ketika ia membuka pintu belakang taksi ia melihat didalam taksi sudah ada seorang gadis belia dengan bahasa Indonesia logat minangya menyapa ia dan menawarkan diri kepada teman saya untuk ia temani jalan-jalan malam itu. Sambil menatap heran ia berpikir kok kondisi ini ada di Padang yang notabene kehidupan masyarakatnya sangat islami. Saya mendengar ceritanya juga heran dan mengatakan bahwa itu mungkin kasus. Dan saat sekarang hal itu mungkin tidak atau jarang terjadi di Padang. Tetapi terus terang saja, saya tidak dapat memeberikan komentar banyak karena selama saya hidup di Padang saya tidak mengetahui kondisi seperti itu.

Saya lihat kehidupan masyarakat di Padang terutama pergaulan kaum muda-mudinya jauh lebih sopan dibandingkan dengan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa ini. Namun kondisi pergaulan generasi mudanya saat sekarang saya memang tidak tahu persis karena saya telah menjalani kehidupan di Jakarta sejaka tahun 1991 sampai dengan sekarang. Namun saya berharap kondisi ini tidak umum terjad di Kota Padang dan Sumbar pada umumnya. Pertanyaannya, apakah yang berbuat itu orang asli minang atau bukan?.. Apakah kontrol masyarakat terhadap lingkungan sosialnya sudah mulai melemah? Apakah kepedulian keluarga minang sudah mulai melemah terhadap nilai-nilai islam? Namun sekali lagi penulis nyakin bahwa apa yang ditemukan oleh teman saya yang berasal dari penduduk asli Jakarta hanya sebuah kasus. Dan saat ini saya melihat nilai-nilai Islami dalam kehidupan masyarakat minang saat sekarang mulai digiatkan oleh pemerintahan daerah Tk.I Sumbar. Kegiatan ini mulai terlihat intensif selama pasca ancaman tsunami di Padang setelah tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Kegiatan tersebut antara lain: anjuran (wajib) untuk menggunakan Jilbab bagi anak perempuan di sekolah, adannya program pesantren bagi pelajar selama bulan Ramadhan dan lain sebagainya. Kondisi ini telah merubah suasana kehidupan lebih Islami. Mudah-mudahan kampuang kita terhindar dari bencana yang maha dasyat seperti di Aceh karena kita berusaha keras untuk menjalani kehidupan ini sesuai syariat Islam. Sekali lagi Insya Allah hal itu tidak terjadi. Semoga Allah dapat melindungi nagari kita.

Dari kondisi di atas penulis juga melihat ada kecendrungannya kita masih belum percaya diri untuk menggunakan simbol kedaerahaan. Seperti kurang disukainya musik daerah dan bahasa minang asli untuk digunakan dalam percakapan sehari-hasi di rumah dan menggunakan ejaan minang saat mencantumkan nama nagari dan nama jalan. Dalam hal penggunaan bahasa minang asli di lingkungan keluarga terdapat dua kelompok. Untuk keluarga menengah ke atas dan terdidik, mereka lebih cendrung mendidik anak-anaka mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bagi mereka bercakap dalam bahasa Indonesia lebih memberikan kesan bahwa mereka adalah keluarga intelek dan berada dibandingkan apabila anak-anak mereka berbicara dalam bahasa minang. Hal ini juga mengejala di percakapan informal dalam acara komunitas mereka.

Bagaimana dengan penggunaan bahasa minang di lingkungan keluarga menengah ke bawah? Dari pengamatan penulis, Lingkungan keluarga ini justru lebih banyak menggunakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari. Bandingkan dengan keluarga di daerah jawa (diluar daerah Jabodetabek). Pada umumnya mereka lebih banyak menggunakan bahasa asli daerah mereka. Mereka tidak merasa risih di anggap keluarga tidak terdidik dan berada apabila menggunakan bahasa Jawa. Mereka juga tidak merasa risih menggunakan bahasa Jawa di lingkungan kantor dan ditempat-tempat umum di daerah Jabodetabek.

Hal sama terjadi juga dalam mencantumkan nama daerah dan nama jalan yang berasal dari ejan asli minang. Misalnya Daerah “Sitinjau Lauik” di Tulis dengan “Sitinjau Laut”. Nama Daerah “Ampek Angkek” ditulis dengan “Empat Angkat”. Kenapa kita tidak menulis nama daerah dan nama jalan dalam ejaan bahasa minang saja seperti daerah “Limau Puruik” tetap ditulis dengan “Limau Puruik” sehingga apabila wisatawan datang ke sumbar ada nuansa lain dengan adanya nama-nama dearah dan nama jalan ditulis sesuai dengan ejaan minang. Pertanyaannya, apakah kita malu atau dianggap ndeso bila menulis nama-nama asli minang tersebut sesuai dengan ejaan minangnya? Apakah kita merasa ndeso bila dikeluarga kita masih menggnakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari? Apakah dengan bercakap dalam bahasa Indonesia dengan logat minang yang sangat kental kita merasa bukan mnejadi orang ndeso tetap menjadi keluarga berada dan intelek? Untuk menjawabnya cobalah kita bandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia bagaimana mereka memperlakukan budaya bahasa, musik asli daerah mereka tanpa mersa malu mereka di anggak ndeso. Khususnya keluarga-keluarga menengah ke atas.

Hanya sekian yang dapat saya ungkapkan dari hasil pengamatan saya, mudah-mudahan ini menjadi renungan kita untuk lebih bangga dengan jati diri ke-Minang-an kita. Sebagai daerah tujuan wisata, kita juga harus memberikan suasana kehidupan yang lebih unik sesuai adat minang yang bersandikan kitabullah (Al-Qur’an Nulkarim). Amien.. Salam dari penulis, (Sparta)
Jakarta, 24 Nopember 2008,

Mencintai dan Bangga dengan Bahasa dan Musik
Minang Kabau
Oleh: Sparta

Suatu kesempatan dalam minggu ketiga Nopember 2008, saya mendapat tugas sebagai assessor dalam proses pemberian sertifikasi profesi bagi direktur Bank Perkreditan Rakyat. Tugas ini telah penulis lakoni sudah hampir tiga tahun sejak bergabung dengan salah satu lembaga pendidikan perbankan di Jakarta. Selesai tugas, saya pulang kerumah dengan mobil tumpangan staf dari bank sentral. Saya baru kenal dengan staf ini karena sama-sama terlibat dalam proses ini dengan tugas yang berbeda. Sambil menikmati perjalanan pulang dari Jl. Thamrin ke Stasiun Kebayoran Lama, kami bercerita tentang banyak hal. Hal yang biasa dilakukan bila kita ikut mobil tumpangan, kita selalu berupaya untuk mengobrol lebih banyak dengan sipemilik kendaraan.

Sampailah pada suatu cerita, beliau menanyakan saya berasal dari mana. Saya sampaikan kepada beliau bahwa saya berasal dari Minang. “oh.. kalau begitu saya mau cerita tentang kesan saya selama di Padang” ujar beliau dengan suara agak setengah kaget. Rupanya ia mempunyai kesan yang tidak pernah dilupakannya selama bertugas di Padang. Ia sudah dua kali bertugas di Padang. Tugas teakhir di Padang yang ia jalani terjadi dalam tahun 2004. Ia ingin berdiskusi dengan saya tentang kesannya itu. “Ada dua hal yang saya tidak habis mengerti mengenai Kota Padang dan Sumbar pada umumnya” ia berujar dengan mimik wajah agak berkerut. “Pertama. Sebagai propinsi yang merupakan daerah tujuan wisata ia tidak habis mengerti kenapa restoran-restoran terkenal di Padang tidak memutar lagu-lagu khas Minang Kabau. Hal ini ia bandingkan dengan restoran-restoran di daerah tujuan wisata lainnya seperti Bandung, Yogja dan daerah lainnya. Biasanya mereka selalu memutar lagu asli daerah setempat seperti lagu sunda dan lagu gending jawa atau keroncong di Yogja. Suasana restoran dengan mengumandangkan lagu-lagu asli daerah setempat memberikan kesan unik tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara yang berkunjung ke restoran tersebut. Ia sebenarnya menginginkan suasana lain yang akan didapatinya di restoran Padang tersebut. Tetapi saat ia masuk dan selama menikmati hidangan masakan Padang tak sedikitpun terdengar lagu-lagu kas minang. Hal yang sama ia dapati juga saat makan di restoran besar lainnya di kota Padang dan Bukittinggi. Musik yang diputar di restoran-rstoran tersebut kebanyak lagu-lagu pop Indonesia dan barat serta dangdut. Menurut beliau, alangkah nikmatnya makan masakan padang sambil mendengarkan lagu-lagu asli minangakabau, sehingga nuansa alam dan citra rasa minang sangat terasa…” saya cukup kaget mendengar kesannya ini. Setahu saya, selama sekolah di Padang tahun 70-an sampai saya lulus kuliah 1989 dan berangkat meninggalkan Padang tahun 1991 saya sering mendengar lagu-lagu asli minang berkumandang di restoran-restoran menengah ke bawah. Tetapi untuk restoran menengah ke atas, memang sedikit agak jarang saya mendengar lagu-lagu asli minang. Waktu itu saya tidak terpikir bagaimana pentingnya lagu-lagu asli minang perlu diperdengarkan di restoran-restoran tersebut bagi wisatawan lokal dan mungkin juga bagi wisatawan asing. Tidak terpikir juga bahwa antara musik dan makanan ada hubungannya. Seperti masakan sunda akan lebih nikmat dinikmati apabila di iringi dengan musik khas sunda. Rasanya agak lain citra rasa masakan sunda bila saat menikmati masakan tersebut diiringi dengan lagu batak misalnya Kesan sunda tidak muncul bila musik dan makanan tidak matching.

Saya tidak tahu persis apakah kondisi yang diceritakan teman saya di atas memang betul-betul terjadi atau masih terjadi saat ini. Hampir setiap tahun saya pulang dan beberapa kali saya makan di restoran di kota Padang dan di daerah lainnya seperti Pariaman, Padang Panjang, Bukit Tinggi dan Solok memang agak jarang saya mendengar lagu-lagu minang dikumdangkan dalam rstoran tersebut. Saya pikir karena hampir semua pengunjungnya orang minang, maka musik minang dianggap sudah biasa sehingga mereka kurang berminat lagi untuk mendengarkannya. Tapi munkin analisa saya ini tidak benar. Di tempat-tempat rekreasi, saya sering mendengar lagu-lagu minang dan group-group band dengan penyanyi asli Minang membawakan lagu-lagu minang. Tetapi maaf, yang menonton dan mendengar lagu minang tersebut kebanyakan dari golongan menengah ke bawah. Hal ini terlihat dari penampilan mereka yang dapat ditebak mereka bukan golongan menengah ke atas. Apakah kondisi ini dapat penulis simpulkan bahwa lagu-lagu minang hanya digemari oleh orang minang yang berasal dari kelompok menengah ke bawah saja?. Mudah-mudahan penulis salah. Kalau benar hal itu terjadi maka dapat disimpulkan juga bahwa restoran-restoran besar yang ada di Padang dan Bukittinggi yang sebagian besar pengunjungnya berasal dari kelompok menengah ke atas adalah tidak begitu suka menghidupkan lagu-lagu khas minang. Mereka lebih suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia dan Barat sesuai selera pengunjungnya. Hal ini kalu kita bandingkan dengan Jakarta dan kotakota di pulau Jawa tentu berbeda sekali. Dikota ini, restoran-restoran besar selalu memberikan fasilitas hiburan musik khas asli daerah asal masakan tesrebut.

Kesan ia yang kedua, ini terkait dengan nilai kehidupan di Ranah Minang yang kita ketahui selama ini. Nilai kehidupan tersebut selalu bernuansa islami. Namun bayangan itu agak sedikit menjadi tanda tanya bagi teman saya ini pada saat ia dikejutkan dengan kondisi diluar dugaan dia. Saya juga merasa heran kok bisa terjadi seperti itu. Ceritanya begini, masih dalam tugas di Padang tahun 2004, pada saat selesai makan malam ia berencana mau pergi jalan-jalan kearah pantai Padang dari tempat penginapannya yang berada di seberang SMP 2 Padang. (saya tidak tahu untuk apa ia jalan-jalan ke Pantai Padang, mungkin melihat suasana pantai Padang yang terkenal itu) Begitu keluar gerbang hotel ia menyetop sebuah taxi untuk menuju kea rah pantai Padang. Tetapi alangkah kagetnya ketika ia membuka pintu belakang taksi ia melihat didalam taksi sudah ada seorang gadis belia dengan bahasa Indonesia logat minangya menyapa ia dan menawarkan diri kepada teman saya untuk ia temani jalan-jalan malam itu. Sambil menatap heran ia berpikir kok kondisi ini ada di Padang yang notabene kehidupan masyarakatnya sangat islami. Saya mendengar ceritanya juga heran dan mengatakan bahwa itu mungkin kasus. Dan saat sekarang hal itu mungkin tidak atau jarang terjadi di Padang. Tetapi terus terang saja, saya tidak dapat memeberikan komentar banyak karena selama saya hidup di Padang saya tidak mengetahui kondisi seperti itu.

Saya lihat kehidupan masyarakat di Padang terutama pergaulan kaum muda-mudinya jauh lebih sopan dibandingkan dengan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di pulau Jawa ini. Namun kondisi pergaulan generasi mudanya saat sekarang saya memang tidak tahu persis karena saya telah menjalani kehidupan di Jakarta sejaka tahun 1991 sampai dengan sekarang. Namun saya berharap kondisi ini tidak umum terjad di Kota Padang dan Sumbar pada umumnya. Pertanyaannya, apakah yang berbuat itu orang asli minang atau bukan?.. Apakah kontrol masyarakat terhadap lingkungan sosialnya sudah mulai melemah? Apakah kepedulian keluarga minang sudah mulai melemah terhadap nilai-nilai islam? Namun sekali lagi penulis nyakin bahwa apa yang ditemukan oleh teman saya yang berasal dari penduduk asli Jakarta hanya sebuah kasus. Dan saat ini saya melihat nilai-nilai Islami dalam kehidupan masyarakat minang saat sekarang mulai digiatkan oleh pemerintahan daerah Tk.I Sumbar. Kegiatan ini mulai terlihat intensif selama pasca ancaman tsunami di Padang setelah tsunami di Aceh beberapa tahun lalu. Kegiatan tersebut antara lain: anjuran (wajib) untuk menggunakan Jilbab bagi anak perempuan di sekolah, adannya program pesantren bagi pelajar selama bulan Ramadhan dan lain sebagainya. Kondisi ini telah merubah suasana kehidupan lebih Islami. Mudah-mudahan kampuang kita terhindar dari bencana yang maha dasyat seperti di Aceh karena kita berusaha keras untuk menjalani kehidupan ini sesuai syariat Islam. Sekali lagi Insya Allah hal itu tidak terjadi. Semoga Allah dapat melindungi nagari kita.

Dari kondisi di atas penulis juga melihat ada kecendrungannya kita masih belum percaya diri untuk menggunakan simbol kedaerahaan. Seperti kurang disukainya musik daerah dan bahasa minang asli untuk digunakan dalam percakapan sehari-hasi di rumah dan menggunakan ejaan minang saat mencantumkan nama nagari dan nama jalan. Dalam hal penggunaan bahasa minang asli di lingkungan keluarga terdapat dua kelompok. Untuk keluarga menengah ke atas dan terdidik, mereka lebih cendrung mendidik anak-anaka mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Bagi mereka bercakap dalam bahasa Indonesia lebih memberikan kesan bahwa mereka adalah keluarga intelek dan berada dibandingkan apabila anak-anak mereka berbicara dalam bahasa minang. Hal ini juga mengejala di percakapan informal dalam acara komunitas mereka.

Bagaimana dengan penggunaan bahasa minang di lingkungan keluarga menengah ke bawah? Dari pengamatan penulis, Lingkungan keluarga ini justru lebih banyak menggunakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari. Bandingkan dengan keluarga di daerah jawa (diluar daerah Jabodetabek). Pada umumnya mereka lebih banyak menggunakan bahasa asli daerah mereka. Mereka tidak merasa risih di anggap keluarga tidak terdidik dan berada apabila menggunakan bahasa Jawa. Mereka juga tidak merasa risih menggunakan bahasa Jawa di lingkungan kantor dan ditempat-tempat umum di daerah Jabodetabek.

Hal sama terjadi juga dalam mencantumkan nama daerah dan nama jalan yang berasal dari ejan asli minang. Misalnya Daerah “Sitinjau Lauik” di Tulis dengan “Sitinjau Laut”. Nama Daerah “Ampek Angkek” ditulis dengan “Empat Angkat”. Kenapa kita tidak menulis nama daerah dan nama jalan dalam ejaan bahasa minang saja seperti daerah “Limau Puruik” tetap ditulis dengan “Limau Puruik” sehingga apabila wisatawan datang ke sumbar ada nuansa lain dengan adanya nama-nama dearah dan nama jalan ditulis sesuai dengan ejaan minang. Pertanyaannya, apakah kita malu atau dianggap ndeso bila menulis nama-nama asli minang tersebut sesuai dengan ejaan minangnya? Apakah kita merasa ndeso bila dikeluarga kita masih menggnakan bahasa minang dalam percakapan sehari-hari? Apakah dengan bercakap dalam bahasa Indonesia dengan logat minang yang sangat kental kita merasa bukan mnejadi orang ndeso tetap menjadi keluarga berada dan intelek? Untuk menjawabnya cobalah kita bandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia bagaimana mereka memperlakukan budaya bahasa, musik asli daerah mereka tanpa mersa malu mereka di anggak ndeso. Khususnya keluarga-keluarga menengah ke atas.

Hanya sekian yang dapat saya ungkapkan dari hasil pengamatan saya, mudah-mudahan ini menjadi renungan kita untuk lebih bangga dengan jati diri ke-Minang-an kita. Sebagai daerah tujuan wisata, kita juga harus memberikan suasana kehidupan yang lebih unik sesuai adat minang yang bersandikan kitabullah (Al-Qur’an Nulkarim). Amien.. Salam dari penulis, (Sparta)
Jakarta, 24 Nopember 2008,
sparta1609@yahoo.com
sparta

 

Jual Pabukoan, IUUKP Santuni Anak yatim September 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Aktivitas — iuukp @ 9:44 am

Seperti tahun lalu, Ikatan Uda Uni Kota Padang (IUUKP) kembali mengadakan aksi sosial. Kegiatan amal itu diawali dengan kegiatan jual pabukoan di Jl. Patimura Padang selama sepekan. Keuntungan dari hasil penjualan pabukoan itu yang nantinya akan diambil untuk menyantuni anak kurang mampu.
Kegiatan yang sudah berlangsung awal pekan kedua Ramadan itu baru saja usai. Sekarang para anggota IUUKP tidak lagi jual pabukoan namun mengumpulkan masukan lain untuk penambah bantuan.
“Minggu ini kita tengah menyiapkan bantuan lainnya. Namun, dalam minggu terakhir Ramadan kita akan menyerahkan bantuan tersebut,” kata Dody, Ketua IUUKP.
Dalam hal jual pabukoan, anggota IUUKP masih menerapkan konsep seperti tahun lalu. Semua dagangan hasil dari olahan anggota itu sendiri. Mereka menjual dan menyisihkan laba penjualan untuk diserahkan ke panti asuhan.
Sebagai perbandingan, tahun lalu IUUKP berhasil membantu pembangunan Panti Asuhan Anak Mentawai yang bekerja sama dengan pihak ketiga, salah satu pusat pertokoan terbesar di Padang. Program tersebut juga merupakan program lanjutan dari jualan pabukoan.

 

Budaya dan Pariwisata September 2, 2008

Diarsipkan di bawah: By UUKP '08 — iuukp @ 4:54 am

Kota Padang yang kita tempati pada saat ini sebenarnya memiliki potensi yang sangat bagus sekali dan dapat dikembangkan secara optimaLbeberapa sektor yang sangat mendominasi pendapatan kota ini diantaranya seperti sektor Pertanian yang sangat banyak menghasilkan pendapatan kota, dan yang tak kalah pentingnya juga dari sektor Pariwisata. Padang sangat banyak memiiiki tempat atau objek wisata yang menarik tetapi belum terkoordinir dengan baik. Seperti kawasan yang terietak di jalur barat kota ini. Kita masih meiihat sampah yang bisa dikatakan sebagai momok bagi kota ini. Mengapa tidak sudah puluhan kali kota ini merebut piala bergengsi, yaitu piala Adipura.

Sangat disayangkan apabila objek wisata kita menuai kritik yang tak sedap dari para tourist lokal maupun internasionaL Padahal point-point penting yang bagus di penuhi oleh suatu objek wisata itu adalah, Something to see, something to do, something to buy. Apakab pariwisata kita sudah melengkapi dari point-point penting dari suatu pariwisata yang indah???

Kita sebenarnya bisa melakukan perubahan yang significant bagi kota ini. Diantaranya menyadari bahwa sampah-sampah yang dibuang ke sungai ataupun ke laut ataupun dimana-mana akan sangat membahayakan kelangsungan hidup kita dan objek pariwisata kota ini. Banyaknya hal-hal penting yang dilupakan begitu saja oleh masyarakat sendiri tidak hanya menjadi kendala utama tetapi juga pemerintah.  Dalam hal ini pemerinah kota Padang juga terlihat acuh. Padahal apabila kita mengintegrasikan kedua aspek ini tidak mustahil sektor pariwisata kita bisa menjadi andalan kota ini.

Keanekaragaman budaya, masyarakat yang tinggal dan hidup di kota ini semestinya bisa menjadikan Padang sebagai tujuan wisata di Indonesia. Terlebih lagi Provinsi ini masuk dalam lima besar tujuan wisata di Indonesia yang dicanangkan pemerintah dalam Visit Indonesia 2008.  Keunikan dari kota ini dalam ruang lingkup Minangkabau seperti menganut sistem matrilineal yang hanya ada di Minangkabau ini bisa menjadi suatu ikon bagi pengembangan sektor budaya yang erat keterkaitannya dengan pariwisata kita seperti mengkampanyekan slogan periwisata kota padang yaitu Padang Your Motherland.

Jika kita lihat dari segi budaya dan pariwisata sangatlah memungkinkan bagi kota ini untuk lebih mengembangkannya. Apalagi para generasi muda yang merupakan cerminan dari suatu daerah ataupun negara sangat pantas rasanya untuk kita dapat memberikan yang terbaik bagi negara, minimal untuk daerah kita sendiri. Sehingga dengan semangat yang ada pada setiap individu masyarakat dalam memajukan daerahnya, khususnya para generasi muda, sangat tidak mustahil daerah tersebut dapat berkembang dengan baik.
Nah, sekaranglah saatnya pemerintah dan masyarakat padang sendiri untuk lebih jeli mengambangkan dan menyosialisasikan potensi-potensi yang dimiliki kota ini, apakah itu budaya ataupun alamnya sendiri. Sehingga kota ini benar-benar pantas dan mampu untuk berbicara banyak dalam sektor pariwisata, apdakah itu nasiaonal ataupun Internasional.

Oleh Agung Permana Putra-IUUKP Jelas Beda!!